X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Design Thinking: Idealisme Kreator VS Kepentingan Bisnis?

By
Kalya Risangdaru
 •
March 17, 2020

“What I’ve learned is that life is a balance between idealism and realism” (Peter Hook)

Sebagai desainer di zaman yang serba canggih ini, kerap terjadi dilema yang ditemui para pegiat desain yang kira-kira berbunyi: mana yang harus didahulukan? Idealisme atau bisnis? Artinya, kurang lebih, sama dengan pilihan antara mengikuti kebebasan dalam berkarya atau menuruti brief klien yang berbeda dengan selera sang desainer itu sendiri.

Pada 8 Maret 2018, GetCraft berkesempatan untuk mengadakan panel diskusi dengan para pelaku desain berpengalaman untuk memberikan insights dan inspirasi bagi para kreator desain yang sedang merintis karier, maupun yang sudah terjun dalam bisnis kreatif. Jakarta Creators MeetUp vol.2 yang bertema “Design Thinking: Idealism or Business” ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan tersebut. Untuk itu, kami mengundang dua pembicara yaitu Christian Kustedi, seorang desainer dan salah satu Co-Founder Kamarupa Desain Group dan Fandy Susanto, Founder dan Art Director di Table Six untuk hadir di Rework FX Sudirman.

ID Creative MeetUp GetCCRAFT

Andhini Puteri, Content Manager GetCraft Indonesia hadir sebagai moderator untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan bahasan seputar dunia desain bersama kedua pembicara. Sebelumnya, untuk mempermudah dan memperluas jaringan para peserta yang hadir, dijelaskan pula tentang platform GetCraft yang dapat membantu para desainer dan kreator lainnya mendapatkan klien yang tepat. Jika kamu belum mendaftarkan diri sebagai kreator di GetCraft, kamu bisa langsung melakukannya dengan mengakses tautan ini: getcraft.com/signup

Idealisme atau Bisnis?

Setelah Christian dan Fandy menceritakan tentang karya dan perjalanan studio mereka, pembicaraan mulai masuk lebih dalam ke topik utama. Christian, sebagai Co-Founder Kamarupa Design Group menyatakan bahwa ia menganggap desain sebagai bisnis. “Saya selalu menganggap desain adalah bisnis. Jika kalian sepakat, jangan pernah menganggap itu salah. Tidak ada yang salah di kedua pilihan itu,” lanjutnya. Menurutnya, kemampuannya dalam mendesain adalah hal yang dapat ia jual dan jadikan bisnis. Bersama dengan founder lainnya, Christian mampu menangani puluhan klien dengan permintaan dan brief yang bermacam-macam, serta dapat menjalani seluruh project-nya dengan baik. Dalam beberapa tahun, Kamarupa yang awalnya hanya terdiri dari tiga orang menjadi besar, dengan klien-klien yang besar pula.

Baca juga: 5 Tips Penting Membangun Bisnis sebagai Freelancer

Di sisi lain, Fandy Susanto merasa sangat tergugah dengan pertanyaan tersebut. Ia sangat tertarik membahas topik ini dalam diskusi panel yang diadakan kali ini. “Untuk saya, desain lebih seperti kepercayaan yang saya anut. Yes, design is my religion,” katanya. Selebihnya, Fandy juga mengutarakan bahwa kariernya dalam desain telah menuntunnya ke idealisme yang lebih kuat. “Menurut saya, desain sangat berhubungan dengan kemanusiaan,” lanjutnya. Kebebasan sebagai desainer dan memberi batasan yang jelas terhadap brief klien dapat diterapkan sejak awal kamu memulai bisnis dalam bidang desain.

Kolaborasi

Setelah beberapa penjelasan lebih lanjut dari kedua pembicara, ada banyak pertanyaan yang masuk dari para peserta yang hadir. Pertanyaan menyangkut seputar portofolio, kolaborasi dan bisnis dalam bidang desain.

Baca juga: Cara Membuat Portofolio Desain yang Menarik Minat Klien

“Apa yang biasa kamu lakukan saat tidak mendapatkan ‘credit’ yang sepantasnya saat berkolaborasi bersama teman?” tanya salah satu peserta. Permasalahan macam ini kerap ditemui saat berpartner bersama teman. Christian menjawab dengan tegas, “Pertemanan adalah bonus. Klien seharusnya menjadi klien. Hospitality yang kita berikan kepada mereka harus dibatasi sejak awal. Jangan karena mereka adalah ‘teman’ kita, maka mereka dapat seenaknya menentukan ini-itu. ‘Credit’ yang kita dapat adalah suatu idealisme yang harusnya saklek dan tidak dapat diubah. Maka itu, jika berniat berpartner bisnis bersama teman, sebaiknya tegaskan di awal, dengan kontrak yang jelas bahwa ini adalah profesional, jika ternyata cocok bekerja sama, itu bagus.”

Pertanyaan menarik yang disampaikan oleh peserta lainnya adalah “Apa yang kamu lakukan jika klien memaksa untuk mengeksekusi brief yang menurut kamu kurang bagus?” kedua pembicara sepakat bahwa cara terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan tidak meletakkan hasil akhirnya dalam portofolio. Jika sebagai desainer kamu dihadapkan dengan pilihan ini, maka ingatlah: portofolio kamu adalah kuncinya. Yang berhak mengatur portofolio adalah kamu seorang.

Lebih lanjut, tentang idealisme dan bisnis, Christian menambahkan “kamu dapat selalu mengkolaborasikan kedua aspek tersebut. Idealisme dan bisnis dapat berjalan beriringan seiring dengan pengalaman dan jam terbang kamu sebagai desainer,” ungkapnya.

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Design Thinking: Idealisme Kreator VS Kepentingan Bisnis?

By
Kalya Risangdaru
.
March 17, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Design Thinking: Idealisme Kreator VS Kepentingan Bisnis?

By
Kalya Risangdaru
.
March 17, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya

Related articles