X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Rizky Ardi Nugroho a.k.a. Mizter Popo: Masih Banyak Kejutan di Industri Podcast

By
GetCraft
 •
April 9, 2020
(Dok. Foto: IG Rizky Ardi Nugroho)

Bagaimana teknik memproduksi konten podcast yang baik menurut Mas Rizky?

Secara teknis, semua orang bisa bikin konten podcast dengan tools yang paling sederhana, bahkan dengan handphone sekalipun. Tinggal cara memproduksinya saja yang perlu diperhatikan. Untuk software, saya pakai iZotope RX7 untuk menjernihkan suara, membuang noise atau bersihin backsound. Tapi software lain juga banyak kok.

Sedangkan hardware bisa apa aja sebenernya. Handphone juga udah cukup mumpuni. Tapi kalau mau lebih oke lagi bisa pakai tambahan mic clip on yang harganya cuma kisaran Rp 150ribu. Mungkin bisa dimulai dari situ. Dan kalau mau di-upgrade lagi pilihannya makin banyak dan pastinya makin mahal pula. Tools yang saya pakai sendiri cukup murah. Kalaupun ada yang mahal, semahal-mahalnya paling Rp 1,6juta untuk mic, yang menurut saya kualitasnya udah bagus. Kalau kayak Raditya Dika, mic-nya bisa sampe Rp 8-10juta.

Kebetulan karena pendengar saya juga bukan yang audiophile banget, jadi konten masih lebih penting ketimbang kualitas audio. Bukan berarti kualitas audionya jadi ala kadarnya lho, ya. Kualitasnya tetap bagus kok. Tapi enggak sampai yang wow banget aja.

Baca juga: Tren Podcast 2020

Ada merek tertentu yang Mas Rizky rekomendasikan?

Dari yang paling murah, mic clip on mereknya Boya. Aku sendiri pakai Zoom, tapi yang harganya paling murah, portable mic. Podcaster lain udah pada pakai Zoom H6 yang mahal, tapi saya masih pakai yang di bawah itu. Hahaha. So far masih mumpuni banget buat produksi.

Boya, yang saya rekomendasikan tadi, harganya kisaran Rp 200ribu untuk 2 mic clip on. Affordable, lah. Lalu, kalau ternyata mic-nya enggak cukup, misalnya ada lima orang, diakalin aja pas produksi. Masing-masing cukup pegang voice recorder, dan selebihnya diutak-atik lagi pas editing.

Buat saya, podcast adalah media yang enggak demanding, enggak banyak mau. Dia bisa dibilang enggak perlu duit. Asal kita kreatif, kita bisa kok bikin podcast.

Ada berapa podcast yang Mas Rizky produksi? Bagaimana kamu mengelola alur produksinya?

Pocast horor, cerita usaha yang namanya Pabrik Cerita, ada audio webseries juga, saya juga memproduseri beberapa podcast dari teman-teman. Total ada 5-6 podcast.

Saya udah punya tim, jadi pengelolaannya secara keseluruhan baik-baik aja. Kalau di podcast horor "Do You See What I See?" kan ceritanya dari orang, dari kiriman kontributor. Kendalanya tinggal di editing. Butuh waktu editing yang enggak singkat. Dulu, ngedit rich audio bisa enam jam utnuk satu cerita. Sekarang karena udah terbiasa, udah bisa ngebayangin alur ceritanya bakal kayak gimana dan cara ngeditnya gimana, opening-nya mau pakai apa, jadi tinggal pilih sound effect aja. Saya suka bikin suara kursi lagi ditarik, suara napas, suara langkah kalau jalan di tempat becek, semuanya saya rekam pakai Zoom. Saya suka ngumpulin macam-macam suara ambience buat stok backsound.

Sejauh ini, apa topik paling susah yang pernah Mas Rizky garap?

Saya selalu penasaran sama podcast storytelling. Saya lihat ada beberapa podcast yang bikin semacam radio play, kadang buat saya tidak terkesan natural. Skrip dan aktingnya masih terasa kaku. Terus ambience-nya enggak real. Masih kurang lah pokoknya. Dari situ saya lalu belajar lagi, ngulik lagi, sampai ceritanya bisa lebih hidup. Ternyata nulis skrip bisa dipelajari meski latar belakang saya bukan penulis. Meskipun keliatannya simple banget, cuma sembilan menit, ternyata bikin cerita sembilan menit yang hidup banget tuh bisa sampai tiga hari produksi.

Yang masih belum kesampaian adalah bikin podcast kuliner. Saya penasaran gimana caranya bikin konten kuliner tanpa menunjukkan wujud makanannya seperti apa. Saya kira menarik. Saya masih harus ngulik bagaimana cara ngakalin audio agar bisa merepresentasikan hal-hal visual dengan utuh.

Apa tantangan yang kamu hadapi terus menerus selama memproduksi konten podcast?

Imajinasi. Saya tuh kalau ngedit suka merem. Ngebayanginnya merem. Mikir sendiri, apakah udah pas atau belum, sound effect jump scare enaknya masuk di detik ke berapa, apa pocongnya nongol setelah naratornya ngomong atau berbarengan dengan naratornya ngomong, dan seterusnya. Beda sekian detik aja dampaknya bisa beda banget! Jadi saya imajinasikan dulu. Diem sebentar, merem, sambil cari-cari enaknya gimana.

Mas Rizky ada tips untuk teman-teman yang ingin memulai bikin podcast?

Saya enggak punya tips khusus. Makin banyak podcaster, semakin menggeliat pula industrinya. Ini bisa jadi industri yang sehat. Ketika banyak kreator baru bermunculan, mungkin akan segera timbul upaya monetising, dan implikasinya bisa lebih banyak brand yang aware dengan industri ini. Saya juga seneng banget karena saya pribadi adalah pendengar podcast yang aktif, bahkan dari sebelum saya bikin podcast. Sampai sekarang masih banyak kategori yang kosong, masih belum terisi oleh podcast. Potensinya masih sangat besar.

Saya bakal seneng banget kalau kreator di Indonesia bikin kategori yang belum ada. Mungkin soal traveling, kuliner, cerita misteri (crime story), gitu-gitu, lah. Crime belum banyak. Kumparan udah bikin podcast crime, tapi sampai sekarang baru jalan dua episode dan kayaknya kontennya terlalu berat.

Saya juga sadar kalau industri ini masih belum ada duitnya. Namun begitu, jika makin banyak kreator konten yang muncul dengan keunikan mereka, saya pikir industri podcast bakal maju pesat dalam waktu yang cepat. Masuklah mumpung industri ini masih muda dan masih banyak menyimpan kejutan di dalamnya. Artinya, kesempatannya masih terbuka luas, terlebih karena belum banyak kreator yang terjun ke ranah ini.

Baca juga: Tips Kreatif Membuat Podcast

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Rizky Ardi Nugroho a.k.a. Mizter Popo: Masih Banyak Kejutan di Industri Podcast

By
GetCraft
.
April 9, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Rizky Ardi Nugroho a.k.a. Mizter Popo: Masih Banyak Kejutan di Industri Podcast

By
GetCraft
.
April 9, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya
Tags:

Related articles