X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Perkembangan & Potensi Konten Nongaming di Twitch

By
MLR
 •
June 19, 2020

Setelah menjadi rumah bagi para streamer live gaming bagi komunitas pecinta game selama sembilan tahun belakangan, Twitch akhirnya mulai merambah ke fokus yang baru. Pernyataan tersebut bukannya tanpa bukti yang jelas. Seperti yang dikutip dari Venture Beat, menurut perusahaan pelacak data SullyGnome dan provider layanan broadcasting StreamElements, belakangan di Twitch terdapat perkembangan yang signifikan di topik siaran selain game, tepatnya pada kategori “Just Chatting” yang mengalami peningkatan pesat selama 12 bulan terakhir.

Laporan tersebut menyatakan jika penonton Twitch telah mencapai sektiar 81 juta waktu menonton di kategori “Just Chatting”. Itu berarti 7 juta lebih banyak daripada orang menonton League of Legends dan 23 juta lebih banyak daripada orang menghabiskan waktu menonton Fortnite. Popularitas kategori “Just Chatting” masih bersinar hingga Januari tahun ini dan menurut StreamElements, konten nongaming akan menjadi kategori kedua terbesar di Twitch tahun 2020.

Walaupun fenomena warganet ingin berhubungan dengan streamer karismatik di Twitch bukanlah hal yang mengejutkan, belum lama ini para streamer diteror ancaman penskorsan jika ketahuan mengobrol terlalu lama saat misalnya saja, mereka sedang bermain videogame Call of Duty. Bahkan dalam aturan Twitch sendiri tertulis jika para streamer tidak disarankan duduk di hadapan kamera sambil menonton video YouTube, membahas berita, atau melakukan kegiatan menyita waktu seperti makan es krim terlalu lama. Pada awalnya Twitch dibuat untuk komunitas pemain game memainkan Starcraft II secara terus menerus; Twitch bukanlah milik mereka yang populer atau rupawan. Lalu, kapan transisi itu dimulai?

Baca juga: Dimas Djay: Membangun Narasi untuk Konten Video

Empat tahun belakangan, keadaan tersebut mulai berubah. Twitch berubah dari sebuah kanal untuk gamer menjadi kanal untuk para livestreaming biasa. Perjalannya tidak mulus, tapi dari perkembangan tersebut tampak jika para penikmat konten game fanatik berbanding terbalik dengan para pengguna yang tertarik membuat serta menikmati konten bergaya “Just Chatting”. Orang-orang yang berada di balik platform tersebut bahkan tidak yakin harus memutuskan apa untuk menanggapi perubahan ini. Twitch memilih untuk menutup mulut serta menyanggah hal tersebut dengan mengatakan jika “Just Chatting” tidak berada di kategori paling ngetop meskipun komunitas-komunitas yang ada di sana tahu betul berapa juta waktu menonton para pengguna dihabiskan.

Just Chatting di Twitch dan Fenomena Hubungan Parasocial

Twitch meluncurkan seksi kontroversial “IRL” bagi para streamer yang tidak bermain game pada akhir 2016 dan tahun 2018. Platform tersebut membaginya ke beberapa kategori, termasuk Just Chatting. Di sana, para streamer dapat menghibur penonton mereka lewat siaran yang memutar reaksi mereka terhadap video-video konyol yang ada di internet atau bagaimana para streamer bergosip seru membicarakan selebirit YouTube. Para streamer bisa saja melemparkan ceramah pada para penonton mereka yang menghadapi masalah asmara atau merka bisa saja duduk di atas kursi gaming seharga ribuan dollar sambil membanggakan kehidupan glamor mereka.

Salah satu streamer yang terkenal dan memanfaatkan seksi Twitch IRL ini adalah Paul “Ice Poseidon” Denino. Dikenal akibat sering melakukan aksi-aksi yang mengundang kekesalan penonton, Paul “Ice Poseidon” Denino bahkan pernah ditampar langsung di pesawat. Aksi-aksi antiknya di Twitch mengakibatkan Denino ditampar setiap hari dan diskors dari Twitch seperti yang diulas The New Yorker.

Kisah lain datang dari Byron “Reckful” Bernstein, yang berhasil menarik sejumlah pengikut di Twitch, lebih tepatnya sekitar 900.000 orang pengikut, sementara dia bermain World of Warcraft. Sekarang ini, Bernstein rata-rata memiliki 11.000 penonton setiap kali dia melakukan siaran bersama teman atau penonton sambil diiringi latar belakang musik.

Tak hanya itu, Bernstein membagikan sudut pandang menarik dari transisi Twitch menuju layanan siaran langsung umum. Dari pengalamannya melakukan siaran, kepada Wired, Bernstein mengatakan jika para penonton seolah tahu kehidupan para streamer hingga ke level personal. “Hubungan Parasocial (hubungan yang terjalin satu pihak akibat paparan persona di media) makin banyak dan sering terbentuk,” ujarnya. “Ketika aku pergi ke sebuah acara seperti TwitchCon atau BlizzCon, orang-orang yang mendatangiku merasa mereka mengenalku di level yang personal; mereka mengenalku lebih baik daripada teman-teman terdekat mereka yang lain.”

Pada perkembangan selanjutnya, Just Chatting menjadi kanal bagi semua orang yang memiliki berbagai ketertarikan. Termasuk di dalamnya adalah penyiar seperti; Kitboga, yang sering mengerjai para penipu tech support; Sophia “Djarii” White, yang mengecat tubuhnya menjadi karakter videogame; dan Maya Higa, yang memamerkan keterampilannya menangani elang serta mengajak penontonnya lebih sadar mengenai konservasi lingkungan. Lewat Just Chatting yang terus berkembang, Twitch bukan lagi 100 persen milik komunitas game.

Awal Mula Twitch, Penyiar Wanita di Twitch, dan Potensi Twitch

Pendahulu dan perusahaan induk Twitch, Justin.tv awalnya diluncurkan pada tahun 2007 untuk memfasilitasi jenis hiburan siaran langsung dalam berbagai bentuk. Empat tahun semenjak berdiri, tepatnya pada 2011, tampak jelas jika komunitas gaming menjadi pengguna terbanyak. Kemudian layanan siaran langsung tersebut diubah namanya menjadi Twitch, yang merupakan istilah gerakan berbasis refleks dan populer di kalangan komunitas gaming terutama bagi mereka yang memainkan video game first-person shooter. Lewat Twitch, komunitas dan budaya menonton orang memainkan game berkembang. Pada masa awal ini, kamera yang menyiarkan wajah streamer hanya memakan sebagian kecil porsi layar. Namun, seiring berjalannya waktu, para penyear baru memperkenalkan rasio lain di mana wajah mereka lebih besar daripada layar game yang mereka mainkan. Bukan lagi video game yang menjadi hiburan bagi para pengguna Twitch, melainkan orang yang memaninkan permainan tersebut.

Di masa-masa tersebut pula, sangat mustahil untuk menggaet banyak penonton jika kamu bukanlah seorang gamer. Sebagian karena aturan Twitch yang melarang konten bukan gaming, sebagian karena budaya yang diadopsi oleh komunitas gaming itu sendiri. Baik itu dalam kotak chat Twitch, Twitter, atau Discord, banyak pelecehan terjadi terhadap orang-orang yang tidak disambut di komunitas gaming dan berupaya menarik penonton. Keributan ini memuncak pada tahun 2012. Kebanyakan pendapat bahwa orang yang bukan gamer berusaha mencuri perhatian para penonton jatuh pada penyiar wanita, entah mereka menghadirkan konten gaming atau tidak.

Bonnie “Bo” Ruberg, seorang asisten professor di Universitas California, Irvine, melakukan penelitian mengapa penyiar nongaming, utamanya perempuan, dianggap bukan konten sah Twitch. Ia menganalisa dari utas Reddit dan menemukan jika wanita yang membuat konten di Twitch disebut sebagai “titty streamers” (sebutan penonton atas penyiar wanita yang dengan senang hati mengambil banyak waktu menonton dari pengguna lelaki). Wanita-wanita tersebut disamakan dengan “cam girls”, yang melakukan siaran dengan konten sugestif.

Ruberg mengatakan bahwa penyiar wanita dan nongaming ditolak karena banyak orang berusaha untuk membuat jarak antara siaran Twitch dan siaran sugestif. Penggemar game fanatik bahkan benar-benar menolak seksi IRL di Twitch dan kategori Just Chatting karena mereka beranggapan kanal tersebut dibuat untuk “egirls, titty streamer, dan para perempuan yang memamerkan tubuh untuk mendapatkan waktu menonton.”

Bagi mereka, siaran gaming adalah hal yang sah. Sebagai bentuk melindungi Twitch, bahkan setelah seksi IRL diluncurkan, beberapa para pengguna Twitch akan masuk ke masing-masing bagian dan melaporkan penyiar wanita yang mereka anggap melanggar aturan Twitch.

Baca juga: Handoko Tjung: Bukan Sekadar Konten Receh

Walau banyak penyiar wanita diterpa berbagai bentuk pelecehan, hal tersebut bukan jadi soal bagi Kacey “Kaceytron” Caviness yang telah lama menyiarkan League of Legends dan World of Warfcraft semenjak 2013 dan sekarang hanya melakukan siaran di bawah kategori Just Chatting. Malahan Caviness, yang terkenal karena memakai baju atasan berleher lebar dan didaulat sebagai gamer-palsu, justru mengakali kondisi ini. Ia sengaja mencatut beberapa dolar dari orang yang ingin mengiriminya pesan ketika siaran berlangsung. Tentu saja banyak orang yang rela menghabiskan banyak uang demi mengiriminya pesan berisi kebencian, kemarahan, serta permintaan untuk meminum pemutih. Walau demikian, ia berhasil mengambil keuntungan dari budaya berAlaskan kebencian atas “fake-gamer-girl”.

Sekarang, Just Chatting adalah rumah bagi semuanya, mulai dari siaran yang membahas bagaimana menghasilkan uang dari saham, siaran yang menampilkan saran berkencan, atau lain sebagainya. Para penyiar ini bisa jadi beberapa kali menyiarkan mereka ketika bermain game, tapi fokus utama siaran langsung mereka adalah kepribadian mereka. Aturan-aturan lama Twitch masih berlaku, tapi data yang disimpulkan dari waktu tonton dan kategori apa yang mereka tonton juga berlaku. Ini berarti peluang besar bagi kamu yang ingin merambah ke Twitch dan menggali potensi sebagai penyiar livestreaming.

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Perkembangan & Potensi Konten Nongaming di Twitch

By
MLR
.
June 19, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Perkembangan & Potensi Konten Nongaming di Twitch

By
MLR
.
June 19, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials
Tags:

Related articles