X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Bagaimana Cara Mengembangkan Bisnis Media di Era Digital?

By
Kalya Risangdaru
 •
March 17, 2020

Sudah bukan rahasia lagi jika kita saat ini sedang berada di dalam sebuah era digital yang dinamis, rumit dan canggih. Pada era ini, para kreator di berbagai bidang dihadapkan dengan tantangan dari industrinya masing-masing untuk dapat mengejar, mengakali dan tetap kreatif demi mendapatkan penghasilan. Beragam cara kita lakukan agar tidak “ditendang” oleh pasar.

Media digital pun menghadapi tantangan yang sama besarnya dengan industri lain. Banyak yang kewalahan dan berujung gulung tikar. Di luar banyaknya alasan dari tutupnya sebuah media digital, ternyata, ada banyak juga cara untuk tetap berada di dalamnya dengan kondisi fit serta dan sehat bersaing.

Era seperti ini dijelaskan Resi Deriana, Co-Founder & CEO Rimma.co sebagai Media Apocalypse. “Seperti Duopoly yang terjadi di Facebook dan Google. Mereka lebih spesifik dalam targeting ads serta performance-driven marketing. Juga perubahan yang terjadi pada iklan di media yang disebabkan oleh tren seperti KOL, misalnya,” jelasnya.

Baca Juga: Transformasi Media Cetak di Era Digital

Di acara Jakarta Creators Meetup berjudul “Perluas Bisnis Media Lewat Varian Produk Lain? Ini Kiat Suksesnya!” yang diadakan di Mandiri Inkubator Bisnis pada 15 Agustus 2019 lalu, GetCraft juga mengundang dua pembicara praktisi profesional lainnya yaitu Richard Robot (CEO & Partner Dreamers.id) dan Dian Gemiano (CMO KG Media) untuk melengkapi panel pembicara. Syarief Hidayatullah selaku VP Creative GetCraft juga hadir sebagai Moderator acara Jakarta Creators Meetup tersebut.

Melanjutkan pandangan Resi soal Media Apocalypse yang disebut-sebut terjadi pada tahun 2017, Syarief sebagai moderator juga membagikan beberapa data yang turut membuktikan hal ini. Dari data GetCraft, pada tahun 2017, brand mengalokasikan budget marketing-nya (lewat project GetCraft) kepada publisher sebesar 85,6% sedangkan 14,4% sisanya dialihkan pada influencer/KOL. Angka ini berubah drastis di tahun 2018 dengan persentase publisher yang melonjak turun ke 63,4% dan 36,6% pada influencer. Diprediksi, di tahun 2019, influencer telah mengambil angka awal publisher di tahun 2017. Artinya, kedudukan berbalik.

Nah, di Jakarta Creators Meetup, ketiga pembicara yang hadir banyak membagikan insights serta tips untuk para pelaku praktisi media dalam mengakali “Media Apocalypse” tersebut. Apa saja yang dapat dilakukan untuk membuat bisnis media kita tetap berjalan?

Rumus Penting

Good content ditambah dengan good relationship with brand ditambah dengan strong digital capability sama dengan sustainable digital media business,” tegas Resi. Untuk eksekusinya sendiri, perusahaan media ditekankan untuk lebih fleksibel dengan kemungkinan-kemungkinan bentuk bisnis baru. Jadi, jangan sampai terpatok oleh satu bentuk karena pelaku media harus peka dengan tren, concern pembaca serta komunitas, lho!

Untuk memastikan rumus tersebut berjalan lancar, ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh perusahaan media seperti; fokus terhadap audiens dan komunitas, menangkap serta mendengarkan kebutuhan agensi/brand juga terus mengeksplor bentuk bisnis baru.

Dian Gemiano selaku CMO dari KG Media menekankan akan pentingnya menjadi fleksibel. Untuk itu, KG Media sendiri telah melakukan beberapa hal seperti memperbanyak jumlah turunan media ke yang lebih spesifik. Kuantitas tidak pernah menghasilkan sesuatu yang buruk, namun ia juga menegaskan bahwa “Media akan selalu menjadi content creator dan story tellers. Juga, kita perlu memvalidasi ulang audiens kita, jangan sampai hanya mengira-ngira saja! Yang terakhir, cari sampai ketemu arti dan koneksi konten yang kita sediakan untuk audiens,” jelasnya.

Baca Juga: Remotivi: Upaya Mengangkat Isu Media dan Politik yang Kering Menjadi Populer

Memperkuat diskusi yang berjalan, Richard menambahkan 5 tahapan yang ia rasa perlu dipikirkan kembali oleh para pelaku bisnis media. Adalah untuk terus menggali kebutuhan dan masalah pembeli, menentukan medium yang paling cocok untuk audiens, mendesain business model dengan kreatif, mendesain ekosistem mediamu dan memiliki mindset baru yang mengerti tren.

Heading 1

Heading 2

Heading 3

Heading 4

Heading 5
Heading 6

Regular

Italic

Bold

  • Test 1
  • Test 2
  1. Test A
  2. Test B

What’s a Rich Text element?

The rich text element allows you to create and format headings, paragraphs, blockquotes, images, and video all in one place instead of having to add and format them individually. Just double-click and easily create content.

Static and dynamic content editing

A rich text element can be used with static or dynamic content. For static content, just drop it into any page and begin editing. For dynamic content, add a rich text field to any collection and then connect a rich text element to that field in the settings panel. Voila!

How to customize formatting for each rich text

Headings, paragraphs, blockquotes, figures, images, and figure captions can all be styled after a class is added to the rich text element using the "When inside of" nested selector system.

Bagaimana Cara Mengembangkan Bisnis Media di Era Digital?

By
Kalya Risangdaru
.
March 17, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Bagaimana Cara Mengembangkan Bisnis Media di Era Digital?

By
Kalya Risangdaru
.
March 17, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Asupan Kreatif Mingguan

Gratis

Artikel-artikel kreatif terpercaya

-
-
-
Dapatkan gratis

Langganan Premium

US$ 10 / bulan

8+ tiket webinar marketing gratis setiap bulan
Semua siaran ulang tutorial, diskusi & wawancara
Panduan & riset terdepan di industri
Penawaran eksklusif dari brand & Event VIP
Artikel-artikel kreatif terpercaya

Related articles