X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Bagaimana Menyikapi Karya dari Seniman Bermasalah?

By
MLR
 •
May 29, 2020

Kita semua pernah berada di posisi itu. Kita bangun di pagi hari hanya untuk menemukan berita yang mengabarkan seorang yang kita kenal dituduh melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Beberapa di antara orang tersebut bisa saja berprofesi sebagai kreator, seniman, atau profesional di industri kreatif.

Seperti Bill Cosby, komedian AS yang dilaporkan atas kasus pemerkosaan, pelecehan seksual, kekerasan seksual anak-anak di bawah umur; Nobuhiko Watsuki, komikus Rurouni Kensin (Samurai X) yang ditangkap pada 2017 atas kepemilikan koleksi video porno anak-anak perempuan di bawah umur; juga Sitok Srengege yang dilaporkan atas kasus pelecehan seksual beberapa tahun yang lalu.

Kabar mengenai seniman ataupun mereka yang berkecimpung di industri kreatif melakukan perbuatan melanggar hukum, atau perbuatan yang dipandang kebanyakan orang berlawanan dengan moral, juga tak sebatas pada mereka yang masih hidup. Seniman yang telah meninggal juga tak lepas dari pengadilan moral seperti yang disampaikan Hannah Gadsby dalam siaran Netflix komedi spesial Nanette mengenai Pablo Picasso yang misoginis.

Dalam tayangan tersebut, Hannah Gadsby yang merupakan seorang komedian, penulis, aktris, dan presenter televisi asal Australia mengatakan bahwa Pablo Picasso menyatakan bahwa tiap kali ia meninggalkan seorang perempuan, ia harus membakarnya. Untuk menghancurkan seorang wanita, kamu butuh menghancurkan masa lalunya. Pablo Picasso, pelukis kenamaan lewat pendekatan artistik kubisme, nyatanya kerap melakukan kekerasan terhadap perempuan sebelum mulai berkarya. Ia juga didaulat sebagai seniman terhebat abad ke-20.

Pablo Picasso - Dok. Getty Images

Baca juga: Jangan Pernah Membandingkan Dirimu dengan Seniman Lain!

Cerita miring Picasso terhadap perempuan dan sisi misoginisnya bukanlah hal baru di kalangan yang mempelajari hidupnya. Karya-karyanya pun tak lantas dibuang oleh museum. Namun, pertanyaan-pertanyaan yang muncul kemudian sama seperti kasus-kasus yang telah disebutkan sebelumnya; bagaimana cara kita menyikapi karya seniman "bermasalah"?

Apa yang harus kita lakukan ketika kita menemukan buku, lukisan, sampai tayangan komedi? Dapatkah kita memisahkan karya dari senimannya? Haruskah kita melakukannya? Apakah ,misalnya, predikat mahakarya bisa cedera karena ternyata senimannya pemerkosa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dirangkum oleh pakar sejarah sekaligus eks-kurator Sarah Urist Green dalam web series PBS Digital Studios, The Art Assignment. The Art Assignment sendiri merupakan kanal YouTube yang menjelajahi seni dan sejarah seni dari kacamata kontemporer.

Dalam sebuah episode berjudul Hate the Artist, Love the Art, Green mengambil pendekatan yang lebih bersahabat terhadap topik yang diungkap komedian Hannah Gadsby di siaran komedi spesial Netflix, Nanette.

Sementara Hannah Gadsby terang-terangan mengatakan bahwa tidak akan ada orang yang akan membeli karya kubisme (yang lebih mirip gambar benda sehari-hari versi lego) saat mereka menghapus nama Picasso dari karya tersebut, Green menjabarkan perspektif yang lebih luas. Ia mengungkapkan bahwa cara kita membaca sebuah karya selalu dipengaruhi oleh apa yang kita punya maupun yang tidak kita punyai. Sebuah modal estetis yang tentunya berbeda bagi tiap-tiap individu.

Kadang, kita punya pilihan dalam masalah tersebut, seperti ketika kita membaca sebuah penjelasan di museum atau membaca teks mengenai seorang seniman. Tapi, saat kita tidak familiar dengan informasi latar tersebut, kita punya kesempatan lebih besar untuk mendapatkan pembacaan yang lebih murni. Meski demikian, kita seringkali tidak memilih apa yang ingin kita pelajari.

Bisa saja kita mengenal seorang teman yang memiliki pengalaman buruk dengan seorang seniman atau kreator; katakanlah teman kita dilecehkan lewat media sosial oleh seorang penulis dengan dalih riset untuk karya terbarunya. Kasus lain, bisa saja kita mendengar sebuah rumor baik mengenai seorang seniman yang kita kenal berperilaku baik; sering melakukan donasi, berkontribusi di lingkup-lingkup sosial, dan lain sebagainya. Informasi-informasi ini bisa memberikan pengaruh, entah itu positif atau negatif, terhadap  karya seniman terkait.

Green mengambil contoh ketika ia mendengar kabar fotografer terkenal Nicholas Nixon meminta galeri ICA Boston menurunkan karya-karyanya di galeri tersebut ketika terlibat dalam kasus asusila. Green sendiri mengakui kalau ia menyukai karya-karya Nixon dan setuju dengan alasan bahwa karya Nixon tidak lagi bisa dilihat secara netral. Karena secara langsung, karya fotografi Nixon akan selalu terasosiasi dengan kasus asusila yang menimpanya..

Contoh lain ketika ia melihat sebuah lukisan telanjang gadis Tahiti dan mengetahui bahwa seniman yang membuat karya tersebut, Paul Gauguin, menikahi tiga gadis Tahiti berbeda yang masing-masing berumur 13, 14, dan 14 tahun, terlebih menularkan mereka penyakit sipilis, Green mengatakan ia pastinya memikirkan ulang untuk membeli karya tersebut. Alasannya? Sebab karya juga harus ditimbang melalui faktor siapa yang diuntungkan secara finansial, terutama ketika seorang penikmat seni membeli karya seniman yang telah melakukan tindakan tak pantas.

Jadi, apakah kita harus membuat pengecualian terhadap karya seorang seniman jenius, atau karya yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan kita? Green berkata bahwa itu tergantung pada pilihan kita. Ia menekankan bahwa setiap penikmat karya harus mengambil jeda untuk merasionalisasi kembali cara mereka menerima karya-karya yang dibuat seniman bermasalah.

Tapi bagaimana jika kita tidak tahu bahwa seniman tersebut bermasalah?

Hannah Gadsby - Dok. Netflix

Baca juga: Upaya Seniman Kontemporer Mencari Hal Terselubung

Pada lanskap yang lebih besar, kemungkinan ini kecil terjadi karena kurator biasanya cukup jeli dengan track record seorang seniman, dan seniman akan berusaha meluruskan keadaan dengan menampilkan karya responsif untuk proyek mereka berikutnya.

Green mencatat bahkan tanpa orang tahu mengenai perilaku buruk mereka, sangat sulit untuk mendapatkan “gambaran murni” dalam menikmati karya. Karya seni hampir tidak pernah bisa dilihat secara murni terlepas dari tindakan buruk yang dilakukan orang yang membuatnya. Seringkali ada petunjuk-petunjuk bahwa sesuatu itu penting atau tidak penting. Apapun yang mungkin kita tahu mengenai kehidupan pribadi seniman atau para pelaku industri kreatif, entah itu baik atau buruk, menjadi faktor penimbang lain bagaimana kita menikmati karya seni tersebut.

Dengan bahasa yang lebih sederhana, Green mengibaratkan ketika seorang YouTuber melakukan perbuatan bodoh dan menyinggung banyak orang. Apakah ia dan seisi orang kepo ingin melihat video tersebut? “Tentu saja,” ungkap Green. “Tapi apakah aku akan melakukannya? Tentu saja tidak.”

Green melanjutkan jika dirinya tidak tahan dengan pikiran bahwa ia turut berkontribusi terhadap keberlanjutan situasi finansial si YouTuber bodoh tersebut. “Perhatian kita [sebagai konsumen] sangat penting. Dan perhatian tersebut terus diawasi. Berbobot dalam konversi uang iklan serta mempengaruhi keputusan orang-orang mengenai barang apa yang bisa dibuat,” kata Green.

Mengingat mayoritas konsumen masih sangat mengkultuskan selebritas, memisahkan antara karya dan kreatornya menjadi cukup sulit seiring berjalannya waktu. Bagaimanapun, karya-karya penting dan transformatif yang berpengaruh besar terhadap kebudayaan kita dihasilkan oleh sejumlah seniman bermasalah.

Guernica by Pablo Picasso

Meski demikian, Green juga memberikan beberapa daftar pertanyaan yang membantu kita untuk mengevaluasi ulang karya-karya seniman bermasalah:

  • Apakah karya mereka adalah kerja sama dengan seniman lain?
  • Apakah karya mereka mencerminkan sistem nilai si pelaku?
  • Apakah kita memberlakukan standar sama bagi peneliti yang pekerjaannya juga ofensif?
  • Siapakah yang menderita ketika karya si pelaku tetap bisa diakses oleh orang banyak?
  • Siapa yang menderita ketika karya si pelaku dihapus dari kebudayaan kita?
  • Siapa yang mendapatkan hasil dari perhatian-perhatian kita?

Seperti kata Green, ada banyak area abu-abu yang timbul dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Meski demikian, pilihan untuk menerabas dan melanggengkan tiap area abu-abu tersebut tergantung pada tiap individu.

Argumen bahwa ketika kita mengenal seseorang lebih dalam, maka akan semakin sulit menjustifikasi perilaku mereka, Green menyatakan jika benar-benar memisahkan karya dari pembuatnya sama dengan meminimalisasi peranmu sebagai pembaca atau penikmat karya tersebut. Peran seniman bukanlah yang paling penting. Justru peran penikmat karyalah yang terpenting.

Topik ini tentu saja sangat subyektif. Tiap orang berhak membuat batasan. Tapi, ketika kita peduli terhadap apa karya yang dibuat dan ditawarkan kepada kita di masa depan, kita harus mengambil keputusan atas karya mana yang akan kita lihat, kita konsumsi, serta kita dukung.

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Bagaimana Menyikapi Karya dari Seniman Bermasalah?

By
MLR
.
May 29, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Bagaimana Menyikapi Karya dari Seniman Bermasalah?

By
MLR
.
May 29, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials
Tags:

Related articles