X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Fedi Nuril: Serunya Membedah Skenario dan Mendalami Karakter

By
GetCraft
 •
May 14, 2020
(Dok Foto: GetCraft - Fedi Nuril)

Fedi Nuril memulai kariernya sebagai model majalah dan pertunjukan fashion. Setelah dua tahun menjadi model, circa 2002, perfilman Indonesia yang mulai bangkit menjadi titik tolak Fedi untuk terjun lebih jauh ke dunia seni peran.

Simak obrolan Crafters dengan Fedi Nuril tentang kiprahnya di industri hiburan, metode pendalaman karakter bagi seorang aktor, dan tanggapannya terkait fenomena influencer di Indonesia.

Bagaimana awal mula perjalanan karier Anda di industri hiburan?

Pertama kali saya terjun ke dunia hiburan sebagai model untuk fashion show dan untuk fashion spread majalah. Setelah dua tahun jadi model, sekitar tahun 2002, perfilman Indonesia mulai bangkit, dan modelling agency saya dihubungi produser film. Saya diminta ikut casting film-film mereka.

Film pertama saya, Mengejar Matahari, rilis tahun 2004. Lalu tahun 2006 saya ikut casting lagi untuk film Garasi dari Miles Production. Garasi bercerita tentang tiga orang anak muda yang ingin bikin band, mencoba berkarier di musik lah. Yang unik dari film ini adalah, selain berakting, saya dan dua pemeran utama lainnya juga harus menulis sendiri dan merekam lagu-lagu yang menjadi OST film ini.

Nah, di momen ini, cita-cita saya jadi musisi sejak SMP terkabul. Jadi model dan aktor itu enggak kepikiran sebenernya. Tapi tiba-tiba kesempatan itu datang. Setelah saya coba, saya pelan-pelan jatuh cinta dengan pekerjaan ini. Terlebih, setelah Garasi sudah turun layar, band-nya tetap diterima masyarakat. Jadi kami sempat tur manggung keliling Indonesia layaknya band profesional. Band ini bahkan sampai bisa merilis tiga album. Padahal kontraknya untuk satu album, dan itu album untuk OST filmnya aja.

Band Garasi bisa dilibang lagi vakum. Belum bubar seperti yang orang-orang pertanyakan. Hahaha. Kami masih terus mencoba bikin materi-materi baru. Kita lihat nanti, lah, kapan timing yang pas buat merilis ini.

Menyoal seni peran, bagaimana proses Anda dalam melakukan pendalaman karakter?

Kalau untuk proses pendalaman karakter, saya membedah skenarionya secara detail. Sebelum syuting itu ada proses reading (membaca naskah). Saya pribadi suka banget sama proses bedah skrenario. Kadang suka muncul pertanyaan-pertanyaan yang mungkin sepele, tapi saya malah penasaran, dan akhirnya proses reading-nya jadi lebih lama gara-gara hal itu. Hehehe.

Baca juga: Kunci Menjadi Beauty Influencer ala Uly Novita
(Dok. Film Mengejar Matahari)

Bagaimana Anda membedah skenario?

Mulai dari konsep 5W1H (What, Who, Why, When, Where, How). Lokasinya di mana, setting-nya kapan, latar pemainnya seperti apa di adegan ini, apa kejadian yang sedang berlangsung, kenapa hal itu bisa terjadi, dan seterusnya. Saya selalu menggali latar belakang terlebih dulu.

Nah, "Why" ini yang paling susah. Soalnya antara aktor dan karakter yang diperankannya punya pengalaman yang berbeda. Bagi aktor, kadang apa yang dilakukan karakternya bisa enggak masuk akal. Padahal mungkin si aktor belum pernah mengalami kejadian yang sama aja. Jadi enggak relate dengan keputusan yang diambil sama karakternya. "Why" cukup sering memancing perdebatan selama proses pra-produksi.

Semisal karakter saya mengalami kejadian A, saya bisa aja mikir kalau karakter saya akan melakukan hal B. Sementara ada berpendapat lain, kalau karakter saya mengalami hal A, berarti karakter saya harusnya akan melakukan hal C. Proses ini yang menurut saya seru banget. Dan saya bakal gali terus latar belakang karakter saya. Saya sampai sering menentukan sendiri, apakah karakter yang saya perankan ini berkepribadian plegmatis, sanguinis, melankolis, atau koleris. Aktor lain ada yang suka mengidentifikasi karakternya pakai horoskop. Tapi buat saya malah makin rumit. Hehe.

Saat menentukan sifat karakter ini, saya bakal coba menerapkannya juga di kehidupan sehari-hari. Misalnya karakter saya kidal, saya coba membiasakan diri pakai tangan kiri. Tanpa sadar, hal ini menjadi kebiasaan yang akan terbawa terus sampai proses syuting. Selebihnya, kalau kebiasaan karakter saya ini baik, saya lanjutkan aja sehari-hari. Tapi kalau kebiasaannya buruk, seringkali keluarga yang protes. Memang harus ada yang ngingetin, sih. Harus ada reality check-nya.

Bagaimana dengan pendalaman karakter di film-film serial, atau di film Anda yang punya sekuel, seperti Ayat-ayat Cinta misalnya?

Pendalaman karakter di film-film yang punya sekuel justru enggak serepot film yang satuan. Kalau ada sekuel, saya cuma perlu mengulang kembali sifat-sifat dari film sebelumnya. Kecuali ada konflik baru yang muncul. Nah, ini bisa jadi diskusi lagi karena aktornya belum tentu punya pengalaman yang sama seperti karakternya. Harus ada riset lagi untuk membuat motivasi karakternya masuk akal.

Kalau yang (filmnya) satuan, sih, biasanya lebih seru. Karena saya jadi punya kesempatan untuk terus bereksperimen dengan hal baru lagi. Apalagi kalau karakternya spesifik. Ya kakinya pincang, lah, punya logat khas, lah. Macam-macam. Akting dengan logat spesifik itu susah buat saya karena perlu waktu untuk membiasakan diri. Kalau dipaksakan malah jadi kelihatan pura-pura. Jadi aneh banget.

Pernah dapat logat apa saja?

Logat Jawa. Itu paling effort. Paling sering pula dapet peran jadi orang Jawa. Saya sendiri bukan orang Jawa dan suka dapat peran yang medok banget. Kalau terlalu dipaksakan ngomong medok, nanti bunyinya enggak terasa natural. Tekniknya ada, sih. Dialognya dibikin bahasa Jawa banget, terus saya latih baca berulang kali, lalu pas syuting diubah ke Bahasa Indonesia lagi. Cara itu cukup berhasil buat saya. Tapi tetap saja prosesnya makan waktu yang enggak sebentar.

Hal lain yang cukup membantu perkara logat logatan adalah lokasi syuting. Kalau lokasi syutingnya mendukung, misalnya dapat peran jadi orang Aceh, syutingnya di Aceh, dan karena itu jadi harus menetap di Aceh, pelan-pelan saya jadi ketularan cara berbicara orang Aceh. Natural aja gitu. Jadi bisa karena terbiasa.

(Dok. Film 5 Cm)

Apa yang paling berkesan selama berkarier di dunia hiburan?

Banyak. Saya jadi bisa pergi ke tempat-tempat yang bahkan awalnya enggak saya pikirkan untuk datangi. Baik itu di dalam ataupun di luar negeri. Misalnya waktu manggung sama Garasi di Muara Teweh. Tempatnya bagus banget. Sempet khawatir penontonnya bakal sepi, tapi ternyata rame pas udah naik panggung.

Lalu, bisa ketemu sama idola pas remaja. Enggak cuma ketemu, malah jadi temen nongkrong, temen diskusi. Termasuk pengalaman seru kayak di film 5cm. Aslinya saya bukan anak gunung. Kalau ada yang ngajak, saya mikirnya panjaaang banget. Tapi karena harus syuting di gunung dan beneran harus naik ke sana, akhirnya ngerasain sendiri kalau pengalaman naik gunung itu luar biasa.

Hal menarik lainnya dari profesi aktor adalah kemungkinan untuk memperoleh skill tambahan selagi proses pendalaman karakter. Saya pernah berperan jadi tentara, dan karena itu saya jadi perlu belajar cara menembak dan belajar survival di hutan. Saya juga pernah ngerasain punya istri lebih dari satu. Untungnya ini cuma film. Kalau kejadian beneran, pasti saya sudah habis di-bully. Hehehe.

Di sisi lain, profesi ini juga memancing perhatian banyak orang. Banyak orang, terutama audiens, yang ingin tahu lebih dalam soal kehidupan pribadi saya. Sedangkan saya cukup menjaga hal-hal apa saja yang bisa dijadikan konsumsi publik dan apa yang sebaiknya tetap privat. Bagaimanapun, perlu usaha ekstra untuk menghadapi fans. Harus sabar. Tapi lagi-lagi, eksistensi seorang figur publik berasal dari apresiasi mereka.

Bagaimana dengan film yang diadaptasi dari novel? Apakah Anda membaca novelnya juga? Film Supernova misalnya?

Saya baca (novelnya). Di satu sisi ada yang bilang kalau memerankan film saduran justru jangan baca novelnya, karena pasti beda banget. Kalau suka dengan bukunya, tapi kecewa pas baca naskah, bisa-bisa jadi enggak semangat syuting lagi.

Tapi di sisi lain ada juga yang bilang harus baca keduanya untuk memperkaya pendalaman karakter. Akhirnya saya baca dua-duanya. Ada momen waktu baca novelnya dan mikir kalau adegan ini pasti bakal keren banget, ternyata adegan yang dimaksud dipotong karena bikinnya susah. Saya sudah ikhlas sama yang begituan. Pada dasarnya novel dan film adalah dua medium yang berbeda. Enggak mungkin keduanya bisa menghasilkan output atau efek yang sama persis. Akhirnya, saya baca novel untuk mendapatkan referensi yang lebih detail dari karakter saya. Detail-detail yang mungkin enggak muncul di skenario.

Baca juga: 5 Hal yang Perlu Diperhatikan Gaming Influencer
(Dok. Film Ayat-ayat Cinta)

Bagaimana Anda melihat tren influencer di Indonesia?

Sekarang influencer tidak harus selebritas. Belakangan makin banyak micro-influencer, yang pengikutnya sedikit tapi engagement-nya relatif tinggi. Dalam konteks marketing, micro-influencer ini cukup berpengaruh. Begitu juga halnya dengan brand. Brand jadi punya lebih banyak opsi, tapi mereka harus ekstra teliti dalam mencari influencer yang pas. Apa micro-influencer ini growth-nya organik? Apa nilai engagement-nya real?

Tren ini menarik untuk diikuti. Orang-orang dengan latar belakang nonselebritas jadi punya andil dan kesempatan yang sama dalam menyebarkan pengaruh. Dan semuanya punya peran masing-masing yang enggak serta-merta nabrak satu sama lain. Jika seorang selebritas yang pengikutnya banyak cenderung lebih sibuk dan susah mengelola komunikasi dengan para pengikutnya, micro-influencer bisa lebih leluasa menjaga komunikasi dengan para pengikutnya yang enggak terlalu banyak

Para micro-influencer ini boleh saja tidak seterkenal selebritas, tapi mereka punya power untuk didengar dan mempengaruhi keputusan banyak orang.

Apa yang harus diperhatikan seorang influencer?

Spesialisasi. Masing-masing harus punya hal spesifik atau keunikan tentang dirinya. Audiens akan mencari influencer yang relatable dengan mereka. Hobinya sama, passion-nya sama, akhirnya muncul kesamaan. Dan enggak berhenti sampai di sini. Influencer perlu punya kekhasan agar bisa menarik audiens. Dua hal ini harus terus diolah secara konsisten. Cara seorang influencer "mengiklankan diri" harus spesifik. Dia juga harus paham tentang apa yang dia tahu, apa yang dia ngerti, kekurangan dan kelebihan dia, jadi bukan cuma asal posting.

Influencer, khususnya marketing influencer, enggak cuma asal jualan. Influencer utamanya membentuk jaringan, mengelola relasi dan komunikasi dengan audiens untuk menciptakan sesuatu yang mutualistik. Bukannya langsung ketemu orang, terus jualan. Tentu saja ini bukan perkara gampang.

Perlu waktu untuk menemukan ciri khas. Kalau kamu pingin jadi influencer, kamu bisa mulai pelajari cara kerja influencer yang kamu suka. Lihat caranya membawakan diri, "mengiklankan diri", caranya berinteraksi dengan audiens, sambil kamu pelan-pelan membangun jaringamu.

Klik tautan ini untuk berkunjung ke laman GetCraft Fedi Nuril.

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Fedi Nuril: Serunya Membedah Skenario dan Mendalami Karakter

By
GetCraft
.
May 14, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Fedi Nuril: Serunya Membedah Skenario dan Mendalami Karakter

By
GetCraft
.
May 14, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya

Related articles