X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Jatuh Bangun Sinema Korea Selatan

By
GetCraft
 •
July 16, 2020

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Jatuh Bangun Sinema Korea Selatan

By
GetCraft
.
July 16, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Jatuh Bangun Sinema Korea Selatan

By
GetCraft
.
July 16, 2020

Perkembangan sinema sebuah bangsa adalah refleksi dari perkembangan dimensi yang berlapis -ekonomi, sosial, politik, kultural, kapital, yang seringkali juga melibatkan pengaruh global. Produk sinema menjadi sebuah manifestasi kompleks. Motifnya tidak melulu komersial pun rekreasional. Ada masa di mana peran sinema menjadi garda bagi corong propaganda politik. Biasa dimanfaatkan negara-negara kolonial untuk mengatur arus informasi dan menyebarluaskan pengaruh mereka. Metode ini dikenal umum dengan istilah soft power. Jika kolonialisasi fisik dilakukan dengan serangan militer, maka metode ini menawarkan pendekatan ekonomi-sosial-politik yang lebih artifisial.

Dalam hal ini, sinema Korea adalah contoh yang tepat.

Dok. Pictures in Motion

Film sebagai Propaganda Politik

1919 - saat Korea masih dalam masa pendudukan Jepang, film-film asing mulai diimpor masuk Korea dengan pengawalan ketat dari militer Jepang. Di ruang pemutaran, seorang narator akan menerjemahkan isi film untuk penonton. Dan jika tidak ada orang Jepang di antara barisan penonton, narator akan menyelipkan narasi-narasi yang memuat satire dan kritik terhadap okupansi Jepang.

Di tahun ini pula, Korea memproduksi “film” pertamanya. Disebut “film” karena format yang pada saat itu disajikan lebih menyerupai kino-drama ketimbang film sungguhan. Kino-drama adalah bentuk pertunjukan yang menyatukan format audio-visual dengan format pertunjukan langsung (live performance) di saat bersamaan. Sama halnya dengan pertunjukan teater yang diiringi dengan latar belakang berisi footage

Namun begitu, format pertunjukan ini tidak bertahan lama. Pada 1924, barulah Korea secara resmi merilis film bisu (silent film) pertamanya, berjudul The Story of Janghwa and Hongryeon (장화홍련전). Sampai saat ini, Janghwa and Hongreyon sudah di-remake beberapa kali, dengan remake terakhir berjudul A Tale of Two Sisters (장화, 홍련) pada 2003 silam.

Film bersuara pertama kali muncul pada 1935, berjudul The Story of Chunhyang (춘향전). Mengisahkan roman klasik terkait relasi antar individu dengan latar belakang kelas sosial yang berbeda satu sama lain. Berbeda dengan publik Korea yang menyambut kehadiran film bersuara dengan antusias, pemerintah kolonial Jepang justru memperketat aturan penayangan dan pemberlakuan sensor terhadap mayoritas film di Korea. Tak lama berselang, badan sensor resmi dibentuk, dan seluruh film yang ingin ditayangkan di layar perak harus terlebih dahulu disahkan oleh badan sensor tersebut.

Imbasnya, selama masa pendudukan Jepang (1910-1945), hanya 157 film Korea yang lolos dan berhasil diputar. Itupun setelah disensor habis, dipotong sana-sini, dan diarsipkan ala kadarnya tanpa proses preservasi yang layak. Meski demikian, kekalahan Jepang di Perang Dunia II membuat Korea dapat menikmati kemerdekaan serta kebebasan berekspresi untuk sementara waktu. “Kemerdekaan” menjadi tema besar yang kemudian menjadi fondasi bagi banyak produksi film kedepannya. Misal, film Viva Freedom pada 1946 yang mengisahkan pejuang kemerdekaan di masa-masa terakhir melawan kolonialisme Jepang.

Tak lama, perang Korea pecah. Perang yang berlangsung pada 1950-1953 ini mengakibatkan perpecahan yang mengacu pada zona demiliterisasi Korea (Korea Utara dan Selatan) hingga hari ini. Di tahun-tahun ini, angka produksi film merosot jauh dan sejumlah besar infrastruktur sinema hancur menjadi puing-puing perang.

Usai gencatan senjata, Presiden Korsel Syngman Rhee (이승만) berniat membangkitkan industri sinema Korsel lewat pengenaan pajak. Serta merta angka produksi film meningkat tajam, dari hanya 6 film (1953) ke 111 (1959). Namun demikian, film-film yang diproduksi masih harus melewati kebijakan sensor dan harus menyuarakan tema besar nasionalisme. Film blockbuster perdana Korsel adalah remake dari film klasik The Story of Chunhyang (춘향전). Tahun berikutnya, film The Housemaid (하녀) dirujuk sebagai film terpenting, bahkan dianggap sebagai salah satu film Korsel terbaik sepanjang masa. Film ini di-remake pada 2010 dengan judul yang sama. 

1961 - kudeta militer oleh Park Chung-hee (박정희) menjadi tanda berakhirnya era renaisans sinema Korsel. Hukum perfilman (Motion-Picture Law) yang mulai diberlakukan tak pelak menekan angka produksi dan impor film Korsel secara signifikan. Lebih parah, jumlah rumah produksi dalam negeri juga dikurangi dan dibatasi, dari total 71 menjadi hanya 16 dalam rentang setahun.

Film yang memuat topik-topik “terlarang” seperti ideologi komunisme, seks, ataupun topik-topik yang dianggap dapat membahayakan citra bangsa juga ikut diberangus dengan segera. Rezim Chung-hee berniat mensubstitusi angka penjualan dari impor film ke penjualan domestik untuk memperbaiki kondisi kapital dalam negeri. Puncaknya, Korean Motion Picture Corporation dibentuk pada 1973 semata untuk mengedepankan misi ini. Meski dalam praktiknya, lembaga ini hanya berfungsi merilis film-film yang sesuai dengan agenda pemerintah. Dan karena film-film yang muncul dipandang sebagai produk propaganda, mereka tidak begitu populer di kalangan penonton. Di saat bersamaan, peredaran televisi yang makin marak juga berkontribusi terhadap penurunan angka penjualan sinema layar perak.

Dok. Pictures in Motion

Resureksi Sinema Korsel

Usai Chung-hee dibunuh pada 1979 dan disusul oleh peristiwa pemberontakan Gwangju pada 1980, perubahan konstelasi politik secara masif terjadi di Korsel. Pemerintah yang baru mulai mengurangi kontrol terhadap industri perfilman secara bertahap. Kebijakan perfilman direvisi, memungkinkan film-film independen untuk terjun ke kancah produksi, serta menyaring banyak bakat perfilman baru di skena sinema Korsel. Tahun-tahun ini menjadi titik awal di mana eksistensi sinema Korsel mulai mendunia. Film The Surrogate Woman (씨받이) pada 1987 membawa aktris Kang Soo-yeon (강수연) memenangkan penghargaan aktris terbaik dalam salah satu festival film ternama Venice Film Festival.

Kendati demikian, revisi terhadap kebijakan perfilman Korsel turut membuka gerbang bagi film-film mancanegara (baca: Hollywood) serta perusahaan produksi asing untuk masuk ke dalam negeri. Dan untuk pertama kalinya, film-film produksi Korsel harus bersaing dengan rilisan Hollywood atau Hong Kong dalam basis yang setara. Persaingan ketat ini menyebabkan keruntuhan kapital dalam industri sinema Korsel. 1993 menjadi tahun terburuk ketika angka penjualan film Korsel hanya mencapai 16% dari total pendapatan film Box Office.

Satu-satunya yang bisa dianggap sebagai benteng pertahanan terakhir industri perfilman Korsel adalah sistem kuota layar, yang memaksa ruang pemutaran film untuk menayangkan film-film dalam negeri selama 146 hari dalam setahun.

Pada 1992, film Marriage Story (결혼이야기) menjadi film domestik pertama yang didanai konglomerat lokal, seperti Samsung, Daewoo, dan Hyundai. Keterlibatan konglomerat dalam industri perfilman seperti ini lambat laun mengubah skema bisnis perfilman Korsel menjadi lebih terintegrasi. Untuk kali pertama, pendanaan, produksi, eksibisi, distribusi, promosi, hingga perilisan format rekam (home video release) dikontrol sepenuhnya oleh perusahaan swasta.

Di awal dekade ini pula, Pemerintah yang baru memiliki misi untuk mengkomodifikasi Korsel dalam aspek kultural dan produksi media secara lebih luas. Di samping sinema, musik (yang kini kita kenal dengan istilah K-Pop) juga mengalami ekspansi pasar besar-besaran. Hasilnya, industri film dan musik Korsel meroket dalam waktu singkat.

Lompat ke 1999, Samsung merilis film Shiri (쉬리) yang mengisahkan misi mata-mata Korut menjatuhkan pemerintahan Korsel. Film ini menjadi batu lompatan besar. Tidak hanya film action pertama dengan anggaran raksasa, Shiri juga menyabet kesuksesan Box Office yang mengungguli film-film Korsel terdahulu. Pada fase ini, perspektif sinema Korsel ikut bergeser. Film tidak lagi dipandang sebagai produk hiburan semata yang menafikan bibit-bebet-bobot. Film, pada akhirnya, perlu mengedepankan kualitas, nilai-nilai kultural, serta unsur populer yang mampu menjaring penonton dalam skala lebih luas. Perubahan mindset ini kemudian dinamai Korean New Wave. Beberapa dari film yang diproduksi di fase ini bahkan mengungguli angka penjualan film-film box office mancanegara seperti Titanic, The Matrix, dan Harry Potter.

Pada 2006, sistem kuota layar mereduksi durasi tayang film-film lokal dari yang sebelumnya 146 hari menjadi 73 hari setahun. Meski demikian, pengurangan ini bisa dibilang hampir tidak memberi pengaruh signifikan terhadap kinerja industri perfilman lokal. Alih-alih, industri perfilman Korsel justru semakin berkembang, dengan angka penjualan per tahun yang terus mengungguli angka-angka di tahun sebelumnya. Begitu pula halnya dengan sorotan internasional. Film-film Korsel mulai mendapat perhatian dan rujukan dari pelbagai festival film prestisius. Film Oasis (오아시스) pada 2002 menyabet juara dua dalam Venice Film Festival, Oldboy (올드보이) mendapat posisi kedua pada Cannes Film Festival 2003, sutradara Kim Ki-duk (김기덕) juga meraih penghargaan sebagai sutradara terbaik dalam Berlin Film Festival untuk film Samaritan Girl (사마리아) pada 2004. Dan semakin banyak nama-nama sineas Korsel yang mulai dikenal luas oleh audiens mancanegara.

Dok. Pictures in Motion

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles