X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Riri Riza: Peran Kritikus Film dalam Menciptakan Budaya Sinema

By
GetCraft
 •
April 8, 2020
(Dok. Foto: Riri Riza)

Bagaimana Mas Riri memandang peran kritikus film di Indonesia?

Saya melihat peran yang begitu besar dari kritikus film, terutama dalam proses saya sendiri saat mempelajari film. Sebagai pembuat film yang mulainya dari sekolah, saya memperhatikan bagaimana dulu saya belajar tentang medium ini, kemudian apa saja yang menarik dari karya seorang sutradara; apa saja yang membuat sebuah karya mampu menjadi sebuah gerakan, termasuk identitas sinema, saya belajar itu semua dari membaca kritik.

Maka, peran atau kehadiran kritikus film menjadi sangat penting buat saya pribadi. Apalagi ketika saya sudah jadi pembuat film. Beberapa film saya yang berpartisipasi di festival-festival film adalah hasil rekomendasi dari konsultan festival yang kebanyakan adalah kritikus film.

Banyak kritikus film yang menjadi konsultan, juri, atau programmer. Ada semacam jalur. Contohnya kritikus Donald Richie yang banyak menulis tentang karya-karya sutradara Yasujirō Ozu. Selain mengkritik film-filmnya Ozu, Donald juga mengumpulkan dan mengidentifikasi gagasan dari sejumlah karya Ozu yang baginya unik. Ketelatenan dia menulis dan melahirkan sebuah studi yang elaboratif membuat tulisannya banyak drujuk oleh para pemerhati film, termasuk banyak penggemar Ozu sendiri.

Saya pikir, dari situ saya bisa simpulkan, bahwa kritikus ialah elemen penting untuk menciptakan sebuah sinema. Menciptakan budaya atau identitas sinema di sebuah tempat, sebuah bangsa, sebuah lingkungan, atau komunitas, adalah peran yang sangat penting. Mereka mencatat banyak hal, dari mulai kekurangan, kelebihan, bahkan kecenderungan budaya sinema di masa mendatang. Jadi, dengan kata lain, mereka merekam jejak peristiwa kebudayaan sinema.

Baca juga: Sekilas tentang Restorasi dan Preservasi Film

Seperti apa kritikus film yang baik bagi Mas Riri? Dan bagaimana dengan kritikus film di Indonesia? Apakah mereka sudah berperan seperti apa yang Mas Riri jelaskan?

Ini menarik. Sebenarnya cukup sulit menilai apakah kritikus film sudah berperan dengan baik atau tidak. Sama halnya seperti kita menilai film Indonesia itu sendiri.

Film secara umum beragam, punya varian layer serta bermacam kemungkinan. Di Indonesia, dunia kritik film masih berada di wilayah yang barangkali agak sulit dijamah. Saya tidak melihat kritikus film di sini sudah berhasil membuat atau memberi sebuah kontribusi pada proses indentifikasi yang mudah untuk film Indonesia. Tentu sudah ada yang menulis perihal fase-fase film Indonesia. Kita bisa baca tulisan Salim Said atau tulisan JB Kristanto yang pada akhirnya dibukukan, termasuk kelompok penulis yang usianya relatif lebih muda seperti Rumah Film, Cinema Poetica, tapi bisa dibayangkan bahwa peran meraka masih dalam tingkat eksklusif dan berputar di dunia film kita sendiri saja.

Saya ragu teman-teman di wilayah yang lebih jauh bisa melakukan sebuah studi, atau bahkan memiliki akses terhadap kajian itu untuk selanjutnya dijadikan bahan studi dan perbandingan. Margin of error-nya pasti ada. Beberapa kali saya datang ke kampus untuk berdiskusi, jarang sekali tulisan kritikus film Indonesia yang dijadikan rujukan. Ketika saya menguji di IKJ (Institut Kesenian Jakarta) misalnya, jarang sekali saya menemukan mahasiswa yang di dalam skripsinya menyadur pernyataan dari kritikus film Indonesia, atau tentang film Indonesia pada umumnya.

Jadi, mungkin kalau saya bisa mengingat beberapa ungkapan tentang film Indonesia, saya rasa publik umum belum punya akses yang mudah gitu, ya. Misalnya, di surat kabar mingguan yang punya akses terhadap penonton, seperti kompas yang menulis tentang film di setengah halamannya. Tulisannya masih ditulis oleh redaktur kompas yang sebenarnya bukan kritikus film. Ia menulis seni secara umum. Tidak hanya film, tapi juga seni rupa dan sastra. Ia jadi tidak bisa disebut sebagai kritikus film karena belum memproduksi tulisan mengenai film yang cukup konsisten..

Baca juga: Dimas Djayadiningrat: Iklan, Video Klip, dan Film

Lalu seperti apa relasi antara pembuat film dan kritikus?

Saya kenal secara pribadi sejumlah kritikus. Bagi saya, karena pada dasarnya kami saling berteman, kalau ketemu ya kami ngobrolin hal lain. Tidak selalu tentang film. Jarang sekali ada forum yang secara serius mendiskusikan cara pandang kami satu sama lain.

Namun begitu, saya pikir hubungannya baik-baik aja. Apakah mereka bisa dibilang menyumbang, atau bahkan meningkatkan kreativitas kita, atau menjadi wadah refleksi kita? Tidak juga, sih. Lebih banyak orang film ngambek sama ungkapan penonton atau warganet yang berkomentar di media sosial.

Saya pernah bilang kalau Indonesia tidak memiliki kritikus film yang melembaga. Artinya, kritikus film yang kita tunggu tulisannya tiap bulan, yang kita nantikan perspektifnya. Kalau di AS kan pernah ada alm. Pauline Kael, atau alm. Roger Ebert yang konsisten mencatat seluk-beluk industri film AS. Tulisan-tulisan mereka selalu ditunggu penikmat film.

Saya rasa di Indonesia sudah ada penulis-penulis seperti ini. Saat saya baca tulisan Hikmat Darmawan, atau tulisan Adrian Jonathan, mereka punya sikap dalam tulisannya. Kadang tulisannya cenderung bersifat akademik, kali lain berupa refleksi terhadap pandangan pribadi, namun setidaknya mereka konsisten dalam menulis. Ini kan menarik. Tapi masalahnya lagi-lagi aksesibilitas. Di mana kita bisa baca tulisan-tulisan mereka? Kapan publik bisa berdiskusi film dengan mereka?

Ketika saya mendiskusikan film saya di Kinosaurus (ruang pemutaran alternatif di bilangan Kemang), saya tidak merasa mereka pernah hadir, saya tidak merasa mereka terlibat dalam diskusi-diskusi itu. Tulisan-tulisan mereka sebenarnya sangat personal, dan menurut saya kritiknya disampaikan dalam sebuah editorial yang menarik. Akan lebih menarik jika tulisan-tulisan mereka bisa dimuat di halaman surat kabar hari minggu, atau muncul di majalah bulanan, yang kemudian bisa kita akses dengan lebih mudah. Tapi sayangnya tidak demikian.

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Riri Riza: Peran Kritikus Film dalam Menciptakan Budaya Sinema

By
GetCraft
.
April 8, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Riri Riza: Peran Kritikus Film dalam Menciptakan Budaya Sinema

By
GetCraft
.
April 8, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya

Related articles