X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Dimas Djayadiningrat: Membangun Narasi untuk Konten Video

By
GetCraft
 •
April 3, 2020
(Dok Foto: IG Dimas Djayadiningrat)

Nama Dimas Djayadiningrat hampir selalu muncul di layar-layar lebar tanah air era awal 2000-an. Film Tusuk Jelangkung (2003) menjadi debutnya sebagai sutradara, penulis, sinematografer, dan penyunting sekaligus. Ada masanya penonton bioskop kita rela antre mengular sampai ke luar gedung bioskop untuk demi sebuah film Indonesia, dan Tusuk Jelangkung adalah salah satunya.

Kali ini Crafters berkesempatan berbincang-bincang langsung dengan Dimas Djay. Kami bercakap-cakap tentang treatment lintas medium, serta cara membangun narasi yang baik untuk konten video ala Dimas Djay saat proses syuting.

Iklan Indoeskrim: Kisah Legenda Nusantara (2017) - Dimas Djayadiningrat

Baca juga: Dimas Djay: Iklan, Video Klip, dan Film

Bagaimana dengan metode penggarapanmu terhadap film, iklan, ataupun video klip? Apa yang membedakannya satu sama lain?

Semuanya hampir sama. Yang beda ya panjang pendeknya aja. Kembali lagi, semua berangkat dari ide. Ide yang terkonsep secara matang. Semuanya mutlak membutuhkan premis cerita. Begitu ceritanya jelas, selanjutnya lo tinggal main di durasi. Durasi ini yang menentukan cara bertuturnya. Kalau di film, bisa lumayan panjang karena bisa disisipkan subplot, kalau di video klip lebih lebih pendek, dan kalau di iklan ya lebih pendek lagi. Bahasanya harus dipikirkan baik-baik. Ada momen yang bisa lo aplikasikan dalam format film, tapi mustahil dalam format iklan. Begitu juga sebaliknya.

Buat gue pribadi, kalau gue diminta untuk bikin konsep storytelling dalam format iklan 30 detik, mending nggak usah sekalian. Gue nggak bisa soalnya *tertawa*. Mendingan lo ngasih gue durasi film 60 menitan sekalian daripada gue harus ngemas dalam format iklan 30 detikan.

Kalau di video klip, ya karena nggak ada dialog, otomatis nggak semuanya bisa diterangkan secara verbal. Yang menerangkan ya lirik dan musiknya sendiri. Selebihnya bisa disiasati dengan bahasa visual, personifikasi, metafor, macem-macem, tapi tetap implisit (tidak lisan, nirdialog). Contohnya buat lagu yang sedih. Kan bisa tinggal kasih gambar lagi nyanyi di kabut, nggak perlu dikasih cerita macem-macem lagi. Tinggal pakai visual language yang sesuai dengan liriknya.


Menyoal durasi, apakah menurutmu lebih susah untuk membangun narasi dalam durasi yang pendek?

Lebih pendek jauh lebih susah! Apalagi [iklan] 15 detik. Kadang, udahan durasinya 15 detik, mintanya banyak bener pula! Cara mengakalinya adalah dengan memberikan stopping point dan hook. Kalau nggak, penonton akan skip. Susah lho untuk menahan attention span penonton.

Then again, bobotnya tentu juga berbeda. Bobot di film tentu lain dengan bobot di iklan. Balik lagi ke iklan Ramayana, bobotnya cuma tentang tokoh yang pengen nyenengin orang tuanya, tapi ga punya duit. Sesederhana itu aja. Coba kalau plot itu diaplikasikan ke dalam format film. Pasti cabangnya banyak banget! Mulai dari kenapa tokoh ini nggak punya duit, keadaan orang tuanya gimana, dia memutuskan apa, dan seterusnya. Penjelasannya akan lebih panjang. SIngkatnya, pendalaman cerita bisa lebih dieksplorasi kalau formatnya film. Sedangkan kalau iklan jauh lebih sederhana. Tapi balik lagi, semuanya harus punya ide dasar yang kuat.

Baca juga: Dimas Djay: Kalau Gengsi Sih Harusnya Nggak Plagiat

Menurutmu, konten video yang baik tuh yang seperti apa sih?

Gue subjektif. Menurut gue [video] bokep itu baik *tertawa*. Karena yang penting adalah ketika penonton mendapatkan sesuatu setelah nonton. Mau itu sesuatu yang sedih, senang, mereka dapat knowledge baru. Dan ini berlaku buat apapun selama konsepnya jelas. Kalau lo bikin hiburan, katakanlah humor, lo harus tahu siapa yang mau lo bikin ketawa. Konsep hiburannya harus cocok dengan target yang lo sasar. Menghibur itu banyak macemnya, dan sebisa mungkin lo harus bisa orisinil.

Terkait pembuatan karya, isu orisinalitas ini jadi penting. Sekarang ini banyak banget produk yang plagiat. Dan parahnya kita jadi mulai terbiasa menyikapi itu. Bahkan ada di antaranya yang berdalih kalau karyanya bukan plagiat, tapi karena ‘terinspirasi’. Gue pernah lihat pemenang lomba konten yang pakai konsep iklan gue dulu (iklan StarMild). Sama persis plek ketiplek~

Begitu tahu, langsung gue tegur dong. Tapi ya.. yang ditegur ngerasa kalau karyanya itu ‘terinspirasi’ dari karya gue. Itu mah bukan terinspirasi namanya *tertawa*.

Kalau lo nggak paham bedanya ‘terinspirasi’ dengan ‘menjiplak’ atau ‘plagiat’, yaa.. Itu mah bego aja.

Harusnya tuh kita bangga sama karya kita. Punya gengsi lah seenggaknya. Gue aja gengsi kalau ngasih keynote. Jangan sampe lo malah bikin malu diri lo sendiri kedepannya.

Orisinalitas jadi penting karena dengan itulah lo mampu merangkul audience lo. Orisinalitas lo yang pada akhirnya membuat orang jadi nonton. Lo boleh terinspirasi dengan bahasa visual karya lain, lo bisa terinspirasi dari hook dan twist karya lain, tapi bukan berarti lo bisa serta merta nyomot hal-hal itu dari karya lain juga.

Dimas Djayadiningrat: Membangun Narasi untuk Konten Video

By
GetCraft
.
April 3, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Dimas Djayadiningrat: Membangun Narasi untuk Konten Video

By
GetCraft
.
April 3, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles