X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Dimas Djayadiningrat: Iklan, Video Klip, dan Film

By
GetCraft
 •
March 26, 2020
(Dok Foto: IG Dimas Djayadiningrat)

Nama Dimas Djayadiningrat hampir selalu muncul di layar-layar lebar tanah air era awal 2000-an. Film Tusuk Jelangkung (2003) menjadi debutnya sebagai sutradara, penulis, sinematografer, dan penyunting sekaligus. Ada masanya penonton bioskop kita rela antre mengular sampai ke luar gedung bioskop untuk demi sebuah film Indonesia, dan Tusuk Jelangkung adalah salah satunya.

Kali ini Crafters berkesempatan berbincang-bincang langsung dengan Dimas Djay. Kami bercakap-cakap tentang perjalanan karier, proses kreatif, serta cara-cara unik ala Dimas Djay dalam menghadapi variasi tantangan selama proses syuting berlangsung.

Baca juga: Dimas Djay: Membangun Narasi untuk Konten Video

Boleh diceritakan proses kreatif di tiga medium yang biasa lo mainkan (Iklan, video klip, dan film)?

Yang terpenting adalah konten atau isinya. Kalau film, ya, ceritanya, kalau iklan, ya, storyline-nya, video klip juga gimana ide yang kita buat bisa selaras dengan musiknya. Basic-nya adalah ide. Gue cari persamaannya dulu dan itu cukup vital serta berlaku untuk semua hal. Mau lo fashion designer, atau apapun, yang terpenting adalah ide dasarnya dulu.

Idenya harus terkonsep, nggak sekedar ‘gila’, tapi lo harus mikirin ‘kenapa?’ Semua harus ada ‘kenapa?’ Jadi concept behind the ideas itu basic banget. Sudah kayak makanan pokoknya.

Kemudian baru bisa kita sortir. Saat lo bikin film, lo bicara cerita yang lebih panjang, dengan premis yang lebih complicated, dalam artian komprehensif, pola ceritanya beda dengan segala macam konflik.

Begitu kita bikin film, kita harus sadar bahwa orang rela bayar untuk nonton. Jadi pastikan bahwa ide atau ceritamu itu layak ditonton selama durasi film itu.

Kalau iklan, lo dibayar harian. Di mana lo jadi jembatan antara klien, agensi, dan juga penonton. Biasanya penonton suka yang receh-receh, yang ringan-ringan. Tapi kebanyakan klien suka banyak maunya, sama kayak agensi. Untuk bisa mengolah, bahkan memimpin (leading) mereka untuk membuat karya visual yang menghibur tapi tetap menjual, tetap ada nilai komersialnya, butuh skillset tersendiri.

Kalau video klip, di mana jualan lo musik dan penyanyinya, lo justru nggak boleh membuat konsep visual yang bakal merusak musiknya. Karena basic-nya ada di penyanyi dan lagunya, jangan malah visualnya overshadowing si penyanyi. Soalnya belakangan ini banyak yang sibuk sama konten visualnya, mau bikin ini dan itu, akhirnya nggak match sama musiknya sendiri. Visualnya keren sih, tapi nggak nyambung. Sering begitu.

Nah, kalau iklan beda lagi ceritanya. Maunya mereka seringkali bertolak belakang dengan konsep iklannya. Mau komersial, mau menjual, tapi penyampaian informasinya nggak sesuai. Atau sebaliknya. Ini yang sering bikin kita berantem. *nyengir*

Terus soal branding. Sebagai kreator, nggak punya branding tertentu juga menurut gue salah. Karena kalau begitu, lo sama aja kayak kacungnya klien. Tapi kalau lo punya branding yang kuat, misalnya, ini orang bagusnya di rambut, di komedi, di storytelling, macem-macem. Begitu kita di-hire, klien sudah tau keahlian kita di mana. Sehingga kita punya standing position. Membangun branding tentu saja bukan kerjaan sehari dua hari. Prosesnya memakan waktu lama.

Gue mulai jadi sutradara dari tahun 1996. Waktu itu gue 23 tahun! Dari zaman masih kuliah sampe sekarang. Selama itu pula gue memupuk dan membangun branding gue sendiri.

Iklan Ramayana edisi Ramadhan (2018) - Dimas Djayadiningrat


Baca juga: Cara Membuat Peta Konsep

Kamu punya tips and trik dalam menyampaikan ide ke klien, terutama klien yang nggak bersinggungan langsung dengan dunia kreatif?

Sebetulnya nggak punya *tertawa*. Gue jarang mengkonsep diri gue. Kan ada orang suka mengkonsep dirinya, ‘gue gini’, ‘gue gitu’. Nah, gue tuh nggak tau, gue masa bodo. Intinya, gue kalau ngapa-ngapain, daripada gue sibuk sama sesuatu yang konseptual, gue cenderung berpikir praktis.

Begitu gue berhadapan dengan orang yang di luar dunia gue, yang paling penting adalah membangun komunikasi. Cara lo berkomunikasi harus lo turunin, atau lo naikin, biar komunikasinya bisa rata.

Cara kita berkomunikasi harus bisa dimengerti oleh semua lapisan orang. Baik dari bahasanya, penyampaiannya, dan terutama harus terstruktur.

Sama dengan membuat konsep. Kenapa konsepnya begini? Apa sebabnya? Kalau seandainya lo ngomong sama orang yang konvensional, mereka pasti perlu data. Perlu bukti tangible yang valid. Karena sering banget orang ngomong hanya karena pengen aja. Begitu ditanya soal data, mereka nggak bisa ngasih apa-apa. Jadi sebaiknya selalu siap sedia dengan data terbaru sebelum presentasi ke orang lain, apalagi klien.

Data tuh misalnya produk ini jumlah likes-nya berapa, akun ini subscriber-nya berapa, macem-macem. Data seperti itu bisa jadi kunci untuk meyakinkan mereka bahwa “it’s gonna worth to try.

Tapi lagi-lagi, ini bukan ilmu pasti. Orang yang biasanya suka dengan brand lo, atau target market dari brand lo, belum tentu bakal suka dengan konten yang lo buat. Gue pernah bikin iklan buat Ramayana [Dept. Store]. Itu gambarnya ancur banget men! ‘Rakyat’ banget! Tapi gambar ini bisa diterima sama orang-orang di segmen C dan D yang memang suka dengan gambar ‘receh’. Mereka dikasih lihat kasidahan remuk-remuk begitu nggak masalah. Jangan dipukul rata dengan selera orang-orang di segmen A atau B. Selera mereka sudah pasti nggak sama.

Gue pernah susah juga kok. Ide dan konsep gue pernah ditolak. Malah waktu itu ide gue dianggap mentah karena nggak sesuai sama patokan feng shui *tertawa*. Ya mau gimana lagi?! Gue nggak ngerti men! Kalau udah gitu, biasanya gue yang balik tanya. “Menurut kamu bagusnya gimana?”

Sampai akhirnya gue libas sekalian. Gue belajar tata cara feng shui yang bagus dan bener. Dan itu nggak masalah. Bukan berarti dengan begitu gue pasrah begitu aja.

Gue yakin pasti banyak yang sebel sama gue. Tapi yaa… I’m just doing my job. Gue dibayar untuk eager dengan apa yang gue kerjakan meskipun efeknya nggak semua orang suka. Tapi bodo amat~

Baca Juga: DImas Djay: Kalau Gengsi Sih Harusnya Nggak Plagiat

Jadi, intinya adalah menyesuaikan level berkomunikasi sama klien ya?

Betul. Lo harus menyesuaikan diri dan cara berkomunikasi dengan lawan bicara lo. Harus diperhatikan bener-bener. Jangan lo samain dengan cara lo ngomong ke temen. Lo bisa bilang ke temen lo “anj**g keren banget ini!” dan temen lo, tanpa penjelasan lebih lanjut, udah bisa langsung paham maksud lo apa. Tapi ke orang lain kan belum tentu. Jadi semua komunikasi lo haru terang benderang. Termasuk ketika lo ngasih referensi.

Gue pribadi sih nggak suka ngasih referensi. Kalau diminta ngasih referensi, gue akan bilang “nggak ada, karena emang belum ada yang bikin.”

Dan karena personal branding gue itu ‘nyablak’, ‘blak-blakan’, jadinya orang lain oke oke aja. Dari dulu gue begini. Apa adanya aja.

Dimas Djayadiningrat: Iklan, Video Klip, dan Film

By
GetCraft
.
March 26, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Dimas Djayadiningrat: Iklan, Video Klip, dan Film

By
GetCraft
.
March 26, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles