X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Dimas Djayadiningrat: Kalau Lo Punya Gengsi, Harusnya Sih Lo Nggak Plagiat~

By
GetCraft
 •
April 3, 2020
(Dok Foto: IG Dimas Djayadiningrat)

Nama Dimas Djayadiningrat hampir selalu muncul di layar-layar lebar tanah air era awal 2000-an. Film Tusuk Jelangkung (2003) menjadi debutnya sebagai sutradara, penulis, sinematografer, dan penyunting sekaligus. Ada masanya penonton bioskop kita rela antre mengular sampai ke luar gedung bioskop untuk demi sebuah film Indonesia, dan Tusuk Jelangkung adalah salah satunya.

Kali ini Crafters berkesempatan berbincang-bincang langsung dengan Dimas Djay. Kami bercakap-cakap tentang kecenderungan plagiat, serta tips bagi teman-teman yang ingin terjun sebagai videografer dan berkecimpung di dalam industri audiovisual.

Iklan Garuda Indonesia: Hands - Dimas Djayadiningrat

Baca juga: Dimas Djay: Iklan, Video Klip, dan Film

Menurutmu, apa sih plagiat itu? Apa batasannya sehingga sebuah karya bisa dikatakan plagiat?

[Praktiknya] memang abu-abu. Itu balik lagi ke diri masing-masing, sih. Kita nggak bisa mengawasi itu, apalagi mengontrolnya. Sebenernya, ya, kalau lo punya gengsi, harusnya lo nggak akan memplagiat karya orang lain ataupun karya yang udah ada.

Begitu lo mampu mengidentifikasi kesamaan dalam dua karya yang berbeda, bisa jadi itu plagiat. Tapi toh nggak sesederhana itu. Kalau misalnya cuma propertinya doang yang mirip, atau cuma adegan orang lari dari kiri ke kanan yang mirip, itu mah bego aja kalau ada yang nganggep plagiat.

Dulu iklan gue buat [Maskapai] Garuda pernah dibilang plagiat karena koreografinya sama kayak karya orang. Tapi setelah dilihat lagi, itu cuma gerakan standar ala balerina. Gerakan umum biasa aja sebenarnya. Yang kayak gitu, menurut gue malah aneh kalau dibilang plagiat. Ada hal-hal tertentu yang memang bisa terinspirasi. Misalnya setelah gue bikin iklan Gojek, terus gue liat ada iklan lain yang mirip, gue malah merasa dia ngikutin gue aja. Ya biarin aja *tertawa*.

Gue nggak marah sama orang lain yang jiplak karya gue. Terlebih kalau gue nggak kenal secara pribadi, biasanya paling gue tegur doang. Tapi beda cerita kalau sampai murid gue yang ketahuan plagiat. Gue bisa marah banget, tuh. Soalnya dia udah gue ajarin hal yang bener. Gue punya tanggung jawab sama dia.

Baca juga: Dimas Djay: Membangun Narasi untuk Konten Video

Kamu punya tips untuk para videografer pemula?

Kerjakan apa yang ingin lo kerjakan. Gue selalu bilang kalau “overthinking kills your happiness”. Banyak hal yang gue kerjain yang bersifat spontan. Jangan keburu takut sama mau klien. Kalau udah begitu, ide lo nggak akan keluar~

Percaya sama kekuatan dari spontanitas. Kayak iklan Ramayana lagi misalnya, pas adegan kepala ibu-ibu nongol dari dalam magic jar. Adegan itu nggak gue presentasikan sebelumnya [ke klien], karena Idenya muncul persis pas gue lagi ngecek set. Berhubung tempatnya sempit, sedangkan ukuran ibu-ibunya gede semua, gue masukin aja doi ke magic jar biar muat. Pas gue presentasi offline, kliennya toh seneng seneng aja. Anggap aja lagi ngetes jimat~ Kalau kliennya nggak seneng ya tinggal gue take out. Gampang kan?

Spontanitas itu penting banget. Kadang percikan ide itu muncul karena ramuan di kepala lo nongol gitu aja. Nah, itu harus bisa lo manfaatkan. Gue dulu selalu bawa catatan ke mana-mana biar nggak lupa. Sekarang gue juga masih suka nyoret-nyoret ide di hape. Setelah dicatat, lo bisa simulasikan kemudian. Kalau bagus, eksekusi. Kalau jelek, yaudah~ Seenggaknya lo memelihara spontanitas.

Kemudian saat lo melakukan riset untuk bikin konsep. Jangan cuma bergantung sama internet melulu. Offline source tuh banyak banget. Lagian kalau semua orang risetnya di internet, hasilnya ya sama aja, dong. Gitu lagi, gitu lagi. Lo googling, orang lain juga googling, yang nongol ya sama aja. Ini kecenderungan anak zaman sekarang yang gue sesalkan.

Kalau lo mau riset lo lebih organik, kenapa nggak sekalian aja lo tanya langsung sama target lo? Misalnya lo mau bikin soal tari Bali. Lo tanya aja sama penari Bali langsung. Kontak orangnya, wawancara, dan sebagainya. Lo kan dikasih mulut buat ngobrol. Jadi harusnya lo bisa cari data lain yang bukan dari hasil googling doang. Cara lainnya bisa juga dengan baca buku. Buku yang udah terakreditasi lho, ya. Nggak perlu juga harus langsung cari pakar, cari expert. Yang penting lo ngobrol sama orang yang terlibat langsung dengan topik yang lo incar.

Kadang, obrolan di warung kopi bisa lebih ‘organik’ ketimbang pencarian internet. Coba deh keluar dari comfort zone lo. Comfort zone itu ada kalanya mematikan [kreativitas]. Lo harus bisa menantang diri lo sendiri untuk keluar langsung. Nggak apa-apa menjadi bego di area yang baru lo mulai perdalam. Mendingan jujur aja jadi bego daripada pingin keliatan pinter dan jadinya malah jaim~

Esensi dari ‘berproses’ tuh adalah “being stupid for awhile”. Nggak masalah. Nggak apa-apa sama sekali. Gue juga begitu kok. Pernah ada masanya gue ngegarap proyek yang nggak gue ngerti. Tapi yaa… namanya juga belajar. Nggak apa-apa lah dianggap bego untuk sementara.

Gue masuk ke dunia iklan adalah cara gue keluar dari comfort zone gue dari ngegarap video klip. Begitu nyemplung ke iklan, gue harus mulai lagi dari nol. Dari paling bawah. Karena gue mau menggarap sesuatu yang jauh lebih besar, gue harus siap untuk hancur hancuran lagi dan ngebangun dari awal. Gue nggak bilang punya comfort zone itu salah lho ya. Intinya adalah jangan terlena sama hal itu. Lo harus punya dorongan untuk menantang diri lo sendiri.

Lo ngerasa oke di comfort zone lo. Proyekan aman, duit aman, nggak apa-apa juga. Tapi ketika lo dapat kesempatan yang sekiranya jauh lebih challenging dan di luar comfort zone lo, jangan sampai lo sia-siakan juga. Jangan malah lo tolak karena minder duluan. “Ah bukan gaya gue”, “ah nggak bisa gue bikin gitu”, dst dst. COba aja dulu. At least you learn something. Kalau memang beneran nggak cocok, ya nggak usah diambil lagi berikutnya.

Dimas Djayadiningrat: Kalau Lo Punya Gengsi, Harusnya Sih Lo Nggak Plagiat~

By
GetCraft
.
April 3, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Dimas Djayadiningrat: Kalau Lo Punya Gengsi, Harusnya Sih Lo Nggak Plagiat~

By
GetCraft
.
April 3, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles