X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Lizzie Parra: Jadi Influencer Harus Jujur, Jangan Banyak Polesan

By
Andhini Puteri
 •
March 17, 2020

Berapa banyak orang yang keluar dari pekerjaan tetap dan bekerja sebagai freelancer demi mengikuti passion? Dan berapa banyak yang benar-benar “berhasil”? Yang jelas, beauty blogger Lizzie Parra adalah salah satunya.

Dalam perjalanan karier, Anda memang harus mencoba paling tidak sekali saja mengambil sebuah keputusan besar, yang bisa jadi Anda sendiri tidak yakin apakah keputusan itu tepat atau sebaliknya, menjatuhkan karier Anda.

Passion dan pekerjaan memang kerap tak berjalan beriringan, namun menurut survei, pekerja yang menyukai pekerjaannya lebih percaya bahwa mendapatkan “dream job” itu sangat mungkin terjadi. Seperti Lizzie Parra tadi, blogger, make up artist, yang juga pemilik brand lipstik BLP ini membuktikannya, meski tahapannya juga tak mudah dilalui. Seperti apa? Berikut obrolannya:

Kapan persisnya kamu​ berkenalan dengan dunia kecantikan?

Pertama kali kenal dunia make up itu saat tahun terakhir kuliah, di mana dulu kita diminta untuk membuat activity di kampus; dan aku memutuskan untuk buat beauty class. Karena memang, pada saat 2009 itu, belum banyak beauty class. Akhirnya aku door-to-door dari satu brand ke brand yang lain, nawarin proposal untuk datang ke kampus dan bikin make up workshop.

Nah, dari situ kecintaan aku terhadap dunia beauty makin meningkat, sampai akhirnya aku masuk L’Oreal; dan di kantor itu aku makin banyak belajar otodidak. Jadi sebenarnya inspirasi aku di dunia make up ya selama 2,5 tahun aku bekerja di L’Oreal.

Apa yang membuat kamu​ memutuskan keluar dari pekerjaan, dan berprofesi sebagai make up artist?

Yang bikin aku merasa harus keluar dari pekerjaanku lebih karena merasa terjebak di dalam comfort zone sih. Saat itu juga aku merasa bisa melakukan sesuatu yang lebih dari yang aku jalani saat itu; dan kebetulan, karena aku suka make up, akhirnya aku memilih untuk mencoba berkarier sebagai make up artist. Awalnya berat, tapi kerja keras memang selalu membuahkan hasil, jadi aku pun enggak pernah berhenti berusaha, hingga saat ini.

Sementara karier sebagai blogger sendiri baru aku mulai setelah sekitar satu setengah tahun bekerja sendiri sebagai make up artist. Aku memulainya dengan bikin video di YouTube. Pada saat itu (2011), YouTube belum terlalu booming, jadi waktu itu yang lihat paling teman-teman saja.

Dan karena dunia blogging makin berkembang di Indonesia, didukung kesukaan aku menulis, aku pun mulai menulis dari pertanyaan orang-orang tentang rekomendasi make up, tutorial, sampai review. Jadi dari 2011, aku mulai konsisten menulis di blog dan merilis video di YouTube.

lizzie parra 1
Foto: Dok. pribadi

Apakah ada strategi khusus untuk karier baru sebagai blogger dan make up artist ini?

Strategi yang aku buat lebih ke soal branding. Nama asli aku kan Elizabeth Christina Parameshwari​, dan aku merasa harus lahir kembali dengan identitas baru. Untuk “nama panggung”itu aku menggunakan singkatan nama lengkapku, yaitu Lizzie Parra; dan mulai menyematkannya dalam project foto buat majalah.

Selain soal nama, untuk blog-nya juga, aku cukup detail mengatur segi tampilan atau desainnya, mulai dari ukuran font yang dipakai, bentuk teks, sampai apa yang sedang dibahas. Pokoknya fokus strategi paling utama itu branding, tentang seperti apa aku ingin orang melihat Lizzie Parra.

Kamu​ lebih ingin dikenal sebagai make up artist atau beauty influencer?

Aku lebih ingin dikenal sebagai beautypreneur, atau enterpreneur di bidang beauty, karena aku make up artist juga, beauty influencer, dan beauty blogger juga. Aku sekarang kan punya brand juga, jadi aku lebih ingin dikenal sebagai beautypreneur.

Menurut kamu​, apa sih ukuran sukses seorang beauty influencer?

Menurut aku, sebenarnya enggak ada ukuran sukses yang gimana banget, karena aku enggak menganggap beauty influencer itu sebagai profesi, tapi lebih ke hobi. Jadi aku enggak bisa bilang juga apa tolak ukur kesuksesannya, karena aku memang enggak punya KPI khusus sebagai beauty influencer. Lagi-lagi, kegiatan itu adalah hobi, dan untuk keperluan sharing, jadi enggak ada KPI khusus.

Lalu, bagaimana tentang bekerja sama dengan brand?

Menurutku, intinya jujur dengan apa yang ingin kita sampaikan. Tanpa disadari, seorang influencer itu bisa memengaruhi hidup orang lain; jadi kalau kamu seorang influencer, mau kontennya tentang makanan, traveling, fashion, atau beauty, pastikan kamu bersungguh-sungguh, enggak dipoles-poles. Jadi misalkan produk yang di-review memang bagus dan terasa hasilnya, pasti responnya juga positif dan brand akan senang. Dan kalau produknya enggak oke, aku enggak mau.

Apa yang mesti dipertimbangkan influencer, terkait pemilihan media?

Kalau ingin detail dan mencatat, lari ke blog. Kalau mau sharing informasi cepat, Instagram lebih pas, karena memang instan, dan ada fitur Story juga. Jika mau memberikan tutorial, YouTube mungkin lebih tepat. Jadi tidak ada media yang lebih baik dari yang lain. Semua tergantung kebutuhannya.

Apa taktik kamu​ saat membuat konten?

Karena aku enggak punya KPI, dan aku hanya sharing karena caring, dan enggak dipaksa, jadi kalau misal ada kerja sama dengan brand, biasanya aku tanya dulu kebutuhannya. Kalau untuk jualan banget, aku enggak mau dan langsung kasih tahu dari awal; apalagi kalau produknya enggak cocok, aku pasti bilang: “Ini enggak cocok lho, jadi aku enggak bisa review nih.” Jadi semua yang aku posting di media sosial adalah hasil percobaan sendiri, dan aku enggak akan share hal-hal yang aku belum coba langsung.

Aku sharing karena care, dan enggak dipaksa, jadi kalau misal ada kerja sama dengan brand, biasanya aku tanya dulu kebutuhannya. Kalau jualan banget, aku enggak mau dan langsung kasih tahu dari awal; apalagi kalau produknya enggak cocok, aku pasti bilang.

Bagaimana cara kamu mempertahankan eksistensi?

Aku kan sudah lama, dari 2009. Waktu baru masuk itu, sebagai beauty blogger, lalu setelahnya beauty vlogger. Nah, pada saat mulai vlogging itu, angkatan aku mulai vlogging sekarang sudah jadi senior di antara para beauty vlogger baru. Dan yang menurutku membuat aku bertahan adalah dengan tetap ter-update dengan perubahan dan hal-hal yang terjadi saat ini; misalnya ngobrol sama mereka yang lebih muda, dan tanya-tanya apa yang sedang jadi tren. Aku juga enggak segan untuk bertanya, karena itu cara kita bisa tetap keep up dengan apa yang benar-benar terjadi saat ini.

Menurut kamu, kesalahan apa yang sering dilakukan beauty influencer di media sosial?

Kadang, mereka tidak menjadi diri mereka sendiri, atau mereka capek dengan apa yang harus di-share. Lalu, kalau aku lihat juga, sekarang ini, para influencer muda ini sangat, sangat, sangat number oriented; parah! Mereka kurang menghargai proses, jadi kalau kenaikan followers hanya sedikir, mereka jadi stres, merasa gagal. Hal itu sering banget aku dengar di komunitas ini. Hal yang terjadi karena mereka tidak benar-benar mengikuti proses sebenarnya. Maka itu akhirnya banyak yang jadinya beli followers, padahal bodong dan enggak ada value-nya.

Apa rencana kamu sendiri untuk ke depannya?

Aku ingin settle dengan BLP, dan ingin BLP makin besar, dan bisa sampai di negara-negara tetangga. Lalu juga berkeluarga, dan menghabiskan banyak waktuku dengan keluarga dan BLP.

Banyak influencer berkualitas seperti Lizzie Parra yang telah bergabung di GetCraft untuk menawarkan jasa sponsored content untuk para klien di seluruh Indonesia. Ingin tahu influencer mana saja yang sudah gabung? Yuk lihat di sini!

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Lizzie Parra: Jadi Influencer Harus Jujur, Jangan Banyak Polesan

By
Andhini Puteri
.
March 17, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Lizzie Parra: Jadi Influencer Harus Jujur, Jangan Banyak Polesan

By
Andhini Puteri
.
March 17, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya

Related articles