X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Resep Membunuh Franchise Film Favorit ala Star Wars

By
MLR
 •
October 9, 2020

Alkisah, zaman dahulu kala di sebuah galaksi yang enggak terlalu jauh, film sekuel, spin-off dan reboot masih menjadi angan-angan belaka. Sekalipun ada, jumlahnya masih sedikit. Di masa itu, film hanyalah terdiri dari satu cerita yang habis sekali tonton. Tidak ada film-film yang membahas satu dunia sama atau film yang bersumber dari serangkaian buku. Film hanya terfokus pada satu karakter, sebuah tujuan, satu atau dua tantangan yang harus dihadapi, kemudian setiap tokohnya hidup bahagia selamanya. Di masa sekarang, jika kamu ingin melihat film seperti itu, kamu akan menemukannya di Sundace Film Festival.

Sekarang, lebih sering daripada dua dekade sebelumnya, industri film memerah waralaba seri dari berbagai sumber yang telah ada. Kalau di belahan barat dunia musim panas sejatinya adalah waktu untuk nongkrong di pantai, sekarang waktu tersebut merupakan saat yang paling tepat untuk menonton Robert Downey Jr. menghidupkan karakter Tony Stark, seorang bajingann menawan yang kita kenal dan cintai di bioskop.  

Sama seperti franchise restoran pada umumnya, waralaba film ini punya berbagai versi, banyak cabang, dan bersifat instan. Kemudian, layaknya ketika kamu BM mau makan hidangan cepat saji, terkadang menyantap sepuluh potong ayam dalam sekali duduk rasanya nikmat banget. Namun setelah tuntas kegiatan tersebut, sebagian waktu setelahnya cuma diisi dengan rasa penyesalan, ritual membenci diri sendiri, serta mempertanyakan semua pilihan hidup yang telah kamu ambil. Pada dasarnya kamu telah mengisi perut kamu dengan makanan yang tak sehat, mengandung daging artifisial, terlalu mengandalkan banyak bumbu dan roti basah yang hampir enggak bisa diandalkan untuk menyatukan semua bahan menjadi makanan yang memuaskan.

Kira-kira begitulah rasanya menonton film waralaba. Walau tak semua waralaba film buruk, jumlah film yang memuaskan seperti habis menikmati hidangan mewah jumlahnya sangat sedikit. Gampang banget membelokkan sebuah waralaba film ke jurang. Kasusnya sudah sangat sering terjadi sehingga membentuk pola yang mudah dilihat. Contohnya? Trilogi sekuel dari waralaba film Star Wars.

Baca juga: Rekomendasi Serial Anime Netflix!

Enggak ada satu orangpun yang senang puas dengan trologi ketiga film Star Wars ini. Tentu aja, ada beberapa golongan yang mengatakan terhibur menonton film ini dan beberapa lainnya bisa dikatakan membenci film ini. Walau hal-hal yang membuat sebuah film bagus itu subyektif, ada dua pernyataan yang bisa disetujui oleh semua yang telah menonton film ini: ketertarikan masyarakat terhadap film Star Wars secara menyeluruh sedang dalam level yang paling rendah dan meskipun ada beberapa momen baik, adegan-adegan tersebut ditangani secara buruk.  

Salah satu alasan utama mengapa Star Wars berada dalam kondisi mengenaskan seperti sekarang bersumber pada fans berat seri ini. Berbeda dari kebanyakan kasus di mana fans fanatik sebuah seri setia memberikan cinta mereka, tampaknya fans berat seri ini malah membenci trilogi sekuel Star Wars. Kebencian itu bukannya tanpa landasan. Kebencian yang muncul dari fans fanatik bersumber pada penanganan J. J Abrams dan Rian Johnson atas Star Wars.

Ada banyak kesalahan yang dibuat oleh J. J. Abrams dan Rian Johnson sebagai duo sutradara dalam membuat seri trilogi sekuel. Bisa dibilang keduanya turut bertanggung jawab membunuh seri waralaba Star Wars dengan keputusan-keputusan keduanya. Jadi bagaimana cara J. J. Abrams dan Rian Johnson perlahan membunuh waralaba film fiksi ilmiah yang pernah membuat hampir satu generasi jatuh cinta terhadapnya? Begini resepnya:

Star Wars: The Rise of Skywalker

Buatlah cerita sekuel yang buruk

Cara paling mudah membuat Star Wars, seri yang dicintai banyak orang pada masanya menjadi sesuatu yang patut dibenci adalah dengan membuat cerita sekuel yang hanya melayani kebutuhan penikmat film kasual. Artinya, film tersebut dibuat bukan untuk fans setia Star Wars yang telah ada sebelumnya. Kedengarannya enggak masuk akal, bukan? Apalagi mengingat film sekuel ini dibintangi nama-nama artis besar yang telah membintangi Star Wars versi original.

Pilihan turut mengikutsertakan aktor dan aktris dari Star Wars versi original seperti tokoh Han Solo, Putri Leia, dan Luke Skywalker harusnya jadi langkah memberikan fanservice bagi penggemar fanatik seri ini. Kenyataannya, bukan itu tujuan mereka. Sutradara seri ini justru tampak tidak ambil peduli dengan penggemar seri tersebut dan kelanjutan seri Star Wars original.

Terdapat dua filosofi berbeda yang dianut oleh Abrams dan Johnson, keduanya sama-sama tidak memuaskan bagi para fans setia Star Wars. Di satu sisi, Abrams memiliki strategi yang buruk dengan mencontoh formula yang telah diceritakan sebelumnya di trilogi original tanpa adanya perubahan apapun dalam film The Force Awakens. Sekalipun langkah yang dilakukan oleh Abrams baik untuk nostalgia, namun dari segi kelanjutan cerita, Abrams tidak menawarkan sesuatu yang baru.

Abrams hanya berkutat pada memberikan narasi sekelompok pemberontak yang melawan kekaisaran bejat. Karakter-karakter lama tidak dibiarkan memiliki perubahan dari versi aslinya; Han Solo tetap bajingan yang nasibnya selalu ampas ketika berhubungan dengan penjahat jalanan; Leia tetap seorang putri galaksi antah berantah yang berusaha sekuat tenaga menghalangi Empire versi reboot, dan lain sebagainya. Padahal menurut cerita, versi original dan sekuel terpaut 20 tahun. Bukankah dalam kurun waktu tersebut seharusnya ada perkembangan pandangan dan pendapat?

Di sisi lainnya, ada Rian Johnson. Sutradara yang menggarap The Last Jedi, film kedua dalam trilogi sekuel Star Wars ini, malah mengubah karakter Luke Skywalker hingga tak lagi bisa dikenali oleh para fans. Perubahan karakter Luke yang drastis ini sampai membuat Mark Hamill sempat mengungkapkan perbedaan pendapatnya dengan Rian Johnson, sutradara film kedua dari trilogi sekuel Star Wars seperti yang ditulis oleh Ethan Anderton untuk Slashfilm. Mark Hamill sempat berada dalam titik tidak setuju dengan setiap keputusan yang diambil oleh sutradara tersebut ketika menangani karakter Luke Skywalker. Walau demikian, Mark Hamill tetap berusaha memberikan penampilan terbaik sesuai dengan visi Rian Johnson.

Bandingkan dengan keputusaan George Lucas dalam membuat seri trilogi pertama dan kedua. Walau banyak fans sebal dengan jeleknya alur cerita trilogi prekuel Star Wars, keputusan George Lucas perlu dipuji. Dalam pembuatan trilogi prekuel, ia tidak menjiplak pola cerita trilogi original. Alih-alih menyontek formula sekelompok pemberontak kecil melawan kekaisaran besar, di film prekuel George Lucas menceritakan bagaimana kelompok penjahat menebarkan tipu muslihatnya hingga berhasil mengambil alih seluruh galaksi. Ia bahkan memberikan porsi cerita yang lebih besar pada Obi-Wan Kenobi, tokoh yang muncul hanya sepertiga durasi film pertama di trilogy original, di trilogi prekuelnya.

Walau tentunya siapapun yang membuat cerita sekuel ingin menampilkan karakter baru, dalam pembuatan sekuel yang baik, seseorang haruslah bisa menakar perkembangan yang tepat dari cerita aslinya. Kalau benar-benar ingin berfokus pada karakter baru, kenapa tidak sekalian saja membuat film sendiri tanpa harus melibatkan karakter kesayangan di masa lalu?

Ubah dunia yang semula mengasyikan jadi membosankan

Anggap saja tidak adanya atau adanya perubahan karakter hingga ke taraf ekstrim belum tentu membuat sebuah seri waralaba film buruk. Toh dalam sebuah film fiksi ilmiah, dunia alternatif yang dibangun selalu menjadi daya tarik film-film tipe seperti ini. Masalahnya, di film sekuel Star Wars seperti tidak dipikirkan secara matang. Ambil contoh teknologi First Order yang ditampilkan di trilogi sekuel ini.

Dalam sebuah adegan nampak Stromtropper memakai kendaraan motor dengan ban yang biasa digunakan tank untuk mengejar Rey, Finn, dan Poe di area gurun berbatu. Adegan ini menjadi tak masuk akal dengan standar teknologi yang telah sebelumnya ditampilkan di trilogi pertama dan kedua. Malahan tampak selangkah mundur ke belakang jika dibandingkan dengan mobil terbang yang pernah dikendarai oleh Obi-Wan Kenobi dan Luke Skywalker di A New Hope.

Bandingkan dengan world building garapan George Lucas di trilogi pertama dan kedua. Ambil contoh teknologi tangan robotik. Di trilogi film pertama, Luke Skywalker yang kehilangan tangan akibat pertempurannya dengan Darth Vader mendapatkan tangan prostetik robot yang mirip dengan asli. Di trilogi prekuel, Anakin Skywalker yang tangannya juga menjadi korban pertempuran satu lawan satu melawan kubu Count Dooku mendapatkan pengganti tangan berbentuk tengkorak, kalah maju dibanding film pertama. Ini menandakan dunia yang ditinggali Luke dan Anakin Skywalker adalah dunia yang mirip dengan dunia kita; punya perkembangan teknologi dan inovasi; dunia yang dapat dipercaya eksis di luar sana.

World building yang baik dalam sebuah cerita fiksi sains atau fantasi bisa membuat para penggemar ingin hidup di dunia alternatif. Untuk mengeksekusi world building yang baik, seseorang tak perlu menampilkan seluruh kejadian di layar. Walau demikian, sesuatu yang tak pernah ada di layar tersebut punya pengaruh terhadap cerita yang ditampilkan. Itulah yang membuat cerita-cerita seperti Star Wars garapan George Lucas menarik perhatian banyak orang.

Baca juga: Melihat Animasi-animasi Satoshi Kon

Pantang Selaraskan Visi Kreatif antar sesama kolega

Selain mengacak-acak struktur cerita yang telah dijalin sebelumnya dan membuat kegiatan world building jadi membosankan, cara membunuh waralaba film lain yang harus dilakukan adalah pantang menyelaraskan visi kreatif antar sesama pekerja kreatif. Ini yang terjadi dalam versi trilogi sekuel Star Wars.

Beda cara penanganan Abrams dan Rian Johnson yang dilatar belakangi perbedaan visi kreatif ini menciptakan banyak pertanyaan dan resolusi maksa. Abrams dengan segala hormatnya terhadap warisan dunia George Lucas ingin meneruskan karakterisasi tokoh asli. Sementara itu, Rian Johnson ingin membuat sesuatu yang baru dengan menghancurkan semua yang sudah dibangun George Lucas di keenam film sebelumnya. Contoh perbedaan visi ini paling terasa di perubahan karakter Luke Skywalker.

Saat Abrams yang menyutradarai film pertama dan ketiga dari trilogi sekuel, karakter Luke Skywalker tampak mirip dengan Luke yang dikenal di versi asli; optimis dan selalu melihat kebaikan di setiap orang. Ketika Rian Johnson yang mengambil alih, Luke menjadi orang yang berbeda; ia pemabuk, penyendiri, pesimis, dan pemarah. Alhasil, trilogi sekuel ini kehilangan konsistensi dan lebih banyak menghasilkan pertanyaan akibat banyak hal yang tak masuk akal ditampilkan di layar.

Masalah visi yang tak sejalan juga tercermin dalam cerita masa lalu Rey dan munculnya Palpatine. Di film pertama trilogi sekuel, Abrams jelas punya rencana terhadap masa lalu Rey. Ketika penyutradaraan beralih, Johnson langsung membunuh Snoke, tokoh antagonis di film tersebut dalam 1/3 durasi film dan mengubah kemisteriusan masa lalu Rey dan mengatakan jika orang tua Rey adalah orang biasa yang membuangnya di planet Jakku. Begitu Abrams kembali memegang kendali sutradara dan akibat rasa tak sukanya terhadap arahan Johnson, ia lantas menghidupkan kembali Palpatine, tokoh antagonis di kedua trilogi awal yang dibunuh oleh Luke Skywalker, dan membuat Rey sebagai cucu Palpatine. Sungguh cerita yang tak masuk akal dan mengada-ngada bukan?

Tak semua waralaba film buruk. Namun ketika jatuh ke kendali seorang sutradara yang tak benar-benar mengenal waralaba itu sendiri, abai terhadap penggemar setia waralaba, dan tidak berupaya mengembangkan dunia yang telah terbangun, hasilnya adalah trilogi sekuel Star Wars; sebuah waralaba yang mati dan mengecewakan beberapa generasi sekaligus.

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Resep Membunuh Franchise Film Favorit ala Star Wars

By
MLR
.
October 9, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Resep Membunuh Franchise Film Favorit ala Star Wars

By
MLR
.
October 9, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya

Related articles