X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Melintasi Batas-batas Ruang Fisik dan Virtual bersama Teater Pandora

By
Pandji Putranda
 •
May 15, 2020

Seni pertunjukan teater seringkali dirujuk sebagai seni mempermainkan ruang dan tubuh. Konsep ini menjadi pilar utama yang menopang hampir seluruh aktivitas teater. Sebagai seni pertunjukan rekreatif, seni teater boleh jadi merupakan salah satu bentuk seni tertua yang memiliki tingkat kompleksitas luar biasa.

Jangankan jadi pelakon, jadi penonton saja tidak sederhana. Berbeda halnya dengan film, misalnya, posisi duduk kamu saat menonton pertunjukan teater sangat menentukan pemaknaan terhadap adegan yang tengah berlangsung. Kamu duduk di baris depan, kamu akan mendapati lanskap panggung yang ideal; menonton di tribun belakang, kamu akan melihat skema panggung secara keseluruhan (bird-eye view), dan menonton dari samping, kamu akan menyimak para pelakon dalam mode portrait yang lebih menonjolkan peran mereka masing-masing.

Teater Pandora menjadi unik karena mereka tidak terpaku pada penggunaan panggung secara konvensional. Alih-alih panggung pertunjukan, mereka lebih gemar mempermainkan ruang publik. Mereka bisa berlakon di mana saja. Dari kafe pinggir jalan hingga di sisi-sisi meja restoran. Teater Pandora mencoba menerabas batasan-batasan tak kasatmata antar pelakon dan penonton lewat seni pertunjukan yang jauh dari monoton.

Crafters berkesempatan ngobrol-ngobrol dengan sutradara Teater pandora, Yoga Mohamad. Kali ini, Yoga akan bercerita mengenai awal mula kelahiran Teater Pandora, mimpi-mimpi dan inisiatif kolektifnya, tantangan yang mereka hadapi, serta bagaimana cara bertahan di tengah situasi pandemi ini.

Laman IG Teater Pandora dapat diakses di @teaterpandora

Boleh ceritakan sedikit tentang profil Teater Pandora? Apa makna di balik kata "Reaktor" dalam nama kalian dan apa yang membuat komunitas ini berbeda dari komunitas teater pada umumnya?

Teater Pandora lahir tanggal 24 september 2014. Para pendirinya ialah pegiat seni di kampus Universitas Indonesia, dari berbagai angkatan dan jurusan. Ada pegiat seni dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Sospol (FISIP). Awalnya mereka berkolaborasi, bikin pentas mandiri. Eh, ternyata cocok dan satu visi: berkesenian harus total dan serius. Semuanya adalah orang-orang yang serius berkesenian. Akhirnya bersama-sama memutuskan untuk mendirikan kelompok sendiri.

Makna kata "Reaktor" itu berbeda dengan reaksioner dalam istilah ilmu politik. Reaktor itu bisa berarti beberapa hal. Satu, redefining actor, artinya mendefinisikan ulang makna menjadi seorang aktor. Apa makna barunya? Sampai sekarang, sih, kami melihat kerja seorang aktor itu adalah kerja menemukan diri sendiri, dan berlatih terus menerus untuk berempati. So being an actor artinya being a human. Kami punya istilah, kita ini bukan full time actor, tapi hanya “parti time actor, full time human” (aktor paruh waktu, manusia purna waktu, insya Allah). So, belajar menjadi seorang aktor itu output-nya bukan pentas, terkenal, terus dapat uang. Tapi kerja seorang aktor adalah belajar terus menerus menjadi wong.

Kalau kata Bagus, salah satu aktor Pandora, konsep mempermainkan ruang inj sebenarnya adalah gerakan kebudayaan atau rasa protes terhadap kurangnya ruang kebudayaan buat anak muda di indonesia. Pemerintah ngomongnya e-commerce melulu, infrastruktur melulu. ngomong pembangunan manusia cuma omong kosong.

Kita suka slogan dari Terrence Mann, yaitu “television will make you rich, movies will make you famous, but theater will make you good”. Nah, bagi kami, tugas utama kami adalah menjadi baik dulu. Hehe...

Reaktor juga bisa berarti semangat untuk bertindak atau beraksi (act) terhadap permasalahn sosial yang ada. Bentuk acti-nya adalah karya. Maka setiap karya Pandora pasti membahas permasalahan sosial, permasalahan manusia. Dari mulai soal cinta, keluarga, sampai sosial politik. dan reaktor itu seperti reaktor nuklir, yang selalu panas dan siap. Siap kapanpun untuk diledakkan! Maka, mau ada pentas atau nggak, kami selalu latihan intens. Kami harus terus menerus mempersiapkan diri, mengasah kemampuan, belajar, belajar, dan berlatih.

Bahkan di masa pandemi, kami tetap rajin berlatih, seminggu bisa tiga kali lewat google meet.

Apa saja kegiatan kalian selama fase pandemi (lockdown, dll)? Apa yang berubah, dan bagaimana cara kalian beradaptasi?

Teater Pandora sejauh ini mengadakan latihan rutin yang bertajuk #latihandirumah. Ini juga sekaligus jadi salah satu langkah kami dalam upaya mempermainkan ruang. Biasanya kami pentas di mana aja, sekarang kami  juga latihan di mana aja. Nggak harus kumpul dalam satu ruangan yang sama.

Latihan ini diadakan setiap minggu di hari Jumat. Terbuka juga untuk teman-teman Pandora, baik itu penonton maupun pengikut Pandora di kanal-kanal media sosial. Tapi selain itu kami juga mengadakan latihan reguler tiap hari Selasa yang khusus buat anggota Pandora aja.

Karena situasi seperti ini membuat waktu untuk berkumpul di satu tempat bersama-sama jadi tidak memungkinkan, sementara banyak anggota Pandora yang 'kangen' latihan, akhirnya diinisiasi lah #latihandirumah ini yang sekarang sudah sampai di sesi ketujuh.

Lewat hal ini, kami juga dituntut untuk beradaptasi dengan pertemuan dan latihan-latihan virtual. Jadi kami coba melihat platform apa saja yang tersedia, dan sekiranya sesuai untuk tetap menunjang proses latihan. Kami pinginnya ini tetap massal, tetap kolektif, jadi kami memutuskan pakai platform yang bisa menampung lebih dari 10 orang.

Baca juga: Papermoon Puppet Theatre: Bercerita Lewat Rasa

Apa rencana kalian setelah situasi kembali normal?

Pentas. Tentu saja. Sejauh ini sudah ada empat pentas kami yang terpaksa ditunda karena situasi pandemi. Mudah-mudahan setelah pandemi ini berakhir, kami akan mengadakan pentas. Gue sendiri rencananya pingin bikin pentas besar di panggung yang besar juga. Tapi berhubung Graha Bakti Budaya (GBB TIM) sedang direnovasi, mungkin proyek ini juga akan ditunda dulu, atau barangkali akan cari gedung pertunjukan alternatif yang proporsional.

Lalu kami pingin tur. Kami berencana keluar dari Depok dan Jakarta. Sudah ada beberapa tawaran main di Bandung, Yogyakarta, bahkan Solo. Selebihnya kami hanya ingin balik ke sanggar dan latihan lagi seperti semula. Tidak muluk-muluk.


Ada tips untuk teman-teman di rumah dalam menghadapi situasi pandemi?

Teruslah hidup. Yang kita butuhkan sebenarnya adalah ruang untuk berkumpul, bertukar cerita, curhat, dan sebagainya. Platform yang diciptakan Pandora ini sebenarnya untuk menyiasati ketersediaan ruang semacam itu. Ruang untuk berbagi dan saling mengingatkan satu sama lain, bahwa kita nggak sendirian dalam menghadapi situasi ini. Jangan juga jadi terbebani dengan apa yang bermunculan belakangan ini.

Oh, dan jangan lupa cuci tangan!

Melintasi Batas-batas Ruang Fisik dan Virtual bersama Teater Pandora

By
Pandji Putranda
.
May 15, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Melintasi Batas-batas Ruang Fisik dan Virtual bersama Teater Pandora

By
Pandji Putranda
.
May 15, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles