X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Perkembangan dan Tren Sinema 2020

By
GetCraft
 •
July 24, 2020

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Perkembangan dan Tren Sinema 2020

By
GetCraft
.
July 24, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Perkembangan dan Tren Sinema 2020

By
GetCraft
.
July 24, 2020

Industri perfilman mengalami perubahan drastis dalam beberapa dekade terakhir. Salah satu momentum yang paling menarik barangkali jatuh pada tahun 2006-2007, persisnya ketika kamera RED One Mysterium-X resmi diluncurkan dan membuat Hollywood geger. Kamera ini dapat dianggap sebagai pijakan baru industri perfilman menuju semesta digital, atau yang kita sering dengar dengan istilah digital projection.

Satu tahun berselang, tepatnya di 2008, Canon ikut merilis seri 5D. Lengkap dengan spesifikasi full frame, 2,1 megapiksel, kamera Canon EOS pertama yang menyediakan fitur HD (High Definition). Kali ini, yang gempar bukan cuma Hollywood, tapi juga seluruh pengguna kamera di kalangan konsumen nonperfilman atau konsumen kasual, karena harganya jauh lebih terjangkau luas. 

Produk Canon ini membuat seolah produksi film dengan kualitas gambar mutakhir mampu dilakukan oleh kamera DSLR. Atau dengan kata lain: semua orang kini bisa membuat film bergambar mantap. Dan benar saja, seketika banyak individu yang ingin terjun sebagai pembuat film. Dan fenomena ini turut dibarengi dengan popularitas YouTube serta Vimeo.

Tak pelak, makna “konten hiburan” ikut bergeser. Kita melihat berbagai individu maupun kelompok berlomba-lomba mencari dan menemukan bakat kreatif di bidang ini.

Di YouTube misalnya, kamu bisa menonton video tentang hewan peliharaan yang lucu, nyaris meaningless selama berjam-jam tanpa bosan. Di satu sisi hal ini jadi menarik. Opsi penonton untuk mengkonsumsi konten serta merta meroket. Banyak varian video siap santap di kanal-kanal video online. Penonton tidak lagi mengandalkan layar kaca dan layar perak untuk suguhan audiovisual. Namun, di sisi lain cukup mencemaskan juga, bahwasanya kualitas konten yang beredar tidak lagi terpantau. The quality is left unchecked.

Menyusul fenomena ini, teknologi lain yang turut mendukung laju industri perfilman juga tumbuh pesat. Proses produksi semakin bergeser ke ranah digital. Roll film seluloid mulai diganti DCP (Digital CInema Package) -dan film Janji Joni (2005) seketika jadi film lawas; poster film bioskop diganti oleh gambar cetak resolusi tinggi atau bahkan layar LCD; proses penyuntingan gambar juga beralih dan merambah online editing; animasi tidak lagi digambar, melainkan diambil langsung lewat metode motion capture, dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan tahun ini? Musibah pandemi 2020 sedikit banyak mengubah struktur eksibisi-distribusi perfilman, terutama yang bersinggungan langsung dengan festival film. Dengan kebijakan social distancing, hampir seluruh festival film terkemuka di dunia merekonfigurasi penayangan film mereka lewat platform digital. Beberapa film juga mengganti rencana rilis, dari yang sebelumnya di bioskop menjadi platform online streaming seperti Netflix atau Hulu.

Lantas, di samping perubahan pola konsumsi film dan struktur produksi-eksibisi-distribusi tadi, apa saja tren-tren yang sekiranya bakal bermunculan di tahun ini?


Modus Transisi

Template untuk mengakomodasi transisi antargambar semakin banyak tersedia di sejumlah aplikasi penyuntingan video macam Adobe Premiere dan FinalCut Pro. Template ini akan mempermudah proses penyuntingan sekaligus memberikan efek yang jauh lebih dramatis ketimbang modus-modus transisi sebelumnya seperti fade in/out, swipes, yang sudah terlihat jadul.


Say No to Photo Slideshow

Dengan semakin mudahnya proses penyuntingan audiovisual, tren menyatukan gambar tak bergerak atau foto lalu menyatukannya ke dalam montase slideshow diprediksi akan redup di tahun ini. Selain tidak menarik, informasi yang dapat diberikan oleh beberapa gambar foto tentu tidak akan selengkap dan secantik tampilan gambar bergerak atau video. Well, bahkan kamera ponselmu sudah cukup mumpuni untuk memproduksi live-action video, jadi tidak ada alasan lagi untuk tetap mempertahankan photo slideshow.


Monokromatik

Penggunaan warna monokrom disinyalir akan menjadi tren pada 2020. Sudah banyak ditemukan produksi video yang kembali menekankan estetika monokrom, bahkan mengemasnya jadi lebih elegan dan subtil. Tren ini tidak hanya terjadi pada video atau film aja, namun juga pada tren desain grafis, di mana penggunaan gradien monokrom semakin sering ditemui.


Bentuk Huruf (Font)

Penggunaan font besar yang menutupi sebagian besar proporsi visual semakin marak bermunculan. Beberapa poster film Hollywood telah melakukan ini dari beberapa tahun lalu. Hanya saja, di tahun ini, estetika dari font itu sendiri akan semakin bervariasi dan semakin artistik.


Bentuk Pemasaran

Perubahan dinamika perfilman juga akan mempengaruhi aspek pemasaran. Film tidak lagi diiklankan hanya dalam cara konvensional (pemutaran trailer, penempatan poster/banner), tetapi juga menggunakan jasa social media influencer atau bahkan aktor/aktris yang berperan dalam film terkait. Sepintas, ini bukanlah sesuatu yang baru, bahkan bisa dibilang mirip dengan publicity stunt yang kerap dilakukan oleh beberapa brand komersial. Akan tetapi, pola ini semakin terbentuk dari tahun ke tahun, dan semakin lumrah dilakukan di 2020.

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles