X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Meromantisasi Kesehatan Mental Pekerja Kreatif

By
MLR
 •
July 3, 2020

Mitos seniman yang tersiksa telah tumbuh menjadi kepercayaan yang diamini oleh masyarakat luas. Kita menjumpai pujangga depresif, pelukis temperamental, penulis yang ketergantungan narkotik; seperti Van Gogh yang melukis “The Starry Night” saat melawan ketergantungan alkohol dan gangguan kecemasan akut; Slyvia Plath yang meninggal bunuh diri setelah memasukkan kepalanya ke dalam oven gas; pun Frida Kahlo yang melukis rasa sakitnya baik secara fisik maupun emosional.

Sejarah dipenuhi oleh deretan seniman yang kehilangan akal sehat. Sampai rasanya menjadi "wajar" untuk mengasosiasikan ihwal kegilaan dengan kehidupan seorang seniman. Alih-alih pudar, stigma negatif ini justru kian melekat berkat menjamurnya biopik yang mendramatisasi kehidupan seniman terkait.

Meromantisasi gangguan kesehatan mental dalam kaitannya terhadap proses berkesenian semakin menjadi-jadi. Selain di film biopik, upaya romantisasi ini juga populer dibahas dalam buku dan berbagai platform jejaring sosial.

Tentu jalan hidup para "seniman naas" ini nggak berlaku untuk setiap seniman. Ada juga, kok, yang dapat mengelola kesehatan mental dengan tepat dan masih bisa melahirkan karya-karya ngetop. Namun, rasanya kisah tragis yang diangkat ke media populer terlalu sayang jika dilewatkan. Padahal stigma ini justru kontraproduktif dan berbahaya bagi seniman generasi baru.

Pertanyaannya kemudian: apa benar kreativitas berhubungan erat dengan gangguan kesehatan mental? Apakah dengan kamu memiliki gangguan kesehatan mental, lantas membuat karya seni yang kamu buat otomatis menjadi bagus? Pertanyaan ini lalu dikaji lebih mendalam oleh para peneliti di The Karolinska Institutet, Swedia.

Sejumlah peneliti Karolinska Institutet menemukan lebih dari 1,2 juta orang dalam industri kreatif tidak lebih rentan menderita gangguan kejiwaan dibandingkan populasi masyarakat Swedia umumnya. Meski demikian, pelaku industri kreatif di Swedia memang cenderung menderita gangguan bipolar.

Temuan ini sejalan dengan diagnosa terhadap seniman masa lalu. Yakni pada surat Edgar Allan Poe dan karya tulisannya. Pada kedua medium itu, Poe  menggambarkan gejala umum gangguan bipolar seperti perubahan suasana hati, energi, dan tingkat aktivitas yang ekstrem.

Dalam suratnya kepada James Russel Lowell pada 2 Juni 1844, Edgar Allan Poe menulis:

Aku terlalu malas dan rajin secara bersamaan. Akibatnya, aku bisa diam selama berbulan-bulan dan akhirnya terbangun akibat mania untuk membuat sesuatu. Lalu aku menulis sepanjang hari dan membaca sepanjang malam selama penyakit itu kambuh.

Ada banyak tipe gangguan bipolar, tapi hampir semuanya memiliki fase turun naik yang sama dan dikenal sebagai episode manik (hipomanik) dan penurunan suasana hati secara intens (depresif). Dalam surat tersebut, Poe menyebut kata mania dengan jelas. Perubahan drastis antara produktivitas ekstrem dan perasaan depresi tersebutlah yang kemudian cenderung didramatisasi dalam film-film biopik seorang seniman. Pada perkembangaannya, gambaran dalam film itu turut berkontribusi mengokohkan reputasi seniman yang tersiksa di masyarakat.

Baca juga: Kenapa Karya Seni Bisa Mahal Banget?

Banyak orang berandai-andai bagaimana jika seniman tersohor yang telah wafat bertemu dengan psikiater kontemporer. Kira-kira diagnosa macam apa yang akan muncul dari pertemuan keduanya, terlebih dengan perkembangan ilmu kejiwaan sejauh ini? Selain itu, banyak juga yang bertanya-tanya bagaimana seseorang dapat menghasilkan karya seni menakjubkan dan mendapatkan titel “karya yang melampaui zamannya”. Untuk pertanyaan terakhir, Kay Redfield Jamison barangkali punya jawabannya.

Psikolog klinis Kay Redfield Jamison telah menulis banyak buku tentang temuan-temuannya mengenai tingkat gangguan suasana hati yang timpang, atau psikopati di antara para pekerja kreatif. Kebanyakan subyek penelitiannya adalah penulis, seniman, dan komposer terkenal seperti Robert Schumann. Dia juga membahas bagaimana temperamen atau gaya kognitif yang terkait dengan beberapa gangguan kejiwaan dapat meningkatkan kreativitas.

Saat seseorang berada dalam episode manik, ia bisa sangat fokus sekaligus gelisah. Tubuhnya merasa hanya perlu beristirahat sedikit. Sekilas, hal ini bisa dilihat sebagai keuntungan sementara.

Ketika berkarya dalam pengaruh episode manik, ketajaman biologis dan kewaspadaan tubuh menjadi berlipat ganda. Tubuhmu  dapat merespons dunia dengan jangkauan perubahan persepsi emosional, intelektual, perilaku, serta energi yang luas. Terdengar seperti proses kreatif pada umumnya, bukan? Meski begitu, karya yang dihasilkan berpotensi inkoheren dan akan berlanjut pada situasi depresif akut -yang akibatnya bisa fatal.

Tesis Redfield Jamison tersebut bisa dijadikan "pembenaran" bagi mereka yang percaya akan mitos seniman yang tersiksa. Namun, perlu diingat bahwa proses penelitian yang menjadi dasar temuan Redfield Jamison telah dikritik karena terlalu mengandalkan ukuran sampel yang relatif kecil dengan metodologi yang juga nggak konsisten. Walau disangsikan, jika dihubungkan dengan penelitian lebih anyar pada 2017, temuan Redfield Jamison nggak 100% isapan jempol.

Kajian Schizophrenia and Creativity: A Meta-Analytic Review (2017) oleh International Center for Studies and Creativity di Buffalo State menemukan adanya sedikit korelasi antara skizofrenia dan kreativitas. Para peneliti menyimpulkan jika dalam takaran sedang, gejala skizofrenia bisa saja mendukung kreativitas seseorang. Sementara pada gejala yang lebih berat, dapat mengurangi kreativitas seseorang dan berbahaya bagi diri mereka sendiri.

Baca juga: Patreon: Oase bagi Para Kreator Multimedia

Problem kesehatan mental dan hubungannnya dengan proses kreatif sangatlah kompleks. Sekalipun banyak seniman tersohor dengan gangguan mental ekstrem yang hidupnya berakhir tragis, beberapa aspek dari gangguan kesehatan mental ada kalanya "konstruktif" bagi kreativitas itu sendiri.

Di sisi lain, makin banyaknya penelitian terkait hal ini, malah makin sedikit bukti yang bisa didapatkan. Pengecualian yang ditemukan oleh penelitian Karolinska Institute dalam hubungan antara gangguan kesehatan mental dan kreativitas dalam profesi kreatif adalah penulis. Karolinska Institute menemukan bahwa seorang penulis lebih berpotensi besar mengalami gangguan bipolar, skizofrenia, unipolar, depresi, gangguan kecemasan, kecanduan obat-obatan, dan bunuh diri. Walau terbukti dalam penelitian tersebut, gangguan kesehatan mental nggak lantas membuat seseorang bisa menjadi penulis yang baik.

Studi komparatif dalam jurnal “Occupations and The Prevalance of Major Depressive Disorder” oleh Universitas Hopkins pada 1990 menemukan bahwa profesi pengacara juga punya kemungkinan besar untuk mengalami gangguan depresi kronis. Lalu, data statistik CDC 2012 menyebutkan dari 17 negara bagian AS, grup pekerja yang memiliki angka bunuh diri tertinggi adalah petani, nelayan, dan orang yang bekerja di departemen kehutanan.

Jadi, apakah mempertanyakan sebuah bidang profesi tertentu dan kaitannya dengan gangguan kesehatan mental masih relevan? Apakah gangguan kesehatan mental hanya menyasar para pekerja kreatif dan menafikan para pekerja di sektor lain? Bagaimana dengan definisi "kreatif" itu sendiri? Apakah seorang akuntan, guru, pengolah data, dan lain semacamnya nggak tergolong profesi yang membutuhkan kreativitas? Bahwasanya kreativitas dibutuhkan oleh banyak profesi dari varian dimensi, dan tentu tidak berlaku hanya bagi para pekerja kreatif semata.

Gangguan kesehatan mental pada seniman; sama seperti akuntan, pengacara, dan profesi lain; adalah sesuatu yang nyata dan serius. Saat kamu butuh bantuan, kamu bisa meminta bantuan dan menghubungi para profesional yang terlatih. Apa yang menjadikanmu seorang seniman, atau seorang pakar di bidang apapun, tidak serta-merta menyangkut masalah kesehatan mental.

Terlepas dari kamu mengalami gangguan kesehatan mental atau enggak, kamu bisa menjadi orang yang sensitif terhadap dunia sekitarmu.

Alih-alih meromantisasi gangguan kesehatan mental, bagaimana jika kita mencari apa yang mendorong kita untuk berkarya? Barangkali jika kita lebih fokus menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa membentuk ulang topik mengenai dari mana seni itu berasal, dan pada akhirnya menghilangkan stigma "seniman naas" ini.

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Meromantisasi Kesehatan Mental Pekerja Kreatif

By
MLR
.
July 3, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Meromantisasi Kesehatan Mental Pekerja Kreatif

By
MLR
.
July 3, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles