X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Papermoon Puppet Theatre: Bercerita Lewat Rasa

By
Andhini Puteri
 •
March 12, 2020

Dalam sebuah pencapaian, eksistensi, apresiasi, dan interpretasi selalu berjalan beriringan. Tidak valid rasanya mengukuhkan eksistensi tanpa ada apresiasi. Dan apresiasi tak akan ada tanpa adanya interpretasi dari penikmatnya.

Bicara eksistensi, kepopuleran seni pertunjukan, seni rupa, dan dunia pendidikan seni di Indonesia sudah makin jamak penikmatnya. Tapi bagaimana dengan teater boneka, seni yang menggabungkan ketiganya?

Di Cape Town, Afrika Selatan, kelompok teater boneka Handspring Puppet Company sudah berdiri sejak 1981. Sementara Amerika punya Tom Lee Projects, yang gaungnya tak kalah dengan Teater Broadway. Di Indonesia sendiri, kesenian ini sesungguhnya sudah ada sejak sangat lama, meski dengan bentuk yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Wayang Potehi, wayang boneka hasil akulturasi budaya peranakan Tionghoa-Jawa yang diadaptasi dari kesenian di Tiongkok sejak 265 Masehi.

Sayangnya, keberadaan teater boneka sejak zaman dahulu itu tak menjamin kepopulerannya. Ini dia hal yang lucu. Kesenian yang terbilang kuno ini baru menjadi perbincangan di scene kreatif Tanah Air, justru ketika berhasil menyentuh generasi millennial di Indonesia. Adalah Papermoon Puppet Theatre dari Yogyakarta yang menjadi pionirnya.

“Semua bermula dari pertanyaan.”

Pernyataan inilah yang mengawali terciptanya kisah-kisah mengharukan dalam setiap naskah yang diciptakan Maria Tri Sulistyani (Ria) untuk pementasan Papermoon Puppet Theatre. Selaku pendiri, sutradara, penulis naskah, manajer, direktur, kadang juga menjadi pembuat dan pemain boneka di Papermoon, Ria dan sang suami, Iwan Effendi (Direktur Artistik Papermoon), selalu mengawali proses penciptaan naskah dengan kata “Kenapa?”

Pertanyaan bersifat kontemplatif ini terbukti berhasil menggali begitu banyak hal. Dari representasi kondisi sosial, politik, dan sejarah, seperti dalam kisah “Secangkir Kopi dari Playa”; kisah cinta berlatar belakang tragedi 1965, atau kisah tentang kehilangan orang tersayang karena penyakit dalam pementasan “Surat ke Langit”.

“Saya pribadi selalu tertarik dengan kisah sederhana yang bisa menyentuh emosi penonton,” ungkap Ria.

Menyentuh lewat rasa

Secara logika, bagaimana menyampaikan pesan pada penonton lewat boneka yang tercipta dengan satu ekspresi saja? Bagi Ria, kekuatan cerita, kemampuan menghidupkan objek, dan teknik pembuatan boneka menjadi hal yang sama pentingnya dengan kemampuan penyutradaraan, penataan musik, bahkan tata lampu dan manajemen produksi dalam pementasan teater boneka.

“Tiadanya unsur verbal dalam pementasan, membuat kekuatan elemen lain menjadi penting,” ujarnya. Untuk emosi yang tidak bisa disampaikan secara langsung lewat bahasa verbal dan perubahan mimik wajah ini, Ria menyampaikannya melalui gestur, musik serta tata lampu. Dan yang terpenting; lewat rasa! “Karya kami memang tidak menempelkan unsur tradisi yang langsung bisa dinilai lewat mata,” ujarnya.

Papermoon Puppet 4
Papermoon Puppet 5

Teater boneka tak lagi hanya untuk anak-anak

Teater boneka yang biasanya ditujukan untuk anak-anak mengalami perkembangan pangsa pasar, di mana orang dewasa juga menikmati konsep pertunjukan ini. Menurut Ria, boneka adalah media yang reseptif, bisa diterima semua orang. Mereka bisa membawakan cerita dengan tema apa pun dengan media teater boneka.

Dari perjalanannya mementaskan Papermoon hingga ke Inggris, Amerika Serikat, Jepang, India, Korea Selatan, Australia, Singapura, Belanda, hingga Skotlandia, ia menemukan animo masyarakat Indonesia nyatanya sama apresiatifnya dengan di luar negeri.

“Bahkan kami merasa penonton di Indonesia itu sangat siap mengapresiasi pementasan teater boneka dengan segala eksperimennya,” ujarnya. Baginya, penonton di Indonesia dan di luar negeri sama-sama terbuka dan ingin tahu banyak. Penghargaan terbesar bagi Papermoon adalah kursi penonton yang selalu terisi setiap kali pementasan dan penonton adalah juri terbaik bagi mereka.

Satu-satunya teater yang aktornya harus diciptakan dulu

Apa yang sering dirasakan para puppeteers dulu sebenarnya cukup ironis, ibu satu anak ini juga merasa bahwa teater boneka sering dianggap kurang cool karena identik dengan citra kekanak-kanakan. Tak ada yang menyadari bahwa proses pengerjaan pentas teater boneka menghabiskan waktu sangat panjang, tentu karena aktornya harus dibuat dulu sebelum latihan. Dibutuhkan passion dan ketekunan untuk pelakunya.

Hal lain, pemainnya pun tidak mudah dikenal. Sebut saja Elmo di Sesame Street, semua pasti kenal sosok ini tapi siapa yang kenal Kevin Clash, sosok yang menghidupkannya? Bergelut di dunia ini memang benar-benar perlu kecintaan dan ketekunan karena ketenaran bukanlah iming-iming nomor satu di dunia teater boneka.

Seni pertunjukan memproduksi peristiwa, ilmu pengetahuan, dan pengalaman yang akan memperkaya dan membekali seseorang, baik pelaku maupun penontonnya.
Papermoon Puppet 1

Di Indonesia, untuk membuat teater boneka semakin berkembang, tak hanya ketekunan dan passion pelakunya yang dibutuhkan, melainkan juga kesempatan dan bantuan dana.

Kesempatan, karena sulit memunculkan pelaku baru yang akan mengembangkan teater boneka, jika masih banyak orang belum mendapat kesempatan untuk bisa mengapresiasi dan menonton pentas teater boneka.

Sementara hal berikutnya, bisa dibilang merupakan masalah umum dunia seni pertunjukan: keterbatasan dana. “Seni pertunjukan memproduksi peristiwa, ilmu pengetahuan, dan pengalaman yang akan memperkaya dan membekali seseorang, baik pelaku maupun penontonnya. Selama hal ini tidak disadari oleh lembaga, instansi penyandang dana, maka seni pertunjukan sulit berkembang,” ungkap Ria.

Pesta Boneka

Akhir 2016 kemarin, Pesta Boneka diselenggarakan untuk ke lima kalinya. Festival internasional teater boneka kontemporer dua tahunan ini digagas oleh Papermoon dan berlangsung sejak 2008. Sejumlah alasan dikemukakan Ria tentang hal yang menggerakkannya membuat festival ini.

“Papermoon seringkali mendapat kesempatan tampil dan menonton pementasan teater boneka di mancanegara. Kami ingin membagi pengalaman asyiknya menonton keragaman pentas teater boneka dengan audiens kami di Indonesia,” ujarnya.

Ia juga berharap, l festival ini akan banyak melahirkan kelompok teater boneka baru di Tanah Air. Maka Pesta Boneka ia jadikan ajang untuk memberi kesempatan bagi seniman lokal untuk mencoba membuat pementasan teater boneka, meskipun pelakunya berasal dari disiplin ilmu yang berbeda.

“Ini adalah festival teater boneka eksperimental, yang diperuntukkan bagi karya-karya seni yang non tradisi. Kami ingin mengundang lebih banyak seniman untuk keluar dari zona nyaman dan membuat hal yang baru dalam festival kami,” ujar Ria.

Akibatnya, kini Gaung Papermoon Puppet Theatre semakin terdengar. Karya-karyanya justru digemari karena terasa universal dan kerap dinilai “bisa bicara untuk banyak orang” meskipun dibawakan dengan cara yang berbeda.

Dan meski inovasi dan perkembangan teknis dari setiap pementasannya semakin memunculkan visual yang membuat mata tak berkedip, kunci dari segala kesuksesannya tetap kembali pada satu kata: rasa.

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Papermoon Puppet Theatre: Bercerita Lewat Rasa

By
Andhini Puteri
.
March 12, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Papermoon Puppet Theatre: Bercerita Lewat Rasa

By
Andhini Puteri
.
March 12, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya

Related articles