X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Crafters: Cerita Karantina

By
Pandji Putranda
 •
May 15, 2020

Fase karantina beberapa bulan belakangan membuat semua orang kewalahan. Sebagai pekerja kreatif, awalnya saya sempat mengira ini merupakan kondisi ideal. Kerja dari rumah tanpa harus diinterupsi mobilitas bolak-balik ke kantor, bisa menetap di kamar nyaman sepanjang hari tanpa hingar bingar dunia luar; saya menyambut kemungkinan-kemunginan ini dengan semringah.

Lalu satu bulan berlalu. Dua bulan. Kini memasuki bulan ketiga, dan saya merasa konyol karena pernah menganggap situasi ini sempurna.

Masalah pertama datang dari asupan bacaan harian. Hampir setiap judul memuat berita terbaru tentang COVID-19. Pelan-pelan saya banal mencerna kurva pasien, mendapati satu demi satu garda medis berguguran dalam tugas, hingga menyikapi "kebijakan" pemerintah yang rasanya jauh dari definisi bijak itu sendiri.

Sesekali saya melihat coping mechanism yang menyenangkan dan menghibur. Saya tertawa melihat penduduk Italia mengadakan konser di balkon rumah mereka, saya senang menonton seni pertunjukan (yang awalnya dibatalkan) tetap dilaksanakan via kanal daring, masing-masing dari kita tampaknya saling bersiasat untuk survive dari pandemi global ini.

Singkat cerita, kegembiraan itu tidak berlangsung lama -setidaknya bagi saya. Melihat berbagai inisiatif bermunculan tentu membuat saya optimis. Tetapi di sisi lain, saya secara tidak langsung merasa tertekan untuk juga melakukan sesuatu, sedangkan saya merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Sikap ini diam-diam berubah menjadi kecemasan akut. Upaya coping mechanism yang saya lihat mulai berubah menjadi teriakan minta tolong. Dan pelbagai informasi lain yang juga beredar di kiri-kanannya sama sekali tidak membantu.

Masalah berikutnya hadir setelah saya mulai merasa kelelahan. Emotionally exhausted. Menjaga tempo dan stamina untuk tetap berfungsi menjalankan rutinitas yang repetitif pada akhirnya membuat saya ambruk. Saya tidak lagi terdorong untuk beraktivitas. Bahkan bermain musik, main video game, menonton film, atau sekadar mendengarkan musik, semuanya tidak lagi berhasil memulihkan keadaan emosional saya. Saya merasa pincang bahkan di dalam ruang paling nyaman untuk berkegiatan sekalipun.

Hingga menjelang bulan kedua, saya merasa masih sanggup duduk di depan komputer jinjing dan fokus bekerja hingga larut malam. Bekerja disambi bermain musik sebagai selingan adalah mantra yang sudah saya tempa bertahun-tahun. Dan selama ini terbukti ampuh untuk menjaga mood beserta kewarasan saya. Cara ini tidak lagi berhasil. Semangat saya mulai kempis.

Belum berhenti sampai di sini, masalah lain yang juga muncul adalah perkara psikosomatis. Saat saya batuk dan demam selama beberapa hari, hal pertama yang saya pikirkan adalah COVID-19. Gejalanya sama, indikasinya sama. Begitu demam saya reda, saya mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya demam biasa. Namun agaknya, karena saya cukup paranoid dan pikiran saya sudah terkontaminasi oleh berita-berita COVID-19, kondisi saya tidak kunjung membaik seratus persen.

Berita angka penularan yang terus bertambah juga turut mengacaukan pikiran saya. Sekonyong-konyong timbul prasangka: Apa saya terjangkit? Siapa yang menularkan? Apa keluarga saya juga akan tertular? Tiga pertanyaan di atas sudah cukup membuat saya malfungsi. Saya tidak lagi berdaya, atau bahkan punya tenaga untuk memikirkan hal lain.

Dan dari semuanya, masalah yang paling menyakitkan muncul dari dalam negeri. Spesifiknya adalah menyaksikan langkah pemerintah merespons pandemi. Begitu saya membaca kabar bahwa penduduk berusia di bawah 45 tahun diperbolehkan kembali bekerja, sementara langkah pencegahan dan penanganan penyebaran virus sama sekali belum berlangsung optimal, saya merasa luar biasa dikhianati. Seolah tidak ada artinya kita membatasi diri selama tiga bulan belakangan ini. Seolah jumlah korban tenaga medis tidak lebih dari sekadar kalkulasi statistik.

Apa reaksimu begitu mendengar kalimat "berdamai dengan corona" keluar dari mulut seorang presiden? Ya, tentu kita sama-sama tahu jawabannya. Biar bagaimana, pada akhirnya kita hanyalah variabel di mata negara. Cuma angka.

Hingga tulisan ini dibuat, belum ada kepastian kapan situasi ini akan berakhir. Dan melihat angka pasien terjangkit yang sudah belasan ribu dan terus bertambah secara signifikan dari hari ke hari, saya kira hal tersebut tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Saya pesimis. Namun begitu, saya juga berharap kita semua dapat bertahan semampunya, sekuatnya.

Semoga kita senantiasa baik-baik saja.

Crafters: Cerita Karantina

By
Pandji Putranda
.
May 15, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Crafters: Cerita Karantina

By
Pandji Putranda
.
May 15, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles

No items found.