X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Sekilas tentang Restorasi dan Preservasi Film

By
Pandji Putranda
 •
March 12, 2020

Praktik restorasi film seringkali disalahartikan sebagai proses digitalisasi: tinggal  mengubah format asli dari pita seluloid ke format digital berkualitas ala kadarnya, dan… voila! Restorasi sudah paripurna~

Upaya restorasi tidak serta merta berkelindan dengan digitalisasi. Karena esensi dari restorasi adalah memperbaiki, mengembalikan sedekat mungkin ke bentuk aslinya, yang dalam hal ini berarti format 35mm. Meski memang proses restorasi biasanya dilanjutkan dengan langkah digitalisasi untuk keperluan pengarsipan.

Beberapa contoh film Indonesia yang pernah direstorasi adalah Darah dan Doa (The Long March, 1950), Lewat Djam Malam (After the Curfew, 1954), dan Tiga Dara (1957). Ketiganya merupakan buah karya maestro perfilman Usmar Ismail.

Film yang terakhir disebut membutuhkan waktu selama 17 bulan untuk direstorasi ke dalam format resolusi 4K, sebelum akhirnya diputar ulang di bioskop-bioskop nasional pada pertengahan 2016 silam.

Yang perlu diketahui adalah bahwa praktik restorasi merupakan proses advanced, maka dibutuhkan observasi secara cermat. Sebab selain bertujuan untuk meresureksi “jenazah” film lawas, praktik ini juga punya agenda komersial. Tidak sedikit lembaga restorasi yang cari untung lewat memutar ulang hasil restorasi sebuah film.

Sekilas tentang Restorasi dan Preservasi Film
Film Tiga Dara (Dok. SA Films)

Dalam konteks restorasi, ada dua pertanyaan yang kerap muncul:

Pertama, jika sebuah film direstorasi dan ada elemen-elemen tertentu yang diubah (warna misalnya), bagaimana pengaruhnya terhadap pandangan penonton?

Kedua, apakah praktik ini bisa dianggap sebagai bentuk penyimpangan/pengkhianatan terhadap orisinalitas karya?

Lembaga internasional Federation of Film Archives (FIAF) pernah mengeluarkan kode etik perihal restorasi yang kurang lebih berbunyi “[…] tidak mendistorsi ataupun mengubah materi asli karya yang direstorasi.

Lembaga lain, Association of Moving Image Archivists (AMIA), juga menyuarakan hal yang kurang lebih senada. Mereka menganjurkan para praktisi restorasi untuk “[…] mengembalikan dan memelihara artefak tanpa mengalternasi materi-materi asli dengan cara apapun.

Tapi… Enggak akan ada habisnya kalau kita ikut terjebak mempermasalahkan orisinalitas. Seandainya format asli film berada dalam kondisi mengenaskan dan mustahil untuk ditonton, tentu upaya restorasi menjadi prioritas utama. Pun sebaliknya, akan sia-sia jika proses restorasi justru malah memperparah (atau bahkan merusak) materi yang asli.

Sekilas tentang Restorasi dan Preservasi Film
Sebelum Restorasi (Dok. Buku: Lewat Djam Malam Diselamatkan)
Sekilas tentang Restorasi dan Preservasi Film
Setelah Restorasi (Dok. Buku: Lewat Djam Malam Diselamatkan)
Sekilas tentang Restorasi dan Preservasi Film
Sebelum Restorasi (Dok. Buku: Lewat Djam Malam Diselamatkan)
Sekilas tentang Restorasi dan Preservasi Film
Setelah Restorasi (Dok. Buku: Lewat Djam Malam Diselamatkan)

Preservasi

Berkebalikan dengan restorasi, praktik preservasi adalah proses pasif, seperti halnya pengarsipan. Praktik ini enggak butuh banyak observasi teknis film karena lebih mengutamakan metode formulaik yang terukur secara pasti, seperti: temperatur/kelembapan ruang penyimpanan film, kalkulasi kuantitas/kualitas duplikasi, sampai urusan hak cipta.

Inisiatif preservasi yang baik otomatis akan memperpanjang usia film. Jika disimpan secara baik dan tepat, kondisi film dapat terus prima untuk rentang waktu yang lama, sehingga mencegah munculnya keterdesakan untuk proses restorasi.

Kalaupun ada, alasannya bukan karena faktor kerusakan/cacat medium. Tapi lebih kepada faktor estetis, seperti pewarnaan ulang atau peningkatan resolusi. Contoh paling baru bisa kita temukan di salah satu serial Netflix, Greatest Events of WWII in Colour yang diambil dari kumpulan footage perang dunia ke-2.

praktik restorasi merupakan proses advanced, maka dibutuhkan observasi secara cermat.
Sekilas tentang Restorasi dan Preservasi Film
(Dok. Netflix)

Kaidah preservasi juga mengacu pada dua hal:

Pertama, kita wajib menghormati wujud fisik film, termasuk saat menyimpan dan melipatgandakan, agar hasil akhirnya tetap akurat.

Kedua, peran filmmaker untuk menentukan metode penyimpanan/pengarsipan karya filmnya.

Dengan demikian, praktik restorasi maupun preservasi sama-sama penting dan krusial untuk dipahami oleh para pekerja film. Sayangnya, studi tentang dua subjek ini hampir terpinggirkan dari kurikulum dasar pendidikan film populer. Dari lima pilar perfilman: produksi, distribusi, ekshibisi, literasi, restorasi/preservasi, dua pilar terakhir agaknya punya tantangan yang lebih rumit dalam semesta perfilman Indonesia.

Sekilas tentang Restorasi dan Preservasi Film

By
Pandji Putranda
.
March 12, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Sekilas tentang Restorasi dan Preservasi Film

By
Pandji Putranda
.
March 12, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials
Tags:

Related articles

No items found.