X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Persoalan dari Budaya Influencer

By
MLR
 •
September 4, 2020

Bicara soal istilah, belakangan ini belum ada lagi yang dapat memicu reaksi keras dari masyarakat umum kecuali “influencer”. Ketika istilah tersebut dihadirkan dalam ruang diskusi publik, masyarakat secara umum memiliki gambaran seorang persona yang akrab wara-wiri di lini masa jejaring sosial dengan jumlah pengikut yang besar.

Banyak persona muncul di platform Twitter yang gencar mengungkapkan opini; banyak persona muncul di Facebok membagikan tulisan, resep, atau video binatang lucu yang membuat hati penonton trenyuh. Banyak pula persona Instagram muncul dengan gaya berbusana mereka yang terlihat tanpa usaha lebih serta bajet jalan-jalan keluar negeri yang seolah tak terbatas. Padahal di balik layar, kita semua tahu, semuanya aspek kehidupan sempurna yang ditampilkan tersebut terkurasi dengan baik dan disponsori oleh brand.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial yang penuh rasa penasaran. Bisa jadi karena alasan tersebutlah budaya influencer berkembang pesat, terutama di platform Instagram. Menurut analisia data perusahaan Klear, jumlah postingan Instagram yang menggunakan hastag #ad sebagai tanda kerjasama dengan brand, meningkat hampir 50% di tahun 2019.

Atau bisa juga budaya influencer itu berkembang karena rasa penasaran orang banyak terhadap sebuah ketertarikan akan suatu bidang. Orang-orang yang penasaran cenderung ingin terhubung dengan mereka yang secara terang-terangan meminati suatu hal dan mengatakan jika mereka hidup untuk menekuni bidang tertentu dan menyempurnakan kemampuan mereka dalam bidang tersebut. Influencer seperti ini masuk ke dalam golongan para musisi, illustrator, penari, penulis, dan lain sebagainya.

Ada pula alasan lain yang menjadi penyebab budaya influencer semakin nyata, yakni gagasan bahwa hanya beberapa tahun yang lalu, persona glamor ini adalah orang yang biasa-biasa saja. Siapa yang enggak penasaran dengan seorang jutawan yang usaha kerasnya dinilai dari ‘hanya’ mengunggah konten yang ingin orang banyak lihat? Daya pikat pikiran mereka mampu berada di posisi mereka sekarang dari orang biasa-biasa saja bisa mendorong orang-orang untuk terus mengawasi kehidupan persona-persona itu. Hasilnya, semua pengikut menjadi terinspirasi untuk membuat konten dengan satu tujuan; ingin mencicipi kehidupan ideal serba berkecukupan dan sempurna, jika Dewi Fortuna mengizinkan.

Apapun alasan yang mendorong perkembangan pesat budaya mempengaruhi ini, budaya tersebut belum memiliki tanda-tanda akan digantikan budaya baru dalam waktu dekat. Bersamaan dengan prediksi itu dan kenyataan bahwa apa yang ditunjukkan influencer di platform mereka adalah bentuk kemitraan dengan brand, kita dihadapkan pada sebuah permasalahan yang belum tuntas dibahas: seberapa banyak kata-kata seorang influencer bisa dipercaya?

Baca juga: Mantra Kreatif ala Andra Alodita

Attention Economy dan Berkembangnya Budaya Influencer

Sebelum membahas hingga tahapan apa kata-kata seorang influencer bisa dipercaya, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu mengenai perkembangan budaya influencer dan hubungannya dengan perekonomian jenis baru yakni attention economy. Walau tampaknya tiga hal tersebut merupakan istilah mandiri dan tidak terkait satu dengan yang lainnya, sabar dulu. Percaya deh, semua istilah tersebut pada prosesnya punya keterkaitan yang erat.

Bagi sebagian besar sejarah manusia, kelangkaan sumber daya ekonomi di dunia adalah lahan. Dulunya lahan produktif yang dimiliki dan bisa dimanfaatkan cukup terbatas. Itu berarti makanan yang dihasilkan juga terbatas. Oleh karena keterbatasaan makanan, kesadaran perekonomian dan perdebatan politik sehati-hari selalu melibatkan lahan. Kebanyakan orang menghabiskan waktu mereka memikirkan lahan mana yang akan mereka olah, bahan pangan apa yang akan mereka tanam, panen apa yang bisa mereka petik setelahnya, dan berlanjut seterusnya. Makanan selalu menjadi kebutuhan mendesak.

Pada suatu waktu ketika revolusi industri meledak dan kelangkaan ekonomi yang semula merupakan lahan bergeser akibat munculnya mesin-mesin yang bisa membantu masyarakat menghasilkan bahan makanan yang cukup untuk semua orang. Sekarang kelangkaan utama terletak pada tenaga kerja. Para pemilik modal harus melatih pekerja mereka untuk menjaalankan mesin tersebut untuk mendapatkan untung. Oleh karena pola ini, selama beberapa ratus tahun sebuah nilai berkembang dalam masyarakat berdasarkan tenaga kerja; kamu akan dinilai dari kamu bekerja untuk siapa, kamu menghasilkan berapa banyak uang dari hasil pekerjaanmu, dan seterusnya.

Lantas di abad ke-20, ketika tersedia lebih banyak barang daripada yang bisa dikonsumsi atau dibeli oleh seseorang, kelangkaan sumber daya itu muncul kembali dalam rupa kelangkaan informasi. Orang-orang punya banyak pilihan barang yang bisa dibeli dengan uang mereka, tapi mereka tidak tahu barang apa yang harus mereka beli. Jadi orang-orang mulai menghabiskan waktu untuk mencari informasi mengenai pasta gigi apa sih yang paling tepat untuk mereka. Periklanan dan pemasaran kemudian diciptakan untuk menjawab kelangkaan informasi tersebut.

Seiring perkembangan waktu, majunya teknologi, dan munculnya internet, kelangkaan itu kembali bergeser. Sekarang informasi bukan lagi hambatan karena siapapun bisa menemukan informasi di internet. Hambatan baru muncul yakni kelangkaan perhatian. Kemudian muncullah istilah attention economy untuk menjawab hambatan tersebut.

Attention Economy atau Ekonomi Perhatian adalah suatu pendekataan pengelolaan informasi yang memperlakukan perhatian manusia sebagai komoditas langka dan menerapkan teori ekonomi untuk memecahkan berbagai masalah pengelolaan informasi. Dengan kata lain, seperti yang diungkapkan oleh Matthew B Crawford, seorang penulis asal Amerika, “perhatian merupakan sebuah sumber daya langka" dan setiap individu hanya memiliki sedikit perhatian untuk semua informasi yang dihadapkan di depannya.

Pada zaman ketika perhatian adalah sebuah komoditas yang langka, peran influencer menjadi sangat besar. Mereka adalah orang-orang yang mampu mencuri perhatian masyarakat luas lewat gagasan, cara berpakaian, gaya hidup, atau ketertarikan mereka terhadap suatu bidang. Berkat influencer, masyarakat yang tertarik terhadap persona mereka bisa menyeleksi informasi yang mereka dapatkan sesuai dengan mempengaruhi tindakan mereka dalam memutuskan sesuatu.

Salah satu pionir budaya influencer paling terkenal adalah klan Kardashian/Jenner. Klan Kardashian-Jenner berhasil memanfaatkan citra mereka untuk mendapatkan perhatian sebagai komoditas langka di zaman internet. Dengan memamerkan gaya hidup mereka yang glamor dan secara terus menerus membuka ruang bagi brand bekerja sama dengan mereka, klan Kardashian/Jenner mempersiapkan lahan pekerjaan bagi influencer-influencer lainnya di jagat jejaring sosial.

Budaya influencer pun semakin berkembang pesat. Beberapa tahun setelah mereka mengguncang internet, kita mengenal satu influencer baru dengan jumlah pengikut fantastis yang muncul tiap harinya di berbagai kanal jejaring sosial. Bersamaan dengan itu, kita pun mendapatkan konten secara terus menerus di YouTube, Twitter atau Instagram. Sebagai individu yang sudah kepalang jatuh hati terhadap seorang influencer yang berhasil menarik perhatian, kitapun peduli terhadap perjalanan mereka, kita mengawasi barang apa saja yang mereka pakai, kita memahami gagasan-gagasan yang dipercaya influencer tersebut dan mulai mendengarkan apa yang mereka katakan karena kita merasa dekat dengan mereka.

Jika dilihat secara sekilas, perkembangan budaya influencer yang didorong oleh ekonomi perhatian merupakan sebuah model perekonomian yang dapat menguntungkan semua pihak yang terlibat di dalamnya; brand, influencer sebagai perpanjangan brand, dan konsumen. Meski demikian, pada praktiknya, model perekonomian yang tampak sempurna ini tak luput dari masalah.

Masalah Budaya Influencer

Kepedulian masyarakat luas terhadap influencer muncul dari anggapan bahwa apa yang diutarakan oleh influencer adalah pengalaman mereka yang otentik. Para pengikut dibuat berpikir bahwa kehidupan yang mereka jalani sehari-hari dan gagasan yang mereka utarakan itu otentik. Hanya saja, dengan pertimbangan brand atau bisnis sebagai pemangku kepentingan turut campur tangan di balik hal tersebut, pikiran bahwa kehidupan semua influencer adalah otentik perlu ditinjau ulang. Ambil contoh, kasus yang terjadi kepada Kim K.

Beberapa kali Kim K mendapatkan kritk tajam karena mmempromosikan produk berbahaya bernama Flat Tummy Tea. Produk tersebut tidak mendapatkan izin dari badan pengawasan obat-obatan di Amerika Serikat dan Kim K sebagai influencer mempromosikannya kepada 159 juta pengikut. Dan meskipun Kim K mengulas produk tersebut, sudah bukan rahasia lagi kalau penampilan Kim K tampak seperti yang kita ketahui berkat campur tangan ahli bedah kosmetik.

Contoh kasus terkenal lainnya datang dari influencer ikonik James Charles dan Tati Westbrook. Bagi kamu yang tak tahu, James Charles dan Tati adalah dua orang influencer kecantikan dengan jumlah pengikut yang banyak. Keduanya terlibat dalam perseteruan hebat di internet. Salah satu alasan penyebab pertengkaran antara mereka berdua adalah kenyataan jika James Charles mempromosikan produk suplemen hampir bersamaan dengan keluarnya produk serupa oleh Tati Westbrook.

Charles menuduh Sugar Bear Hair mendekatinya di Coachella dan menawarinya sejumlah uang serta janji untuk meningkatkan keamanan jika dia akan mempromosikan produk mereka… yang tidak pernah dia coba. Dan dia melakukan itu. Pada akhirnya, tindakannya tersebut menjadi penyebab perseteruan pribadi yang penuh drama, berujung menghasilkan banyak video (baik menyerang maupun meminta maaf), dan munculnya tren #ByeSister yang mampu mengubah algoritma YouTube.

Tindakan influencer yang tidak mencoba produk yang mereka promosikan tanpa mempertimbangkan tanggung jawab terhadap pengikutnya ini umum terjadi. Bisa dibayangkan seperti apa penyebabnya bagi pengikut mereka yang berusia 13 tahun dan terpengaruh ingin mencoba barang tersebut?

Beberapa contoh di atas baru membahas masalah barang. Bisakah kamu membayangkan jika sekelompok influencer, tanpa melakukan analisa dan mempelajari seluk beluk sebuah brief, mendukung gagasan yang belum tentu mereka ketahui akibatnya bagi orang banyak?

Baca juga: Kapan Waktu Terbaik Unggah Postingan di IG?

Kesimpulan

Poin dari pembahasan ini bukannya untuk mengupas keburukan influencer. Bagaimanapun influencer adalah sebuah profesi yang punya manfaatnya bagi perekonomian dunia digital, terutama bagi brand dan usaha kecil hingga menengah. Kenyataannya di tahun 2017, sekitar 92% dari pemasar yang menggunakan jasa influencer menemukan jika penjualan mereka jauh lebih efektif.

Budaya influencer dan influencer sendiri telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di manapun kamu berada. Semua tindakan kita secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi dari berbagai iklan Facebook, selebriti yang mengenakan busana dari merek tertentu, atau ulasan produk dari seseorang yang kita ikuti di Instagram. Perilaku mempengaruhi tidak selamanya buruk. Faktanya, kebanyakan influencer adalah pemasar yang cerdas, pembuat konten yang luar biasa berkakat, dan terkadaang dapat memberikan dampak positif, entah itu terhadap sebuah brand yang mereka pasarkan atau kehidupan para pengikut jejaring sosial mereka.

Hanya saja budaya influencer menjadi sangat berbahaya jika tidak autentik dan ketidakotentikan budaya tersebut akan terus meningkat saat seorang influencer mempertahankan pola tingkah laku dan mendukung gagasan-gagasan yang merugikan bagi masyarakat.


Pada akhirnya, tanggung jawab yang melekat pada seorang influencer akan memengaruhi masyarakat luas. Bahkan dengan 5.000 jumlah pengikut, seorang influencer masih bisa menjangkau pengikutnya yang mudah terpengaruh. Untuk itu, seorang influencer harus sadar betul akan tanggung jawab yang melekat ketika ia membuat konten tertentu beserta gagasan dibalik pembuatan konten tersebut.

Instagram dan Twitter enggak jahat. Media sosial enggak jahat. Influencer juga enggak jahat. Yang membuat semuanya jadi berakibat buruk bagi orang adalah kurangnya kewaspadaan terhadap gagasan apa yang didukung lewat sebuah postingan. Jadi, jika kamu ingin menjadi atau merupakan seorang influencer, selalu pertanyakan terlebih dahulu: gagasan apa yang saya dukung dengan mengunggah postingan ini? Seberapa dapat dipercayanya kah klaim saya? Dapatkah klaim saya dipertanggung jawabkan?

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Persoalan dari Budaya Influencer

By
MLR
.
September 4, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Persoalan dari Budaya Influencer

By
MLR
.
September 4, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya

Related articles