Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Thalasya Pov: Dari Digital untuk Digital, Fiksi atau Asli?

Sekarang ini memang zamannya influencer, dan yang membuat era ini makin menarik, influencer X technology melahirkan nama-nama baru seperti Lil Miquela, karakter influencer yang yang bukan berwujud manusia asli.

Bicara hal ini, teknologi ibarat membuka banyak jendela untuk secara perlahan kita tengok satu persatu. Ada banyak yang dirasa masuk akal bagi kalangan banyak dan beberapa lainnya merasa sulit menerima. Tentu, hal ini akan terus muncul di peradaban manusia mendatang, dengan semakin berkembangnya teknologi.

Beberapa dari kita sering dikejutkan dengan temuan-temuan teknologi yang kian hari kian canggih. Beberapa membuat kita sulit membedakan antara realita dan buatan. Salah satunya yang biasa disebut Virtual Reality (VR) dan Digital Imaging (DI).

Beberapa kali, mungkin kita sempat keliru melihat dan memahami karya-karya seniman seperti Agan Harahap. Dengan kecanggihan teknologi dan keuletan sang seniman, kita bisa dibawa jauh untuk “seakan” melihat realita baru lewat hasil DI-nya dan narasi yang ia tulis. Batas antara fiksi dan realitas pun semakin tipis.

Menurut Agan sendiri, sebuah karya Digital Imaging yang “canggih” memang membutuhkan ketelitian si pembuatnya secara teknis. “Menurut saya, kita harus paham dulu ‘logika’ fotografinya sih. Arah cahaya, distorsi, perspektif, sampai urusan pixel. Setelah latihan dan mencoba berulang kali, saya yakin dan percaya kalau semua akan indah pada waktunya,” jawab Agan soal teknis Digital Imaging yang baik.

Itu perspektif seniman Agan Harahap. Nah, pernah mendengar Thalasya Pov?

Baca Juga: Millen Cyrus: Menyebarkan Hal Positif dengan Menjadi Diri Sendiri

Thalasya Pov: Dari Digital untuk Digital, Fiksi atau Asli?
Persona karakter Thalasya (Dok. Instagram @thalasya_)
Dari Digital, untuk Digital

Kali ini, kita berhadapan dengan sebuah hasil karya besar lainnya dengan gabungan teknik DI dan animasi yang diunggah sebuah akun dengan nama persona Thalasya Pov.

Entah siapa yang ada di balik karakter ini sebenarnya, semua orang menebak-nebak. Namun, Lil Miquela asli Indonesia ini hadir dengan topeng persona di Instagram, semata-mata untuk berkarya.

“Saya tidak meminta untuk ditebak-tebak siapa saya dan apa saya,” tulis Thalasya di posting-an Instagram-nya 6 November lalu. Untuk sebuah akun Instagram yang baru saja dibuat di bulan Oktober 2018, Thalasya dalam hitungan bulan sudah mendapatkan lebih dari 400.000 followers.

Setiap posting-an terbarunya ditunggu orang-orang dan setiap ia memberikan kisi-kisi tentang album musiknya semua orang kegirangan karena membayangkan sosok Thalasya yang sempurna, seakan tanpa cacat dan bakatnya yang luar biasa dalam bermusik.

Crafters berkesempatan bertanya beberapa pertanyaan kepada Thalasya lewat email yang kemudian dibalas lewat seseorang dari management-nya via WhatsApp untuk menyampaikan langsung jawaban-jawabannya. Di bawah jawaban dari pertanyaan wawancara tersebut, ada sebuah harapan besar dari Thalasya untuk industri digital.

“Semoga industri digital ini bisa cepat berkembang pesat di Indonesia tercinta ini. #kiss” tulisnya sebelum juga mencantumkan nama lengkapnya di akhir balasan itu: Thalasya Pov.

Sudut Pandang Thalasya sebagai Persona

Kita boleh menebak-nebak soal misi dan visi Thalasya, atau setidaknya begitu yang ia tulis pada kami. Asalkan positif, ia tidak keberatan. Thalasya sendiri bisa jadi adalah sebuah bentuk kritik sosial. Bagaimana tidak, sekarang ini, media sosial sudah punya tekanan yang amat berat untuk para orang yang berkarya/eksis di dalamnya. Hukuman sosial rasanya paling sering kita lihat terjadi di media sosial seperti Instagram.

Untuk ini, Thalasya punya satu hal tetap lainnya yang selalu ia tegaskan yang selalu ia katakan yaitu, ia dan keseluruhan management dan timnya akan menghapus/block komentar-komentar negatif pada akunnya. Tapi, apa sebenarnya tujuan dari terbentuknya akun Thalasya ini?

Berikut beberapa pertanyaan dari Crafters yang dijawab oleh Thalasya Pov langsung. Lewat persona Thalasya yang punya kesan lugu dan cheerful, kita bisa pelan-pelan mengerti keinginan besarnya untuk berkarya lewat si persona tersebut.

 

Thalasya Pov: Dari Digital untuk Digital, Fiksi atau Asli?
Sosok karakter Thalasya melakukan kegiatan sehari-hari (Dok. Instagram @thalasya_)
Akunmu menarik banyak komentar dari orang-orang. Untukmu sendiri, apa sih cerita awalnya?

Saat aku coba masuk ke publik, semua comment aku baca, mereka pun berhak untuk berkomentar, tapi ini kan account-ku, aku lebih berhak untuk bikin aturan, mem-block dan delete komentar nyinyir yang tidak membawa kesan positive.

Boleh diceritakan tentang narasi/latar belakang karakter Thalasya? Apakah ada cerita spesifik agar kita lebih bisa mengerti karakter tersebut?

Aku tidak pernah berniat bercerita atau pun membuat konsep supaya viral, tapi aku muncul ke dunia digital ini hanya ingin bernyanyi dan berkarya di notasi musik.

“Dari Digital, Untuk Digital”. Hal ini kamu sampaikan lewat Instagram saat orang-orang bertanya-tanya tentang identitasmu. Apa tanggapanmu?

Ada yang lahir di era ’70-an, ada yang lahir di era ’90a-n dan ada yang lahir di era digital. Digital adalah sebutan perkembangan zaman yang lebih modern. Dan aku ada di era ini.

Topeng atau apa pun opini biar waktu yang akan menjawab, visi dan misi adalah membawa hawa positif.

Beberapa orang tidak bisa mengerti dengan sosok persona yang kamu tampilkan. Apa benar jika kami menyebutnya sebagai digital imaging? Dan apa yang kamu perhatikan setiap kali membuat konten di Instagram (teknis dan konten)? Boleh diceritakan?

Apa pun yang di opinikan, jangan berhenti mencari tahu, jadikan pembelajaran dalam mencari tahu sesuatu.

Siapa yang menginspirasi kamu untuk membuat sebuah persona yang membutuhkan keahlian digital seperti ini? Boleh diceritakan?

Yang menginspirasi hanya era. Era digital.

Baca Juga: Masdimboy: Untuk Berkarya Harus Buka Kuping, Mata dan Mulut

Berapa banyak dan bagaimana proses tiap-tiap pembuatan konten media sosialmu?

Aliansi Ind adalah artist management dan Magnavem adalah studio, di sinilah naunganku. Bukan perorangan, tapi perusahaan industri.

 

Aku tidak pernah berniat bercerita atau pun membuat konsep supaya viral, tapi aku muncul ke dunia digital ini hanya ingin bernyanyi dan berkarya di notasi musik.
Thalasya Pov: Dari Digital untuk Digital, Fiksi atau Asli?
Salah satu konten Thalasya yang menunjukkan lingkungan lokal (Dok. Instagram @thalasya_)
Kamu membawa era digital beberapa langkah lebih jauh. Banyak elemen dalam Thalasya yang menonjolkan industri kreatif, mulai dari desain, animasi dan musik. Apa pandangan Thalasya tentang industri kreatif di Indonesia?

Thank you. Ini bukan karya akhir sekolah, tapi hanya pembuka jendela di masa depan. Di mana semua teknologi harus dipelajari dan dikembangkan.

Ini hanya opening dari dari era ini, semua orang bisa masuk ke dunia digital.

Apa yang ingin kamu sampaikan pada followers-mu yang belum pernah kamu sampaikan sebelumnya untuk mendukung mereka ikut terjun ke dunia industri kreatif di era digital ini?

Untuk followers-ku bisa membuka banyak pintu konten, mulai dari video reactiontheoryjudgecover song bahkan akun gosip anonymous. Tapi harus disadari, lho. Konten video yang mereka buat sangat bisa di monetize untuk pendapatan pribadi.

Tapi ada satu yang kadang aku sayangkan, dengan hanya menebak kesamaan yang kebetulan sama, lalu menyimpulkan seseorang itu adalah Thalasya?*

(*Thalasya menanggapi isu soal identitas dirinya yang disamakan dengan salah satu musisi lokal bernama Adila Fitri)

December 14, 2018
Tips Membangun Personal Branding Sebagai Fotografer
Indonesia Creative Meetup kali ini membahas tentang membangun personal branding sebagai fotografer. Nicky Gunawan,...
December 20, 2018
4 Coworking Space di Jakarta yang Nyaman Bagi Freelancer
Bingung mencari tempat yang tetap bisa menjaga produktivitas namun tetap merasa nyaman? Coworking Space...