X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Patron Syndicate: Media Alternatif dari Warung Jamu

By
Pandji Putranda
 •
May 15, 2020

Saya mengenal Patron Syndicate sejak namanya masih Paguyuban Pamitnya Meeting. Kala itu, circa 2016, saya kebetulan ikut nongkrong bareng angota-anggotanya di warung jamu sebelah rel Stasiun Duren Kalibata. Saya biasa mampir ke sana sepulang kerja dari daerah Gondangdia, barang segelas dua gelas, yang pada akhirnya berlanjut menjadi sebuah rutinitas.

Kenapa "Paguyuban Pamitnya Meeting"? Seingat saya, nama itu tidak lebih dari sekadar alasan sepele yang kadang terasa dipaksakan. Pingin keluar minum jamu, tapi bingung cari alasan ke pasangan? Bilang aja "ada meeting". Ampuh? Ya... setidaknya untuk beberapa waktu.

Obrolan-obrolan yang hadir di warung jamu adalah obrolan jujur yang mengalir apa adanya tanpa pretensi. Barangkali karena dorongan alkohol(?) Namun begitu, warung jamu sendiri adalah salah satu representasi paling riil dari kehidupan akar rumput. Pengunjungnya macam-macam dan hampir menyinggung semua lapis sosial dari berbagai latar belakang. Semuanya bercengkrama, rukun atas nama jamu.

Saya tidak ingat kapan lagi menyaksikan tukang ojek dengan santainya ngegosipin pejabat bareng perwira TNI, atau kapan lagi residivis rutan adu pantun dengan satpam ruko terdekat. Sama halnya seperti nonton bokep, semua berhak berbahagia di sini. Tanpa terkecuali.

Kali ini, Crafters ngobrol bareng dua anggota Patron, Bhagavad Sambadha dan Sabda Armandio. Keduanya, bersama anggota Patron yang lain, menginisiasi media alternatif dalam bentuk kanal YouTube maupun Zine yang dapat diakses publik. Simak perjalanan mereka yang bermula di warung jamu.

Laman situs Patron Syndicate dapat diakses di sini

Boleh ceritakan sedikit tentang profil Patron Syndicate? Apa yang menjadi inisiatif terbentuknya "paguyuban" ini?

Bhaga: Patron itu dulunya Paguyuban Pamitnya Meeting (PPM). Awalnya kami bikin itu karena suka nongkrong di warung jamu. Terus lama-lama rasanya kok bosen. Akhirnya muncul ide untuk bikin sesuatu. Nggak sekadar nongkrong-nongkrong hore doang.

Tujuannya sih pingin bikin media alternatif. Maksudnya media yang punya narasi lain dari media arus utama, yang kemudian berkembang jadi kanal. Enaknya punya media sendiri menurut gue adalah kita bisa bebas nentuin  apa yang mau dibahas, apa yang nggak perlu dibahas, lalu siapa yang mau kita kasih panggung dan siapa yang nggak.

Prinsipnya, kami percaya bahwa yang namanya media punya tanggung jawab ke publik. Jadi kami berusaha sebisa mungkin agar topik-topik yang dibahas tuh yang berkenaan langsung dengan kepentingan publik.


Dio: Jadi Patron Syndicates ini awalnya PPM, terus Bhaga bingung PPM mau diapain. Daripada di-stop, dia ajakin gua buat join. Gua tertarik karena sejalan sama value yang gua percaya. Sejak gua gabung, gua nawarin konsep media yang community-driven dan di dalamnya fokus ke isu-isu lokal, area sekitar kita, tempat hidup kita.

Selain itu, kita membahas isu yang dianggap kurang-penting-padahal-penting-banget kayak identitas, hal-hal domestik. Karena pendekatannya lebih mengedepankan subyektivitas, jadi kami lebih menganjurkan kreator untuk ‘curhat’ tentang lingkungan mereka, apa yang mereka khawatirkan sebagai warga, sebagai korban dari kelompok dominan. Gua percaya itu penting.


Bagaimana proses kurasi konten kalian? Dari mulai menentukan topik bahasan hingga narasumber yang kompatibel untuk topik terkait?

D: Proses kurasi konten dilakukan secara serius. Kita pilih penulis yang selama ini semacam kurang dikenal: entah karena gender, atau karena ga dapet tempat. Kita pilih mereka yang memang kita tahu konsisten membahas isu yang spesifik di bidang masing-masing. Dan kita mengutamakan perempuan penulis, komikus dan ilustrator, dan pengennya temen-temen dari luar jawa bisa ikut.


B: Yang paling penting menurut kami, lagi-lagi, adalah apakah topiknya punya kaitan dengan kepentingan publik. Misalnya ada topik yang lagi naik, kalau ternyata nggak ada untungnya buat diskursus publik, gue pribadi sih males ngerjain lebih lanjut. Misalnya yang kemarin rame isu konspirasi. Itu kan menyinggung kepentingan publik karena ngomongin problem kesehatan. Tapi toh itu disinformasi. Jadi gue males nanggepin, males ngasih panggung untuk isu kayak gitu.

Proses kurasi narasumbernya juga kebanyakan dari lingkungan terdekat kami. Kami kenal beberapa teman yang jelas track record-nya di isu tertentu, yang jelas credentials-nya. Jadi sebenarnya lebih ke temen-temen sendiri aja yang memang capable untuk ngebahas isu terkait.

Baca juga: Cynantia Pratita: Bersenang-senang lewat Konten Media Sosial

Bagaimana kalian melihat dan menanggapi tren konten kreator, khususnya di Indonesia?

D: Ya, bagus. Di satu sisi menambah nilai bagi profesi mereka: copy writer, graphic designer, videographer, animator, dan sebagainya. Semakin banyak ngerjain proyek kan semakin bagus portofolionya. Tapi, di sisi lain, dan ini yang paling menyebalkan dari apa yang pemerintah bilang ‘industri kreatif’ adalah banyak kreator-kreator ini tidak dibayar sesuai pekerjaan mereka. Malah kadang berani-beraninya bilang dibayar dengan exposure.

Ini jadi serba salah juga buat kreatornya. Di satu sisi mereka butuh tempat untuk memamerkan karya mereka, di sisi lain dengan konsep pembayaran yang nggak jelas, klien yang pakai jasa mereka melipatgandakan keuntungan dari hasil kerja teman-teman kreator. Kalau dipikir sepintas lalu, mungkin, sebagian orang akan berpikir: ya udahlah, ya. Tapi di sisi lain, sikap itu bikin masalah eksploitasi ini jadi semakin suram. Ia adalah akar beracun dari sistem yang nggak berpihak pada pekerja, pada pencipta, seniman. Itu masalah sistemik, yang dalam jangka panjang sangat buruk kalau diwajarkan.

Atau dianggap biasa aja, atau diamini dengan sikap: ya, mau gimana lagi?


B: Sekarang ini semua orang bisa dibilang media. Semua orang punya kanal untuk bersuara. Bahkan nggak sekadar bersuara, ya. Orang-orang juga jadi punya power untuk mengamplifikasi suaranya lewat banyak platform media sosial.

Buat gue, setidaknya, kalau dari sisi media alternatif, gue jadi penasaran dengan perbedaan-perbedaan bahasan yang muncul di media arus utama dan media alternatif. Gue jadi pingin tahu layer yang lain untuk satu isu yang sama. Misalnya ada narasi A yang lagi populer, gue akan coba lihat: ada nggak sih narasi-narasi lainnya yang mungkin lebih penting untuk diskursus publik?

Kalau ternyata ada, ya, kami bikin. Sesederhana itu. Gue mengakui semua orang berhak untuk ngomong, tapi balik lagi, hak gue juga untuk mau dengerin lo atau nggak, kan?


Bagaimana kalian menghadapi situasi pandemi ini? Apa saja tantangan yang kalian hadapi?

D: Tantangannya, karena timnya kecil. kami cuma lima orang, jadi kesusahan bagi waktu aja. Sejauh ini juga kami pakai dana pribadi. makanya, kalau pembaca GetCraft mau ikut patungan tentu akan sangat membantu. hahaha.

B: Perkara pandemi ini sebenarnya rumit karena faktornya banyak bener. Tapi beberapa hal yang bisa gue pelajari dari situasi ini adalah, pertama, sistem kita -baik itu ekonomi maupun politik- ternyata tidak siap untuk menghadapi krisis semacam ini.

Anak-anak haluan kiri mungkin akan bilang kalau kapitalisme nggak siap menghadapi krisis, sedangkan anak-anak politik mungkin akan bilang kalau demokrasi sebagai produk pasca-PD II ternyata nggak cocok juga untuk menghadapi situasi ini. Perspektifnya bisa macem-macem.

Tapi pada intinya gue yakin kalau sistem yang berlaku saat ini ternyata memang tidak didesain untuk mampu bertahan menghadapi krisis semacam ini.

Kedua, relasi horisontal, atau relasi sesama warga negara, itu lebih penting ketimbang relasi vertikal, atau relasi antar warga negara dengan negara. Kita jadi belajar bahwa memang lebih baik mengandalkan solidaritas sesama warga, atau relasi horisontal. Ya saling bantu, saling jaga. Bentuknya bisa berupa sumbangan, atau hal-hal kecil seperti bantu orang jualan, dan semacamnya.


Menurut kalian, apa hal terbaik yang bisa dilakukan seseorang selama masa pandemi ini?

D: Perhatikan orang-orang terdekat, yang kita sayangi atau peduli, dan lingkungan tempat kita hidup. Perhatiin isu negara jelas perlu, negara lagi sering cari gara-gara belakanhan, tapi yang paling realistis dalam keadaan kayak sekarang mungkin hal-hal yang bisa kita jangkau bisa jadi prioritas. Selain itu banyak juga inisiatif untuk donasi, belum lama ini ada aplikasi "bagirata" yang bantu distribusi uang kita buat mereka yang kehilangan pekerjaan. Itu keren banget.


B: Pertama, lo bisa mulai untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitar. Buat gue, musuh terbesar kita tuh ignorance. Dan kita bisa mulai coba untuk lebih peduli, dan lebih peka dengan lingkungan sosial di sekitar lo. Hal-hal ini pada akhirnya juga akan membuat lo lebih peduli terhadap tanggung jawab sosial lo. Bahwa lo tahu kalau lo hidup tuh nggak sendirian. Selain butuh dibantu, ternyata kita juga butuh untuk membantu. Bersolidaritas itu juga ternyata kebutuhan karena pada dasarnya ya kita makhluk sosial.

Coba dikikis ignorance-nya dan mulai lebih peduli dengan orang-orang di sekitar lo.

Untuk donasi ke Patron Syndicate, silakan klik tautan ini
Baca juga: Remotivi: Upaya Mengangkat Isu Media dan Politik yang Kering Menjadi Populer


Patron Syndicate: Media Alternatif dari Warung Jamu

By
Pandji Putranda
.
May 15, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Patron Syndicate: Media Alternatif dari Warung Jamu

By
Pandji Putranda
.
May 15, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles