X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Beawiharta: Pewarta Foto Harus Punya Tanggung Jawab terhadap Pembaca

By
Pandji Putranda
 •
March 12, 2020

Seorang pewarta foto atau fotojurnalis tak ubahnya seorang pesulap. Mereka mampu menghentikan waktu. Membekukan momentum serta peristiwa ke dalam guratan visual, dan membuatnya abadi hingga jauh hari.

Ada kelakar populer yang cukup klasik. Bunyinya kurang lebih seperti ini: seorang pewarta, termasuk pewarta foto, akan menghampiri bencana di saat yang lain lari menyelamatkan diri.

Adalah Beawiharta, pewarta foto kelahiran 21 Juli 1964 di Jember, Jawa Timur. Ia Menyelesaikan studi di IKIP Malang pada 1988, kemudian menjadi pewarta foto pada 1991.

Beawiharta sempat bekerja di Majalah Suasana, Majalah Sinar, Tabloid Olahraga GO, Majalah Gatra, dan kantor berita Reuters biro Jakarta sejak 1999 hingga kini, dengan area liputan Indonesia, East Timor, Singapura, Thailand, Malaysia, Phillipina, Cina, Pakistan, dan Afghanistan.

Bea juga berpengalaman menjadi mentor lokakarya fotografi di berbagai tempat. Termasuk di antaranya Galeri Foto Jurnalistik Antara, Permata Photojournalist Grant, dan World Press Photo Class di Jakarta (2002).

Beawiharta: Pewarta Foto Harus Punya Tanggung Jawab terhadap Pembaca
(Dok. October 6, 2018. REUTERS:Beawiharta)

Selain itu, Bea pernah menjadi juri foto dalam berbagai lomba foto dan mendapatkan penghargaan di sejumlah kontes foto di Indonesia, Jepang, Malaysia, dan Hong Kong. Twitter.

Crafters berkesempatan berbincang-bincang dengan Beawiharta lewat surel. Mulai dari esensi foto jurnalistik, hingga etika dalam foto jurnalistik itu sendiri.

Apa yang membuat foto jurnalistik berbeda dengan karya-karya foto lainnya?

Foto jurnalistik umunya mengantarkan cerita, pesan, ataupun juga kisah. Teknis fotografi bukan urutan utama penyajian. Urutan utama foto jurnalistik adalah kejujuran. Kedua, muatan pesan atau ceritanya. Ketiga, baru soal teknis.

Foto jurnalistik identik dengan ciri aktual dan faktual, apakah berarti tidak boleh ada proses penyuntingan setelahnya?

Foto jurnalistik harus disunting. Artinya, harus dipilih foto mana yang paling tepat mengantarkan cerita atau pesan, dan foto mana yang paling menarik perhatian. Boleh disunting sebatas membetulkan warna dan cahayanya. Tidak boleh ada bagian yang dihilangkan dari sebuah frame yang disajikan. Aktual dan faktual harus, tetapi konfirmasi harus berada di depan sebelum foto disiarkan.

Baca Juga: Pentingnya Membangun Cerita di Balik Foto

Beawiharta: Pewarta Foto Harus Punya Tanggung Jawab terhadap Pembaca
(Dok. October 7, 2018. REUTERS:Beawiharta)
Beawiharta: Pewarta Foto Harus Punya Tanggung Jawab terhadap Pembaca
(Dok. October 2, 2018. REUTERS:Beawiharta)

Masih menyoal etika, fotografer perang/konflik/tragedi kerap dirundung dilema ketika berhadapan dengan korban perang -memotret atau menolong mereka. bagaimana tanggapan Mas Bea?

Hal seperti ini tidak bisa dibicarakan lewat kertas. Harus ada hal nyata. Kita perlu berhadapan dengan peristiwanya terlebih dulu, dan lalu kita bisa putuskan untuk lakukan yang mana.

Keputusan-keputusan setelahnya baru bisa dibicarakan setelah ada kejadian riil. Artinya, tidak bisa berandai-andai, “kalau begini lalu begitu”. Saya banyak meliput konflik dan bencana alam. Hal seperti itu sering terjadi.

Sepanjang karier Mas Bea sebagai seorang pewarta foto, apa pengalaman memotret yang paling berkesan?

Wah banyak banget! Menjadi pewarta foto itu punya tanggung jawab terhadap masyarakat pembaca karena kita mewakili mata mereka. Tapi kita juga punya nurani. Meliput olimpiade, misalnya, jadi berkesan karena spektakuler. Meliput bencana, juga berkesan karena ternyata banyak orang baik di saat bencana berlangsung. Memotret konflik sekalipun meninggalkan kesan, karena bagaimanapun rakyat yang jadinya paling susah. Apalagi kalau kemudian foto kita membawa dampak pada masyarakat. Ceritanya banyak sekali. Hehehehe…

Baca Juga: Tips Menciptakan Efek Dramatis dalam Foto

Aktual dan faktual harus, tetapi konfirmasi harus berada di depan sebelum foto disiarkan.

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Beawiharta: Pewarta Foto Harus Punya Tanggung Jawab terhadap Pembaca

By
Pandji Putranda
.
March 12, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Beawiharta: Pewarta Foto Harus Punya Tanggung Jawab terhadap Pembaca

By
Pandji Putranda
.
March 12, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles