X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Rizky Ardi Nugroho a.k.a. Mizter Popo: Bikin Audiens Takut Tuh Enggak Gampang

By
GetCraft
 •
April 9, 2020
(Dok. Foto: IG Rizky Ardi Nugroho - diambil oleh @ricky_jalanjalan)

Bagaimana awalnya terjun ke podcast? Dan kenapa memilih topik horor?

Saya dibantu teman SMA saya, Raditya Dika. Jadi ceritanya dia lagi bikin series tentang paranormal experience. Waktu itu sekitar Juni-Juli 2018, Radit telepon saya. Dia bilang dia ingat pernah nginep di rumah eyang saya di Yogyakarta. Waktu itu dia baru bikin dua vlog, dia sempet nge-vlog pengalaman istrinya dihantui di rumahnya. Dan vlog-nya tiba-tiba rame.

Mungkin dia lihat potensi view-nya [rumah eyang saya] gede, ya? Dia minta saya ke rumahnya saat itu juga untuk ngobrol-ngobrol. Sampai di sana, saya langsung ditodong kamera buat cerita pengalaman di rumah eyang. Ternyata dia juga mengalami hal yang sama. Jadi langsung relate dan kepikiran bagus buat dibikin konten.

Waktu itu cuma cerita aja. Enggak pakai skrip. Selesai cerita tahu-tahu udah sejam lebih. satu jam 15 menit.

Formatnya vlog?

Formatnya vlog, bukan talk show. Sebenernya kayak cerita sama temen tapi direkam. Radit juga bilang kalau dia belum pernah punya konten yang durasinya sampai satu jam. Biasanya di bawah setengah jam. Enggak pake diedit, malem itu juga langsung di-upload dan langsung trending. Kaget juga. Dari situ saya jadi penasaran, kenapa orang mau aja mantengin denger cerita sampai satu jam. Total viewer-nya sampai sekarang udah >7 juta. Lumayan banget buat cerita horor.

Di hari itu juga, Radit ditelepon PH-nya dan mereka tertarik sama ceritanya, viral pula. Mereka nanya boleh enggak kalau dibikin film. Besoknya saya deal dengan PH itu. Sampai sekarang belum kejadian sih filmnya. Tapi ceritanya udah dibeli mereka.

Radit lalu tanya lagi, "cerita lo bisa dikembangin lagi, enggak?"

Berhubung yang pernah ngerasain 'penunggu' di rumah eyang saya banyak, enggak cuma saya sama Radit doang yang punya pengalaman mistis, akhirnya kami bikin lima seri dari cerita itu.

Akhirnya cerita itu diolah lebih lanjut lewat pandangan orang-orang yang berbeda?

Iya. Sampai akhirnya jadi series rumah eyang. Nah, berangkat dari situ, karena yang nonton sampai nembus jutaan, saya makin penasaran. Saya beneran belum pernah mengalami hal seperti ini. Saya juga jadi dikenal orang-orang. Followers saya dari yang tadinya seribuan tiba-tiba jadi seratusan ribu. Ya pasti pengaruh dari Radit juga, sih.

Berapa lama prosesnya?

Seminggu, bahkan enggak sampai. Followers saya jadi gila-gilaan. Tapi ada satu kejadian lucu waktu saya posting foto bareng Jokowi waktu acara reuni UGM. Waktu itu lagi panas-panasnya momen pilpres. Eh, terus followers saya hilang 35ribu. Cuma gara-gara foto sama Jokowi! Banyak komentar, "ternyata elo cebong bla bla bla...", padahal saya nonpartisan. Saya enggak milih. Hahaha. Akhirnya followers saya sekarang di angka 90ribuan.

Singkat cerita, semua orang masih penasaran sama cerita itu. Saya selalu diteror. Ternyata audiens senang dengan gaya bercerita saya. Terus Radit ngasih challenge lagi ke saya. Karena saya udah berhasil bawa traffic, saya harus bisa bikin sesuatu yang lebih dari ini. Saya disuruh bikin YouTube.

Saya enggak mau, lah. Ribet bener bikin YouTube. Apalagi saya bukan kreator konten. Belum pernah terbesit di pikiran saya untuk bikin konten YouTube.

Memangnya apa latar belakang Mas Rizky?

Saya wirausaha, agri bisnis. Saya produsen beras organik. Dari dulu saya udah wirausaha, jadi sama sekali enggak ada hubungannya sama semua ini. Enggak pernah kepikiran untuk bikin konten horor. Saya sendiri sebenernya cukup risih dengan stempel horor. Soalnya saya mikir, kalau saya punya banyak follower, saya harus bisa kasih sesuatu buat mereka.

Saya sempat bikin cerita tentang wirausaha dengan format podcast. Kenapa podcast? Karena gampang bikinnya. Hahaha. Ada aplikasi rekanan spotify yang gratis (Anchor). Waktu itu saya lihat belum ada kreator yang main di podcast. Masih kosong.

Untuk masuk ke area podcast juga murah dan mudah. Enggak perlu punya alat yang gimana banget, handphone aja cukup. Lalu bikinlah cerita usaha. Setelah jalan beberapa saat, ternyata yang dengerin enggak terlalu banyak. Saya kira mungkin banyak orang yang masih enggak familiar dengan podcast. Akhirnya saya promosiin kalau saya punya konten ini. Tapi lagi-lagi, mungkin enggak banyak yang tertarik juga sama cerita soal wirausaha.

Bagaimana cara Mas Rizky mempromosikannya?

Instagram sama twitter. Follower saya banyak di situ. Lalu saya bikin podcast kedua, bantuin ustaz bikin konten religi. Buset yang denger enggak sampai 100 orang. Hahaha. Kayaknya orang-orang belum paham, dan topiknya kurang jelas, plus orang-orang belum tahu tentang podcast. Soalnya banyak juga yang protes, "kenapa enggak bikin YouTube aja?"

Karena ditodong terus, ya udah, akhirnya saya bikin podcast horror aja, lah. Saya bikinnya cuma sehari. Enggak pakai planning apa-apa atau gimana. Bikin pakai handphone. Kasih logo bergambar mata satu, kasih titel "Do You See What I See?", terus saya rilis.

Baca juga: Tren Podcast 2020

Kepikiran titel "Do You See What I See?" itu juga di hari yang sama?

Iya. Cuma kayak gitu doang, Saya enggak cari inspirasi apa-apa. "Do You See What I See?" adalah satu nama yang keluar begitu saja waktu itu. Saya cuma mau cerita tentang apa yang saya lihat, dan agar orang lain bisa merasakan apa yang saya lihat. Udah. Konsepnya cuma itu. Begitu rilis, enam hari jadi trending di Spotify, dan permintaan orang untuk cerita jadi membludak.

Ada yang ngirim pesan, "gue mau ikutan cerita juga dong," padahal awalnya saya bikin enggak mau pakai kurasi. Tapi yaudah, mungkin ada banyak yang pingin nyumbang cerita. Tiba-tiba cerita yang masuk jadi banyak banget.

Lalu bagaimana Mas Rizky mengkurasi?

Saya biarkan orang bercerita sesuai aturan saya. Misal orang mengenal saya, let's say, dalam sisi agama, dan saya berdiri di jalur itu. Jadi kalau ceritanya nyerempet-nyerempet ke agama, saya batasi langsung. Enggak boleh menceritakan hal-hal yang sifatnya syirik, atau cerita mimpi, atau cerita klenik. Kalau misalnya ada yang cerita soal dukun, saya bakal sensor, atau bahkan enggak tayang sama sekali. Jadi, saya kasih panduan apa saja yang boleh dan apa yang tidak. Selanjutnya tinggal mengacu ke situ aja.

Orang-orang ini mengirimkan ceritanya sudah dalam format rekaman, atau masih dalam format tulisan?

Rekaman. Rekaman mereka sendiri, jadi kualitas audionya cenderung variatif. Jadi challenge lagi buat saya untuk memperbaiki kualitas rekaman mereka. Prinsipnya sama seperti penerbit buku. Kalau ada cerita masuk, saya harus edit, harus sensor, harus tata ulang ceritany sampai bener. Begitu lolos tahap itu, saya edit backsound dan sound effect, baru publis. Prosesnya memang cukup lama dan panjang.

Kadang mereka protes, "kok cerita gue dipotong-potong,". dan yang di-take down juga banyak yang marah. Itu sebabnya saya bikin aturan yang jelas dari awal.

Pernah, enggak, cerita Mas Rizky dianggap bohongan?

Sering. Hahaha. Di aturan saya juga tertulis kalau "cerita yang ada adalah cerita sesungguhnya, true story," karena Itu jualan saya. Saya berharap orang-orang beneran cerita pengalaman pribadi, terlepas dari itu asli apa enggak. Karena pada akhirnya saya enggak bisa jamin. Lagipula, bikin cerita bohongan yang menakutkan itu susah, lho. Bikin cerita cinta mungkin relatif lebih gampang. Tapi buat saya, bikin cerita horor yang punya suspens dan yang bikin takut itu susah. Jauh lebih susah,

Sekarang saya lagi nulis draf cerita radio play horor. Sekalipun saya sering denger cerita horor, ternyata meramu sebuah cerita horor fiktif enggak segampang itu juga. Misal, saya bikin adegan ada pocong nongol pas pintu dibuka. Ya terus? Takutnya di mana?

Bikin audiens takut sama cerita kita itu ternyata memang enggak gampang. Jadi, sebenernya sederhana aja untuk mendefinisikan apakah itu true story atau bukan. Toh pengalaman orang beda-beda. Saya malah jadi curiga kalau ada premis cerita yang lengkap. Artinya, seringkali cerita horor itu cuma penampakan sekilas, atau apa deh yang berlangsung dengan cepat. Nah, meramu kelebatan-kelebatan peristiwa seperti itu dan membuatnya jadi menakutkan ternyata ya susah. Setidaknya buat saya.

Di sini kemampuan orang untuk bercerita diuji. Objek cerita horor [lokal] seringnya ya pocong lagi, ya kuntilanak lagi, ngebosenin. Tapi dengan kemampuan bercerita, atau teknik storytelling yang apik, ceritanya bisa tetap unik. Maka balik lagi, kalau ditanya ceritanya beneran atau bohongan, ketahuilah kalau bikin cerita horor bohongan itu susah banget. Enggak ada yang bisa jamin. Namanya juga cerita~

Apa Mas Rizky juga ikut menambahkan efek-efek suara dalam proses penyuntingan?

Iya. Saya kasih suara statis, vinyl scratch, saya menambahkan suara-suara itu. Tapi kadang untuk cerita yang dari premisnya aja udah serem banget, saya enggak perlu ngedit apa-apa. Justru ketika ceritanya kuat, saya lebih sering kosongin. Baru nanti di bagian klimaks disentil sedikit sama suara drone.

Kadang saya rekam napas saya, terus saya lihat orang-orang kaget sampai ngelempar handphone mereka; atau saya ngerekam suara saya ngetok pintu, tapi saya kasih efek panning yang jauh di sebelah kiri dan kasih efek echo. Sepengetahuan saya, banyak pendengar yang letak pintunya di sebelah kiri, termasuk temen-temen saya sendiri. Jadi begitu efek itu muncul, mereka refleks nengok sendiri. Hahaha.

Saya melakukan semua itu secara otodidak aja. Pas awal-awal belajar masih goblok, sih. Soalnya beda sama cerita usaha yang enggak perlu backsound. Sedangkan kalau cerita horor punya mekanisme editing yang lebih kompleks. Kebetulan sekarang saya sudah punya tim dan mereka profesional.

Saya dan tim saya enggak ada yang pernah serius mendalami horor. Tapi makin lama kami jalan, teknis dan imajinasi kami jadi ikut makin liar. Tiba-tiba ada suara air terjun, suara hutan di malam hari, suara irisan, langkah, sekarang komponen sound-nya jadi lebih kaya. Meskipun saya juga tahu pendengar bakal bosen kalau dikasih hasil yang quality-nya oke banget. Jadi kadang tetep saya kosongin. Saya kasih editing yang lebih sederhana. Kombinasi, lah. Selang-seling.

Baca juga: Sejarah, Perkembangan, dan Penulisan Naskah Podcast

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Rizky Ardi Nugroho a.k.a. Mizter Popo: Bikin Audiens Takut Tuh Enggak Gampang

By
GetCraft
.
April 9, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Rizky Ardi Nugroho a.k.a. Mizter Popo: Bikin Audiens Takut Tuh Enggak Gampang

By
GetCraft
.
April 9, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya
Tags:

Related articles