X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Regulasi dan Etika bagi Influencer

By
GetCraft
 •
July 16, 2020

Ada banyak keuntungan yang bisa diraih lewat influencer marketing, apalagi jika kamu adalah seorang influencer dengan basis pengikut yang cocok dengan salah satu perusahaan tertentu. Namun, terlepas dari hal-hal menyenangkan dan keseruan yang bisa kamu lakukan sebagai influencer, basis kerja yang membawahi seorang influencer lumayan pelik jika dipandang dari perspektif legal (hukum).

Influencer marketing kerap berada dalam wilayah abu-abu ketika kita membicarakan aspek hukum dan etika. Oleh karena itu, memahami influencer marketing guidelines menjadi penting tidak hanya bagi perusahaan, namun juga bagi influencer yang terlibat di dalamnya. Tidak sedikit influencer yang masih bingung, meraba-raba apa saja yang etis dan tidak untuk diekspos. Pemahaman akan guidelines ini akan membantumu sebagai influencer untuk memahami cara kerja yang efektif dan “aman” saat berkolaborasi dengan perusahaan.

Di Indonesia, influencer masih terbilang profesi niche yang masih belum dihiraukan oleh hukum. Tidak ada landasan hukum yang berwenang atau bahkan mengatur kerja para influencer. Tapi, bukan berarti pembahasan mengenai regulasi dan etika menjadi nihil sama sekali. Untuk influencer yang berada di negara yang masih belum memiliki landasan hukum seperti Indonesia, umumnya akan merujuk ke Federal Trade Commission (FTC) yang berada di wilayah Amerika Serikat. 

Baca juga: Problem Kesehatan Mental Influencer


Siapa yang masuk kategori influencer?

Sebelum masuk lebih jauh ke pembahasan guidelines, ada baiknya kita saling bersepakat menyoal definisi influencer itu sendiri, serta menentukan siapa saja yang kompatibel untuk masuk ke dalam kategori influencer.

Seorang influencer tidak harus selalu terkenal selayaknya seorang selebritas dan tidak harus memiliki jumlah pengikut yang besar di platform media sosial. Siapapun yang dinilai memiliki pengaruh terhadap sebuah komunitas tertentu, bahkan dalam skala mikro sekalipun, dapat masuk ke dalam kategori influencer. Untuk skala yang sangat niche, kita menyebutnya dengan istilah micro-influencer.

Micro-influencers biasanya ialah mereka yang memiliki pengikut sebanyak 10-15ribu di platform media sosialnya. Mereka pakar dalam dalam bidang tertentu yang bersifat niche. Misalnya, jika kamu adalah pakar soal tas atau benda-benda every-day-carry (EDC) dengan pengikut beberapa puluh ribu di media sosialmu, kamu sudah masuk dalam kategori micro-influencer dalam topik seputar tas, seperti misalnya Bo Ismono (@youknowthebo).

Akan tetapi, merujuk ke definisi influencer itu sendiri, secara umum influencer ialah siapapun yang mampu memberi pengaruh terhadap kemauan orang lain untuk membeli, mengkonsumsi, maupun mencoba sesuatu yang ditawarkan oleh si influencer tersebut. Dengan kata lain, influencer memiliki kemampuan mengubah para pengikutnya menjadi potential customer dari suatu produk atau jasa yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan.

Namun, jika kamu diberi penawaran produk atau jasa oleh sebuah perusahaan dengan timbal balik untuk kamu review, maka ada beberapa guidelines yang perlu kamu ikuti. Guidelines yang dimaksud merujuk ke ketentuan dasar yang dikeluarkan oleh FDC. Pertanyaannya, apakah pada praktiknya FDC mampu memonitor laku influencer? FDC sanggup mengatur begitu banyaknya peredaran konten di media sosial? Tapi, untuk jaga-jaga, ada baiknya setiap influencer tetap patuh terhadap guidelines yang sudah dibuat. Termasuk bagi influencer di negara-negara yang belum memiliki regulasi terhadap profesi influencer. Kedepannya, jika regulasi serupa sudah diimplementasikan di negaramu, setidaknya kamu memiliki rekam jejak yang relatif aman di mata hukum.

Guidelines

Guidelines yang dirilis mencakup semua platform. Termasuk di antaranya email marketing campaign, blog post, dan tentu saja media sosial.

1. Influencer tidak diperkenankan membicarakan sebuah produk atau jasa jika belum pernah benar-benar menggunakan ataupun mengalaminya secara langsung.

2. Influencer harus memaparkan bentuk relasi yang mereka miliki dengan sebuah perusahaan atau brand jika konten yang mereka buat adalah sponsored content atau konten bersponsor.

- Jika kamu tengah bekerjasama dengan sebuah perusahaan untuk konten tertentu, kamu perlu membubuhkan tagar #sponsored atau #ad di kontenmu.

3. Influencer yang dibayar untuk membuat review tentang sebuah produk atau jasa, namun mendapatkan pengalaman buruk dari produk atau jasa terkait, tidak boleh berkata bahwa mereka senang atau puas dengan produk atau jasa yang dimaksud.

- Intinya, influencer tidak boleh bohong kepada audiensnya.

4. Brand atau perusahaan tidak diperkenankan menyewa jasa influencer tanpa keterbukaan relasi atau kerjasama dengan mereka dalam sebuah konten.

- Jika kamu adalah seorang influencer yang diberi kewajiban untuk mempromosikan sebuah film, kamu tidak boleh mempromosikan film terkait lewat komentar atau apapun tanpa disertai tagar #sponsored atau #ad.

5. Influencer yang aktif di kanal YouTube harus jujur menyatakan status endorsement di awal video.

- Jika kamu adalah influencer YouTube yang disponsori oleh brand atau perusahaan tertentu untuk melakukan review, kamu wajib memberi tahu penontonmu di awal video bahwa kontenmu adalah #sponsored.

- Menyatakan bahwa kontenmu adalah #sponsored hanya di kolom deskripsi tidak diperbolehkan.

- Hal yang sama berlaku untuk semua tipe konten video di platform lain, seperti di Instagram, Twitter, dst.

6. Influencer wajib menempatkan keterangan #sponsored atau #ad di bagian awal konten atau kalimat pembuka, sebelum audiens menekan tombol “baca lebih lanjut” (“show more”)

7. Influencer wajib mencantumkan keterangan #sponsored atau #ad dengan jelas tanpa menyertakan tagar lain agar tidak membingungkan audiens.

Baca juga: Waktu Terbaik untuk Posting Konten

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Regulasi dan Etika bagi Influencer

By
GetCraft
.
July 16, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Regulasi dan Etika bagi Influencer

By
GetCraft
.
July 16, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles