X

Sign Up to Crafters Newsletter
for Free!

Alexander Matius: Bioskop Alternatif Harus Bisa Memberikan Pengalaman Personal

By
Pandji Putranda
 •
May 15, 2020
(Dok. Foto: Alexander Matius)

Alexander Matius sudah menekuni dunia programasi film sejak duduk di bangku kuliah. Awalnya, ia mendaftarkan diri sebagai relawan di acara bulan film nasional yang diadakan Kineforum. Dari sinilah kiprahnya sebagai programmer film berlanjut, terlebih untuk festival film dan ruang-ruang pemutaran alternatif.

Pekerjaan sebagai programmer film barangkali masih terdengar asing bagi sebagian orang, atau mungkin justru terdengar sepele. "Ah tinggal pilih-pilih film buat diputar aja apa susahnya?"

Obrolan Crafters dengan Matius kali ini akan membahas apa saja yang dikerjakan oleh seorang programmer film, termasuk tantangan dalam mengelola ruang pemutaran film alternatif, dan apa saja langkah-langkah yang ditempuh dalam rangka menjaring penonton.


Jadwal pemutaran di Kinosaurus dapat diakses di tautan ini
(Dok. Kinosaurus)

Apa saja kegiatanmu sebagai programmer Kinosaurus?

Di Kinosaurus (selanjutnya Kino) sebenernya cukup unik, karena setelah dari tahap ide, yang nantinya akan menjalankan ada orang lain lagi, yakni distributor bernama Kolektif. Jadi tugas gue lebih ke merancang ide dan memilih film yang sesuai dengan brand identity dan visi misi Kino. Selain berburu film bagus, gue juga akan nyusun jadwal pemutaran dan lain-lain.

Kalau ada diskusi yang sifatnya terlepas dari pemutaran film, seperti program Sekolah Minggu, biasanya gue akan ngontak pembicaranya, sekalian nge-host sesi tanya jawab kalau ada diskusi lanjutan.

Sekolah Minggu ini pada dasarnya platform sharing. Tujuannya mempertemukan publik dengan pembuat film dan berdiskusi sama-sama, dan [rencananya] prosesnya akan diunggah secara online. Harapannya sih jadi dokumentasi audiovisual dalam jangka panjang. Lagian susah juga buat nyari bahan diskusi sama pekerja film. Kalupun dari buku, nggak tahu juga beli bukunya di mana. Ini jadi efektif karena bisa menjangkau orang-orang yang berhalangan datang ke Kino. Misalnya yang di luar Jakarta, atau bahkan luar pulau, jadi mereka bisa akses diskusinya dan mendapatkan sesuatu dari situ.


Pernah nggak ada film pilihan lo yang ditolak sama pengurus Kino yang lain?

Sejauh ini sih nggak ada. Tapi sempat ada beberapa film yang proses pertimbangannya cukup alot -meskipun jumlahnya nggak seberapa. Bisa gue bilang cuma setengah persen dari total film yang sejauh ini gue seleksi.

Ada beberapa masukan yang muncul juga. Misalnya, apa gue yakin film ini bakal ramai [ditonton]? Ada juga film yang ditayangkan ulang karena mungkin nggak cukup ditonton sekali, atau setidaknya first experience-nya kurang berhasil.


Apa pertimbangan lo sebelum memutar ulang sebuah film?

Yang paling utama adalah pengalaman menonton. Ini bermain-main sama asumsi aja sih. Feeling. Makanya jadi penting untuk melihat penonton, karena kita jadi punya bayangan apakah film ini bakal berhasil atau nggak buat mereka.


Apa yang memotivasi lo untuk jadi film programmer, terlebih di ruang pemutaran alternatif seperti Kineforum dan Kino?

Berangkatnya pasti dari rasa suka menonton film. Gue yakin semua orang yang kerja di film pasti suka nonton film, dong? Gue awalnya tuh ngerasa kayak kejebur aja, sih.

Awalnya gue jadi programmer di Kineforum karena gue daftar jadi relawan. Terus ada lowongan untuk acara bulan film nasional di Kineforum. Itu acara besar yang diadakan setahun sekali. Waktu itu gue udah keterima jadi relawan. Terus gue iseng aja bikin beberapa kompilasi film buat bahan sharing. Taunya kepilih satu.

Setelah itu mulai belajar lagi cara-cara programasi film. Gue jadi belajar kalau nyusun film ternyata nggak sesederhana yang gue pikir sebelumnya. Gue harus paham konteks, atau gue harus membaca konteks yang berada di luar film. Misalnya, apa sih keunikan dari film-film di dalam kompilasi yang gue buat? Itu jadi pondasi argumen kenapa lo memilih film yang satu ketimbang yang lain.

Makin ke sini, mau nggak mau gue makin mempelajari demografi penontonnya juga. Gue harus bisa membaca penontonnya juga. Karena kalau kita bicara soal sinema komersial, kita harus memikirkan penonton. Bukan berarti kita memanjakan mereka lho, ya. Tapi lebih ke menciptakan penonton-penonton baru buat ruang pemutaran.

Baca juga: Beberapa Pertimbangan Sebelum Kamu Masuk Sekolah Film

Apa saja tantangan yang lo hadapi dalam mengelola ruang pemutaran alternatif?

Paling keterbatasan teknis. Bioskop alternatif toh tidak memiliki kapasitas teknis yang "mirip" dengan jaringan bioskop komersial. Paling gampangnya di proyektor, deh. Yang satu pakai DCP (Digital Cinema Package), satunya lagi nggak. Dan kebanyakan pemilik film concern soal teknis. Jadi kendalanya lebih ke kurang bisa bermain-main dengan lebih banyak pilihan film.

Lalu soal administrasi. Seperti pembagian hasil screening fee. Mungkin ada kalanya tidak sesuai dengan jumlah yang diminta si pemilik film. Dua ini tantangan paling besar. Selebihnya mungkin kendala-kendala kecil yang sebenarnya sudah bisa teratasi dengan bantuan internet.


Gimana strategi marketing lo dalam menjaring penonton untuk datang ke Kinosaurus?

Sejauh ini pakai media sosial. Gue bukan orang yang bertanggungjawab secara langsung di hal ini, ya. Lebih ke bantu-bantu aja sebenernya. Tapi menurut gue profil dan programasi di Kinosaurus ini harus tetep dikenalin ke audiens. Penonton kita agaknya kurang bisa bereksplorasi dengan film-film baru. Paling ada beberapa peminat film (sinefil) yang memang berani untuk eksplorasi film sendiri. Ada juga yang nonton tuh sekedar FOMO (Fear of Missing out) aja. Takut ketinggalan tren. Atau ada juga yang sekadar cari pengalaman doang. Dateng sekali, terus nggak balik-balik lagi. Sekadar pingin tahu aja kayak apa sih rasanya nonton di ruang pemutaran alternatif.

Soalnya bioskop [alternatif] tuh, menurut gue, selain perlu menawarkan sesuatu yang baru dan program yang menarik, juga harus memberikan pengalaman personal. Karena kalau lo lihat bioskop-bioskop alternatif di Indonesia, filmnya paling ya itu-itu aja.

Sejak awal gabung di Kinosaurus, gue mencoba memetakan identitas sosial di sekitar tempat ini: Kemang. Menurut gue, Kemang tuh agak susah kalau yang lo jual tontonan aja. Lo harus bisa lebih dari sekadar ruang pemutaran film. Lo harus bisa jadi meeting point. Karena menurut gue, jarang orang-orang sini yang stop and go. Lo makan aja itungannya sambil nongkrong.

Akhirnya kemudian muncul inisiatif Sekolah Minggu. Jadi Kinosaurus nggak terbatas hanya di ruang pemutaran aja. Tapi bisa jadi wadah diskusi publik juga bareng pembuat filmnya secara langsung. Untungnya eksekutif-eksekutif Kinosaurus juga orang-orang yang berkecimpung di film, jadi kans untuk ketemu dan membuat jadwal diskusi bareng pembuat film yang lain jadi lebih mudah, atau setidaknya aksesibel.

Baca juga: Riri Riza: Peran Kritikus Film dalam Menciptakan Budaya Sinema

Alexander Matius: Bioskop Alternatif Harus Bisa Memberikan Pengalaman Personal

By
Pandji Putranda
.
May 15, 2020

You must be a premium member to view the full content

Sorry, but the rest of this article is for our Premium Members only. To gain access to this content and many more benefits, subscribe below!

Alexander Matius: Bioskop Alternatif Harus Bisa Memberikan Pengalaman Personal

By
Pandji Putranda
.
May 15, 2020

Crafters Newsletter

Sign up to our weekly email to get:
Article Updates
Event Announcements
Webinar Announcements
Free Research
Free
Offers
Free
Tutorials

Related articles