X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Praktik Whitewashing dan Bahayanya dalam Industri Perfilman

By
MLR
 •
October 8, 2020

Ketika seorang aktris seperti Scarlet Johannsen berperan sebagai pemeran utama dalam adaptasi sebuah franchise komik Jepang terkenal Ghost in The Shell (2017), respon keras muncul di kalangan masyarakat. Hal yang sama terjadi ketika generasi z menemukan jika Robert Downey Jr yang terkenal berkat perannya sebagai Tony Stark di Marvel Cinamatic Universe.

Pada tahun 2008, Robert Downey Jr. berperan sebagai Kirk Lazarus, seorang method actor, yang menjalankan operasi plastik kontroversial hingga mengubah warna kulit demi memerankan Sgt. Lincoln Osiris yang berdarah Afrika-Amerika di Tropic Thunder. Ada lagi persoalan Tilda Swinton yang memerankan tokoh pendeta Tibet (Doctor Strange, 2016); Emma Stone yang mengaku berdarah campuran Cina, Hawaii dan Swedia (Aloha, 2015); dan sekian banyak kasus serupa yang membuat atmosfer ruang diskusi mengenai keragaman industri film Hollywood menjadi panas.

Diantara kasus-kasus yang panas diperbincangkan khalayak ramai, penting untuk dipahami bahwa respon keras dan kemarahan publik yang muncul ke permukaan bukan disebabkan karena buruknya eksekusi film itu semata. Persoalannya jauh lebih rumit, yakni bersumber pada tradisi keputusan casting yang dinilai menguntungkan dan bisa ditelusuri sejarahnya hingga ke masa awal berdirinya Hollywood.

Sudah bukan rahasia lagi jika para pemangku kepentingan di industri film seperti sutradara ingin menggaet aktor dan aktris terkenal untuk menarik perhatian produser dan sponsor. Namun ketika sutradara ingin menampilkan cerita mengenai tokoh kelompok orang kulit berwarna seperti bangsa Asia dan Afrika, tapi tidak memilih aktor berdarah Asia atau Afrika, praktik tersebut disebut sebagai whitewashing.

Baca juga: Apa Itu Bechdel Test?

Apa itu Whitewashing dalam Industri Film?

Whitewashing dalam sinema adalah praktik di mana aktor kulit putih memerankan peran non-kulit putih dan secara langsung meremehkan signifikansi serta peran budaya lain. Pascal Ezeabasili dari The Edge mengungkapkan jika saat ini masyarakat minoritas selain masyarakat kulit hitam menjadi korban terbesar praktik whitewashing. Bangsa Asia, suku Indian, dan masyarakat Polinesia tidak diperkenankan menjadi pahlawan dalam cerita mereka sendiri. Hal ini tampak dalam pemilihan peran-peran yang sering diberikan pada aktor kulit putih.

Umumnya aktor-aktor kulit putih ini muncul memerankan tokoh kelompok orang kulit berwarna dengan bantuan tata rias yang dibuat sedemikian rupa hingga tampil lebih ‘etnik’ seperti Aline MacMahon yang berperan sebagai Istri Ling dalam Dragon Seed (1944) dan Micky Rooney sebagai I. Y. Yunioshi dalam film Breakfast at Tiffany’s (1961). Atau menghilangkan seluruh identitas budaya dari cerita, seperti dalam kasus tokoh John Rico yang menurut novel Starship Trooper merupakan seorang prajurit asal Filipina kemudian diperankan aktor bernama Casper Van Dien untuk adaptasi film dengan judul yang sama.  

Praktek whitewashing seringkali dilakukan akibat langgengnya pemikiran jika aktor dari kelompok orang kulit berwarna tidak akan sukses di box office. Seperti yang diungkapkan oleh Ridely Scott, sutradara film Exodus: Gods and Kings, dalam The Edge, “Saya tidak bisa memasang film dengan anggaran sebesar ini, di mana saya harus mengandalkan potongan pajak di Spanyol dan mengatakan bahwa aktor utama saya bernama Mohammad-ini dan berasal dari negara-itu.” Film-film Scott sendiri banyak dibintangi oleh aktor kulit putih dengan porto penjualan box office nol yang memerankan peran orang Mesir dan Arab.

Gagasan “aktor dari kelompok orang kulit berwarna tidak akan sukses di box office” dan praktik pemberian peran kelompok orang kulit berwarna kepada aktor kulit putih ini sendiri lahir bukan tanpa sebab. Malahan jika ditelusuri lebih lanjut, gagasan itu terbentuk dari segregasi rasial yang sistematis dan mendarah daging. Lebih tepatnya bersumber dari aturan penyensoran Hollywood yang terangkum dalam “Motion Picture Production Code” (MPPDA) dan dirilis oleh studio film besar yang tergabung dalam asosiasi Motion Picture Producers and Distributors of America (MPPDA) di tahun 1934 - 1968.

Dalam aturan penyensoran Hollywood tersebut, atau yang juga populer dikenal sebagai Hays Code dan dianggap sebagai “Magna Carta”-nya sinema barat, industri film Hollywood memiliki sejumlah larangan materi apa yang boleh dipertontonkan kepada publik. Secara khusus, MPPDA memutuskan, "bahwa hal-hal yang termasuk dalam daftar berikut tidak akan muncul dalam gambar yang dibuat oleh anggota asosiasi (perfilman barat)":

  1. Kata-kata makian – entah merujuk pada judul atau gerak bibir – termasuk di dalamnya adalah kata-kata Tuhan, Yesus Kristis (kecuali kata-kata itu digunakan dengan hormat dalam kaitannya dengan penggambaran upacara keagamaan), neraka, S. O.B (son of a bitch), sialan (damn), Gawd, dan setiap ekspresi bahasa makian dan vulgar lainnya.
  2. Ketelanjangan tanpa landasan moral atau menjurus ke arah seksual — secara langsung atau dalam bentuk siluet; dan setiap gelagat cabul atau tak bermoral dari sebuah karakter dalam film;
  3. Perdagangan ilegal narkoba;
  4. Semua referensi tentang penyimpangan seks;
  5. Perbudakan orang kulit putih;
  6. Miscegenation (hubungan seks antara ras kulit putih dan hitam);
  7. Kebersihan seks dan penyakit kelamin;
  8. Pemandangan persalinan yang sebenarnya — secara langsung atau dalam siluet;
  9. Organ seks anak;
  10. Ejekan yang ditujukan untuk pendeta;
  11. Pelanggaran yang disengaja terhadap bangsa, ras, atau kepercayaan apa pun
Tilda Swinton (Doctor Strange, 2016)

Sekilas aturan Hays Code tampak sebagai bentuk penyucian perfilman dari unsur kebobrokan moral dan tidak berbahaya bagi aktor dan aktris kelompok orang kulit berwarna. Namun aturan nomor 6 yang mencakup hubungan intim antara ras kulit putih dengan kelompok orang kulit berwarna inilah yang membuat Anna May Wong, seorang aktris berdarah campuran Cina-Amerika, kehilangan kesempatan memerankan O-Lan dalam film adaptasi novel populer The Good Earth (1937).

Ketika itu, studio MGM telah memutuskan untuk memberikan peran Wang Lung kepada Paul Muni, seorang aktor berkulit putih. Akibat berlakunya Hays Code di tahun 30-40an, pihak Studio MGM tidak bisa memberikan peran O-Lan sebagai istri Wang Lung kepada Anna May Wong. Pada akhirnya tokoh O-Lan diperankan oleh seorang aktris berdarah Jerman, Luise Rainer. Berkat perannya sebagai O-Lan, Luise Rainer berhasil memenangkan penghargaan Oscar.

Meski Hays Code telah lama tidak lagi diberlakukan dan kisah perebutan peran besar seperti yang dialami Anna May Wong belum terdengar lagi, praktik whitewashing sudah kadung diikuti secara luas dan turun temurun. Buktinya, hanya terdapat kurang lebih 16 nama aktor kulit hitam dan 3 nama aktor Asia yang berhasil menyabet penghargaan Oscar yang digelar dari 1929-2020 untuk kategori Aktor/Aktris Terbaik.

Baca juga: Afrofuturisme dan Perannya dalam Perfilman Global

Bahaya whitewashing bagi Budaya Film Global

Boleh dibilang setiap sutradara punya lisensi artistik dalam pemilihan peran dan intepretasi cerita, serta warna kulit seseorang tak lantas dijadikan batasan peran seperti apa yang harus dimainkan oleh seorang aktor. Toh, akting adalah kemampuan seseorang memerankan orang selain dirinya sendiri. Kemampuan akting yang baik dalam sebuah film tak seharusnya dijatuhkan dengan tuduhan praktik whitewashing. Hanya saja, argumen-argumen tersebut lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya dalam proses keragaman di Hollywood.

Hollywood adalah industri yang didominasi aktor kulit putih. Cerita mengenai kelompok orang kulit berwarna di Hollywood sangatlah terbatas. Kelangkaan nama besar aktor Hollywood berdarah Asia, ditambah dengan munculnya aktor-aktor kulit hitam seperti Lupitaa Nyong’o, David Oyelowo atau Daniel Kaluuya yang memiliki peran besar dalam film yang khusus diperankan oleh aktor berkulit hitam, menunjukkan kekurangan peran yang bisa dimainkan bagi aktor kulit berwarna lainnya. Bagi banyak aktor kelompok orang kulit berwarna, peran-peran yang tersedia di Hollywood adalah minoritas, bukan peran yang ras karakternya dianggap penting. Peran-peran minoritas seperti ini melanggengkan stereotipe yang merugikan bangsa selain kulit putih dan bukan tak mungkin menciptakan diskriminasi rasial.

Dalam penggambaran cerita tentang orang kulit berwarna pun masih ada masalah yang terus diulang oleh industri film barat. Di cerita-cerita tersebut, Hollywood masih menempatkan aktor kulit putih sebagai penyelamat orang kulit berwarna dari penderitaan mereka. Narasi penyelamat berkulit putih ini berasal dari rasisme Eurosentris dan pandangan kolonial yang meyakini jika orang kulit putih lebih unggul secara moral dari ras lain. Praktik mengedepankan penyelamat berkulit putih seperti yang bisa kita lihat dalam film 47 Ronin (2013) juga sangatlah berbahaya bagi pembentukan gagasan masyarakat global karena penyelamat berkulit putih ini menjadi pusat narasi sementara karakter kelompok kulit warna akhirnya hanya menjadi properti dan mengabadikan gagasan kelompok orang kulit berwarna tidak penting.

Praktik whitewashing merupakan masalah politik kepentingan yang bersumber dari bias rasial dan supremasi kulit putih lewat penuturan narasi tertentu. Walau sudah ada beberapa film selain film dari Eropa yang sukses menyabet Oscar dan menampilkan aktor dari kelompok orang kulit berwarna, nyatanya jumlah tersebut masih sangat sedikit dibandingkan dengan puluhan judul film yang dituduh meneruskan praktik whitewashing.

Masyarakat internasional semakin kritis terhadap persoalan rasial dan jika Hollywood masih ingin relevan di masa sekarang, sudah waktunya industri perfilman dunia menciptakan kesempatan bagi bangsa minoritas menuturkan cerita mereka sendiri.

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Praktik Whitewashing dan Bahayanya dalam Industri Perfilman

By
MLR
.
October 8, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Praktik Whitewashing dan Bahayanya dalam Industri Perfilman

By
MLR
.
October 8, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya

Related articles