X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Kenapa Karya Seni Bisa Mahal Banget, Ya?

By
MLR
 •
June 26, 2020

Bulan Mei 2019, sebuah patung dijual dengan harga fantastis. Patung bernama Rabbit (dengan bentuk kelinci berwarna perak dan terbuat dari bahan reflektif) karya Jeff Koons yang dibuat pada 1986 ini dibeli seharga US$ 91.1 juta (sekitar Rp 1,2 triliun) oleh seorang anonim yang diwakilkan oleh ahli galeri Robert Mnuchin, mantan mitra Goldman Saschs, pendiri Galeri Mnuchin di Manhattan, dan ayah dari Menteri Keuangan Steve Mnuchin.

Angka ini mencetak rekor baru untuk karya paling mahal dari seniman yang masih hidup.

Jeff Koons Rabbit - Dok. BBC

Meski begitu, angka puluhan hingga ratusan juta US$ bukanlah hal baru di dunia seni. Seringkali kita mendapati kabar seniman menjual karyanya dengan harga fantastis. Seperti Sotheby Hong Kong yang menjual sepasang lukisan dari pelukis keturunan Cina-Perancis, Zao Wou-Ki, seharga US$ 65.1 juta dan US$ 11.5 juta.

Lalu pada 2017, "Salvator Mundi," lukisan yang telah lama hilang dan diduga merupakan karya Leonardo da Vinci yang kemudian menjadi subyek teori konspirasi, dijual di seharga US$ 450 juta. Menjadikannya sebagai karya seni termahal yang pernah ada.

Jika menurutmu angka tersebut sudah nggak masuk akal, tunggu sampai kamu tahu berapa omset penjualan pasar seni global secara keseluruhan. Secara garis besar, pasar seni global - yang meliputi penjualan galeri, pameran seni, dan lelang - menghasilkan angka penjualan sebesar US$ 67.4 miliar pada 2018. Naik 6% dari 2017 menurut laporan tahunan Art Basel and UBS tentang pasar seni global.

Walau bukan hal baru, penjualan karya Koons menjadi sebuah anomali di dunia seni sendiri. Selain karena ia masih hidup, angka yang fantastis ini juga dipengaruhi oleh para pemain yang terlibat dalam pasar itu sendiri. Penjualan ini didorong oleh sekelompok kecil kolektor kaya yang membayar harga tinggi untuk karya-karya yang dibuat oleh kelompok seniman kecil, yang kemudian lantas diwakilkan oleh sejumlah kecil galeri bergengsi.

Baca juga: Desain Subliminal dalam Iklan

Di lain sisi, sebagian besar karya seniman yang masih hidup lainnya tak akan pernah bisa dijual hingga enam bahkan tujuh digit, sementara galeri yang mewakili mereka akan semakin terus tertinggal pasar seni.

Kenyatannya, kebanyakan karya seni tidak dihargai semahal itu. Hanya sedikit seniman yang masih hidup yang benar-benar kaya dan terkenal. Sebagian besar lainnya, tidak akan pernah dapat mencapai strata kehidupan seniman seperti Jeff Koons, Damien Hirst, dan Yayoi Kusama.

Yang sudah-sudah, seorang seniman butuh mencari galeri yang dapat mewakili mereka. Terdengar mudah, tapi prosesnya cukup sulit. Henri Neuendorf, seorang Associate Editor di Artnet News mengungkapkan kepada Gaby Del Valle di Vox, jika para kurator sering mengunjungi pameran lulusan MFA sekolah seni untuk mencari bakat baru bagi galeri seni mereka. Begitulah langkah pertama mayoritas lulusan sekolah seni muda untuk menjejakkan kaki ke dalam dunia seni professional.

Mendapatkan gelar Master of Fine Arts (MFA) atau Magister Seni sendiri bukanlah hal mudah dan murah. Di tahun 2014, 10 program kuliah Magister Seni menghabiskan rata-rata US$ 38 ribu atau sekitar Rp 54 juta per tahun. Berarti, satu orang setidaknya harus punya sekitar US$ 100 ribu atau Rp 1,4 miliar untuk bea perkuliahannya.

Jadi, beberapa kurator berusaha untuk memperkaya isi galeri mereka lewat pencarian di luar kerumunan lulusan seni. Meski demikian, dunia seni jauh dari kata beragam. Khususnya di kalangan seniman ngetop. Gaby Del Valle mengutip, penemuan tahun 2014 oleh para seniman kolektif BFAMFAPhD nenemukan bahwa 77,6% seniman yang berhasil mencari nafkah dengan menjual karya seni mereka adalah golongan kulit putih. Sekitar 80% dari jumlah seniman yang lulusan sekolah seni juga terdiri atas golongan orang kulit putih.

Seniman yang menonjol dalam sebuah pameran kelulusan atau skena lainnya juga berpeluang untuk muncul di pameran kolektif seniman-seniman baru. Jika karya mereka terjual, mereka bisa mendapatkan kesempatan mengadakan pameran solo. Jika pameran tersebut lancar, biasanya karier mereka akan melejit.

Neuendorf mengatakan jika karya seniman baru ini pada umumnya dihargai sesuai dengan ukuruan dan medium yang dipakai. Sebuah lukisan yang besar biasanya dihargai US$ 10 ribu hingga US$ 15 ribu - dengan catatan karya di medium kanvas dihargai lebih tinggi daripada karya yang menggunakan kertas, dan karya di medium kertas bernilai lebih tinggi dibanding medium cetak. Saat seorang seniman berhasil diwakili oleh galeri terkenal - seperti David Zwirner atau Hauser & Wirth - prestise penjual tersebut dapat menaikkan niali karya seni hingga berkali lipat, sekalipun seniman yang mereka wakili belum punya nama. Terlepas dari prestise seniman atau galeri, penjual biasanya mengambil potongan 50% dari harga jual karya.

Masalah kemudian timbul ketika ruang eksibisi bagi seniman baru berkurang. Penutupan galeri kecil memangkas potensi kemunculan seniman baru dan penjual karya. Menurut laporan UBS and Art Basel tahun 2018, jumlah galeri yang tutup lebih banyak daripada jumlah yang buka pada 2017. Sementara itu, galeri yang lebih besar membuka banyak cabang demi menjawab kebutuhan pasar global. Dan para penjual karya seni makin sering ditunggu-tunggu kehadirannya di pasar seni internasional seperti Armory Show dan Art Basel.

Olav Velthuis, Profesor Universitas Amsterdam yang mempelajari sosiologi seni, mengungkapkan bahwa penutupan galeri kecil ini diakibatkan dari meningkatnya festival seni. Dalam sebuah kolom untuk New York Times, Vlethuis menulis jika festival-festival seni, yang biasanya diselenggarakan dengan mencatut harga booth sebesar US$ 50 ribu hingga US$ 100 ribu membuat galeri seni kecil kesulitan untuk mendapat hasil penjualan yang layak.

Namun, mengingat potensi festival untuk menjaring para kolektor kaya dalam membeli karya seni, banyak galeri kecil yang tak punya pilihan lain selain ambil bagian di festival tersebut.

Galeri kecil cenderung mewakili seniman baru. Ini menjadi kekurangan bagi penjual karya seni dan seniman yang mereka wakili. Kepada Vox, Velthuis mengungkapkan jika permasalahannya ada pada permintaan karya seni yang tidak merata di antara seniman yang masih hidup. Alih-alih membeli karya seniman yang masih bernapas, kebanyakan kolektor malah mengejar sekelompok kecil seniman. Itulah yang membuat harga semakin melejit.

Baca juga: Pelajari Komposisi Golden Ratio

Pasar seni berfungsi sebagai mesin konsensus pemasaran. Jadi, yang dilakukan oleh banyak orang adalah melihat tanda kualitas. Tanda-tanda kualitas tersebut biasanya berputar di apa yang disampaikan seorang kurator mengenai seniman tersebut; di museum mana ia pameran dan siapa kolektor berpengaruh yang membeli karyanya. Saat semua orang mengenali tanda tersebut, para kolektor akan menetapkan siapa seniman yang paling diinginkan pasar.

Dengan kata lain, mahalnya karya seniman tertentu adalah karena konsensus dunia seni bahwa karya-karya itu harus dijual tinggi. Dan karena seni adalah "pasar untuk benda-benda unik," tambah Velthuis, ada juga dorongan untuk menilai seni sebagai produk dengan kelangkaan yang tinggi.

UBS dan Art Basel mengungkapkan bahwa hanya 0,2% seniman yang memiliki karya dengan nilai jual melebihi US$ 10 juta. Sementara 32% dari US$ 63 miliar+ penjualan seni pada tahun 2017 berasal dari karya-karya yang terjual dengan harga lebih dari US$ 10 juta.

Analisis Artnet pada tahun yang sama menemukan bahwa hanya 25% dari artis menyumbang hampir setengah dari semua penjualan lelang kontemporer dalam semester pertama 2017. Tiga di antaranya ialah seniman perempuan.

Ilustrasi ini adalah contoh yang jelas dari konsep “siapa yang menang, dia yang paling diuntungkan”. Pendapatan dan untung di dunia seni tidak terbagi dengan merata. Meski pada prinsipnya ini bukan masalah, namun jika dilihat dari segmen menengah, di mana banyak galeri kecil kesusahan bertahan, praktik ini justru merugikan. Galeri-galeri kecil terpaksa tutup, sementara seniman baru sulit mendapatkan panggung. Hal yang buruk bagi keberlangsungan ekologi seni.

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Kenapa Karya Seni Bisa Mahal Banget, Ya?

By
MLR
.
June 26, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Kenapa Karya Seni Bisa Mahal Banget, Ya?

By
MLR
.
June 26, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles