X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Perempuan dalam Sinema Indonesia

By
GetCraft
 •
August 19, 2020

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Perempuan dalam Sinema Indonesia

By
GetCraft
.
August 19, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Perempuan dalam Sinema Indonesia

By
GetCraft
.
August 19, 2020

Salah satu artikel yang dimuat di harian Kompas tahun 2011 menarik membahas tentang kehadiran perempuan segala usia di industri film nasional. Sejak kecil, citra gadis kecil tidak begitu banyak dan mendominasi layar perak. Anak-anak kecil dengan berbagai permainannya tampil dan mewarnai lebih banyak film Indonesia. Beranjak dan beranjak dewasa, memang benar kehadiran perempuan sudah menjadi keharusan dalam setiap film nasional. Sayangnya, mereka hadir untuk menonjolkan kecantikan, keseksian, dan kesediaannya untuk memanjakan diri di beberapa bagian tubuhnya, sehingga menjadi daya jual tersendiri untuk menarik penonton. Sedangkan pada wanita dewasa dan tua, figur wanita yang paling banyak ditampilkan sebenarnya adalah wanita tua yang banyak bicara, berpengetahuan luas, menakutkan, dan menyebalkan. Sosok yang ditampilkan jauh dari sosok wanita terhormat dan wanita yang memang memiliki kontribusi positif bagi lingkungan. Sebuah gambar, ironisnya, masih bisa disaksikan dan mendominasi industri film nasional saat ini.

Penulis pernah menyaksikan penggambaran representasi perempuan di perfilman nasional saat melihat proses produksi film untuk televisi (FTV). Dalam sebuah bidikan, adegan tersebut membutuhkan kerumunan orang dari dua bintang utama yang sedang bertemu di lokasi tersebut. Saat itu, pilihan penonton yang hanya menjadi latar belakang adegan ternyata merupakan figuran yang tetap mengandalkan kecantikan dan keseksian mereka. Mengenakan pakaian ketat dan menunjukkan beberapa lekuk tubuhnya, ekstra wanita ini adalah bagian dari strategi film untuk meningkatkan jumlah penonton. Sekadar bertindak sebagai latar, pilihan para wanita muda dan seksi ini terkesan terlalu dipaksakan dan tampil tidak wajar. Dengan demikian, keterwakilan perempuan Indonesia yang semakin kuat di dunia perfilman nasional masih berdampak negatif bagi banyak kalangan.

Seperti yang terjadi di dunia barat. Banyak wanita juga menyukai peran yang hanya tampil dengan memperlihatkan bagian tubuh mereka. Di Indonesia saat ini juga banyak perempuan yang menikmati peran dan kehadirannya di layar bioskop. Keberanian memerankan adegan percintaan atau menampilkan keseksian, justru menjadi jembatan untuk menjadi terkenal dan lebih berkarir di dunia film. Banyak artis baru yang rela tampil nyaris telanjang hanya untuk dikenal dan eksis di industri perfilman nasional. Kondisi tersebut pada akhirnya membuat representasi perempuan dalam film nasional tidak jauh berbeda dengan yang dialami dalam peran dan kehadiran perempuan dalam film asing. Mereka eksis hanya untuk mempermanis, menonjolkan lekuk tubuh atau bagian tubuh tertentu, dan rela tidak terlalu diperhitungkan kemampuan aktingnya. Kondisi yang terus mewarnai perfilman nasional dari dulu hingga saat ini.

Kajian tentang representasi perempuan termasuk dalam industri film merupakan salah satu kajian yang paling banyak dieksplorasi dalam membahas representasi. Permasalahan ini menjadi menarik karena perjuangan kesetaraan gender dan gerakan feminis yang kini berkembang di dunia seakan belum menyentuh kehadiran perempuan di layar bioskop. Di layar bioskop, meski selalu mendapat tempat dan hadir di layar bioskop, namun keberadaan perempuan dalam film sebenarnya tidak mendapat tempat yang diperhitungkan dari segi kemampuan akting yang ditampilkannya. Di sisi lain, banyak kehadiran dan peran perempuan dalam industri film hanya mengandalkan fisik, sehingga lebih dikenal keseksian dan ukuran anggota tubuh tertentu. Sebenarnya, wanita lebih dikenal luas karena kecantikan dan keseksiannya daripada kemampuan aktingnya yang luar biasa. 

Kondisi serupa juga terjadi di industri perfilman nasional. Representasi perempuan di layar bioskop Indonesia selalu dilihat hanya karena kecantikan dan keseksiannya. Faktanya, stereotipe perempuan yang terbagi dalam kelompok umur tidak mencerminkan kualitas akting mereka di layar perak. Di sisi lain, mereka kerap digambarkan sebagai seniman yang sekadar lewat atau sekadar mencari popularitas dengan keberanian memanjakan diri di bagian tubuh tertentu. Representasi yang juga didukung oleh sebagian besar wanita yang juga ingin terkenal dengan menjadi seniman. Kondisi yang masih terjadi hingga saat ini di industri perfilman nasional.

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya
Tags:

Related articles