X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Beberapa Pertimbangan Sebelum Kamu Masuk Sekolah Film

By
BR
 •
April 20, 2020

Selama 15 tahun terakhir, jumlah universitas yang menyediakan jurusan film di Indonesia meningkat pesat. Banyak calon mahasiswa ingin masuk jurusan film, meskipun sebenarnya tidak sedikit dari mereka yang clueless bagaimana mencari nafkah begitu lulus nanti. Adriyanto Dewo, seorang sutradara film Indonesia pernah mengatakan bahwa saat dia masuk jurusan film khusus penyutradaraan, dari sekian puluh orang yang masuk, hanya tiga orang saja yang lulus. Tetapi itu dulu. Bagaimana sekarang?

Tahun 2019, film ber-genre drama remaja Dua Garis Biru karya sutradara Ginatri S. Noer mampu menyedot hingga 2,5 juta penonton. Tahun sebelumnya, Dilan, yang merupakan film adaptasi dari novel karya Pidi Baiq berhasil menyedot 6,3 juta penonton dan mampu bertahan di layar-layar bioskop hingga beberapa bulan. Melihat banyaknya produksi film dalam negeri dan jumlah penontonnya hingga saat ini, industri film di Indonesia sedang tumbuh pesat hingga menjadi salah satu industri populer yang potensial.

Jika kamu berencana terjun ke dalam industri ini, kamu perlu belajar film untuk mendapatkan hasil yang baik untuk film yang akan kamu buat. Saat ini, ada banyak sekali sekolah film. Akan tetapi, kamu perlu pertimbangan yang tepat sebelum benar-benar ingin masuk sekolah film. Merangkum dari Indiewire.com, berikut lima hal yang bisa kamu jadikan sebagai pertimbangan:

Baca juga: Riri Riza: Peran Kritikus dalam Menciptakan Budaya Sinema
Dok. Unsplash

Kenapa Ingin Masuk Sekolah Film?

Pertama-tama, kamu harus jujur pada diri sendiri: Kenapa kamu ingin masuk sekolah film? Apa yang ingin kamu pelajari dan capai? Ini penting untuk kamu ketahui, karena setelah selesai menganalisis sendiri, kamu akan lebih mudah untuk mempelajari berbagai silabus yang ditawarkan sekolah film dan mana yang paling cocok dengan minatmu. Misalnya dalam proses belajar membuat film, kamu lebih suka belajar di lapangan, membuat percobaan, lalu belajar dari percobaan tersebut. Karena dalam beberapa kasus, tidak semua suka belajar di kelas. Dengan begini, kamu dapat memaksimalkan pengalaman belajar yang kamu terima di kelas nanti.

Program Sarjana Film atau bukan?

Industri film tidak memandang gelar. Ini yang membedakannya dengan bidang pekerjaan konvensional lain, seperti dokter misalnya. Ada banyak orang-orang di industri film yang bukan lulusan sekolah film. Karenanya, pastikan kamu sungguh-sungguh masuk sekolah film karena keinginan kamu untuk belajar, bukan semata-mata untuk memperoleh gelar.

Sekolah jurusan film memiliki beberapa jalur yang nantinya akan membawamu ke beberapa profesi di industri film, seperti: editor, sinematografer, produser, sutradara, dan lainnya. Di awal pendidikan film, penting bagi kamu untuk fokus pada bagaimana film bekerja. Artinya, kamu perlu memahami cara masuk ke dalam film berdasarkan ketentuan sendiri, bukan melalui lensa profesional, teori atau budaya tertentu. Jika kamu ingin menjadi sutradara, kami harus tahu tentang sejarah pembuatan film untuk memahami bagaimana historiografi dan perkembangan bentuk seni film.

Siapa yang menjadi pengajar kamu?

Selain kamu perlu mengidentifikasi sekolah film yang tepat, kamu juga perlu mencari tahu siapa yang akan menjadi pengajarmu. Universitas tidak merekrut orang-orang profesional di bidang film karena biaya yang mahal serta kendala fleksibilitas waktu yang mereka punya. Namun, ada beberapa pekerja film berprestasi yang menjadi asisten dosen pengajar atau dosen tamu untuk mengajar film di beberapa universitas. Para profesional pengajar film yang berprestasi ini akan membawa pengalaman nyata dalam proses belajarmu. Di samping itu, ada juga pelajaran lintas studi yang memberikan materi pelajaran lain. Mulai dari teori feminis hingga sejarah sebuah negara dalam konteks pembacaan film.

Di samping itu, kamu juga perlu mempertanyakan: siapa yang merancang kurikulumnya? Tentu harus ada akademisi film di dalamnya. Bukan hanya sekedar program studi tentang film. Karena merekalah yang mengerti tentang proses pendidikan film yang yang benar dan tepat guna.

Dok. Unsplash

Adakah budaya menonton film?

Semua sekolah film memiliki screening film di dalam kurikulumnya. Ada banyak karya film yang bisa kamu eksplorasi. Artinya, kamu perlu mempelajari bahwa alur pembelajaran yang akan kamu terima tidak terpaku hanya pada film-film populer. Dalam hal ini, sekolah film perlu memiliki infrastruktur yang memungkinkan siswanya untuk memutar film-film lain dari berbagai genre dan tingkat produksi, baik di dalam maupun di luar negeri.

Memiliki jaringan di komunitas film.

Jaringan alumni sangatlah penting. Beberapa universitas memiliki jaringan yang terhubung langsung dengan komunitas film di mana kamu bisa tergabung. Akan ada banyak orang dengan visi dan misi yang sinema yang bisa kamu jadikan pembelajaran secara nonakadamik. Pada akhirnya, kesempatan berjejaring adalah salah satu elemen krusial dalam menjaga ekosistem perfilman yang sehat.

Ada paradoks untuk mereka yang lulus sekolah film di abad ke-21. Di mana pada waktu itu sulit untuk membangun karier untuk menciptakan sebuah karya film tanpa adanya jaringan dan keterbatasan sumber daya. Berbeda dengan saat ini, di mana internet dan peralatan digital sudah sangat mudah dijangkau, sehingga lebih mudah secara teknis untuk membuat dan mendistribusikan film ke skup yang lebih luas.

Dok. Unsplash
Baca juga: Riri Riza: Antara Film Panjang dan Film Pendek, Antara Sutradara dan Produser Film

Bakat, ketekunan, dan kerja keras, merupakan pondasi untuk menuju kesuksesan. Namun, tidak sedikit kesuksesan di dunia film yang berhasil dicapai lewat pengembangan kelompok atau komunitas insan-insan yang mendukung proses berkarya. Alih-alih personal, karier perfilman sejatinya sangat bersifat kolektif.

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Beberapa Pertimbangan Sebelum Kamu Masuk Sekolah Film

By
BR
.
April 20, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Beberapa Pertimbangan Sebelum Kamu Masuk Sekolah Film

By
BR
.
April 20, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya

Related articles