Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Sukimin Thio: Fenomena dan Kesempatan Menjadi Fotografer Profesional di Indonesia

“Yang kau jerat adalah riwayat. Tidak punah jadi sejarah”

Lirik lagu dari Efek Rumah Kaca di atas bisa jadi analogi yang tepat untuk fotografi, bahwa sebuah foto itu memiliki kekuatan untuk bisa mengabadikan sebuah kisah yang tidak mungkin pernah terulang kembali. Bicara nasionalisme, bayangkan tanpa sebuah foto, tentu kita tidak akan tahu bagaimana gambaran proses pembacaan naskah Proklamasi di Indonesia.

Contoh lainnya adalah ketika kita memilih untuk bekerja sebagai fotografer wedding. Apa yang ditangkap kamera itu merupakan satu cerita yang akan membuat seseorang mengingat seperti apa kenangan indah yang akan dituturkan secara turun temurun.

Bekerja sebagai fotografer seperti “bekerja untuk sejarah”, baik itu membawa perubahan minor atau mayor. Tetapi setiap cerita selalu dapat diabadikan menjadi satu kenangan yang bisa dilestarikan. Walau memiliki banyak keunggulan, ketika memutuskan untuk memilih jalur karier sebagai fotografer kerap timbul berbagai pertanyaan. Seperti, bagaimana fenomena industri fotografi di Indonesia ini? Bagaimana kesempatan untuk bekerja sebagai seorang fotografer?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Crafters sempat mewawancarai Sukimin Thio, General Manager of Imaging Division di Nikon Indonesia yang sudah terjun di dunia fotografi sejak 2008.

Baca Juga: Timur Angin: Jadilah Fotografer yang Rendah Hati

Sukimin Thio: Fenomena dan Kesempatan Menjadi Fotografer Profesional di Indonesia
Karya Foto Sukimin Thio
Bagaimana Mas Thio melihat fenomena dunia fotografi di Indonesia saat ini?

Fotografi sebenarnya sempat mengalami pasang surut. Waktu tahun 2006-2012 tuh lagi hangat-hangatnya, semua orang punya kamera, mereka hunting terus-terusan. Terus 2012-2015 itu agak dingin. Dan di tahun 2015 sampai saat ini, gara-gara ada Instagram, media sosial makin ramai, jadi panas lagi. Kenapa? Karena orang juga ingin punya foto bagus untuk feed. Nah, mereka mulai coba untuk motret lagi.

Waktu itu kenapa sempat dingin animonya? Saya melihatnya karena dulu ada platform foto, fotografer.net, di mana orang bisa upload di situ dan dapat comment. Nah gara-gara itulah jadi dingin, lalu orang jadi berpikir, “Gue foto buat apa ya?”. Kecuali memang beberapa orang yang hobi banget, dia bodo amat, dan tetap motret.

Apakah saat ini fotografer sudah menjadi profesi yang menjanjikan di Indonesia?

Bisa, cuma memang enggak gampang. Karena hampir di semua genre fotografi persaingannya keras banget. Saya pernah ngobrol sama beberapa fotografer weddingWedding kan luas banget market-nya, harganya (fotografer) ada yang dari lima juta sampai ratusan juta.

Saya sempat mengobrol dengan satu fotografer wedding di daerah Rembang, Jawa Tengah. Saya tanya, “Kalau jual paket foto wedding tuh berapa?” Dia jawab, “1,5 juta mas.” “Ngitungnya gimana nihLo dapat apa aja? Bersihnya dapat berapa?”, Dia jawab lagi, “…paling 200-300 ribu.”

Saya nanya lagi, “Kenapa enggak jual lebih mahal? Kalau jual lebih mahal kan dapat profit lebih banyak. Industri ini juga enggak rusak-rusak amat.” Dia jawab, “ Kalau saya jual lebih mahal, enggak ada yang mau (kerja sama) sama saya.

Persaingan sih memang sampai segitunya. Nah kalau soal menjanjikan, tetap menjanjikan, cuma memang prosesnya enggak gampang, semua butuh proses, enggak ada yang instan.

Seperti apa proses yang baik untuk bisa menjadi seorang fotografer profesional?

Supaya bisa sampai berhasil jadi fotografer, koneksi harus banyak, akan sangat bagus kalau dia bisa collabs sama orang lain, jadi bisa naik bareng-bareng. Atau bisa attached ke satu brand, jadi klien bisa lebih yakin. Kalau kita bisa kerja sama bareng fotografer lain, itu akan memudahkan kita untuk bisa berhasil jadi fotografer.

Selain itu, kita nge-build portofolio yang benar. Kalau misalkan anak-anak yang baru mulai foto, bisa fotoin temannya, enggak usah minta bayaran dulu, supaya punya portofolio untuk bisa dijual ke orang lain.

Kriteria penting apa untuk bisa menarik klien?

Penting untuk kita untuk bisa berkomunikasi dengan baik sama klien. Misalnya begini, terhadap hal-hal simpel, kalau saya ya, kalau saya nge-treat klien-klien yang dulu atau pernah kerja sama dengan saya itu, hal-hal simpel, misalnya memberikan kue waktu ulang tahun, walaupun itu klien yang mungkin kadang sudah tahun lalu nih kolaborasi sama saya.

Jadi kalau misalnya saya kerja sama dengan satu klien, saya tanya dulu, hobinya apa sih? Tinggal di mana?Sudah berapa lama kerja di sini? Ulang tahunnya kapan? Itu sambil saya ngobrol, sambil catat. Jadi misalnya, “Wah si mas ini ulang tahun tanggal segini nih.” Terus saya kirim kue deh. Hal-hal simpel kayak gitu di mata kita mungkin biasa, tapi di mata orang yang nerima beda, bisa bangun hubungan dengan cara-cara yang simpel kayak gitu.

Terus kalau wedding, fotografer wedding ada yang setelah selesai ya selesai juga . Tapi fotografer wedding yang sudah besar, dia nge-treat kliennya pada saat wedding anniversary, dikirimin sesuatu, (mengucapkan) terima kasih sudah ini (bekerja sama). Bingkisan-bingkisan kecil gitu sudah bikin (klien) senang. Dan mereka akan cerita-cerita kan ke orang”gue foto pakai ini, mereka servis gue bagus banget.” Dari mulut ke mulut makin lama makin terkenal.

 

Sukimin Thio: Fenomena dan Kesempatan Menjadi Fotografer Profesional di Indonesia
(Dok. Sukimin Thio)
Sukimin Thio: Fenomena dan Kesempatan Menjadi Fotografer Profesional di Indonesia
(Dok. Sukimin Thio)
Apa sih kekurangan yang ada di Indonesia sehingga banyak orang yang ragu untuk jadi fotografer?

Mungkin kayak lumayan ribet, saya bicara dari sisi fotografi landscape saja. Pada saat pergi ke luar negeri, saya motret mau ngeluarin tripod atau mau ngapain, aman-aman saja. Tapi kalau misalkan di Indonesia, bulan lalu saya pergi ke GBK. Baru ngeluarin tripod sudah disamperin satpam, dan ditegur kalau enggak boleh motret. Padahal saya moto ini enggak buat apa-apa, enggak buat komersial.

Dari sisi landscape atau travel photographer, kesulitan-kesulitan itu ada di Indonesia. Regulasi yang kadang-kadang mungkin terlalu berbelit-belit.

Kalau industri fotografi lain saya kurang mengerti, tapi kalau wedding, yang mungkin mereka lihat, persaingannya sudah keras banget, banting-bantingan harga. Dan mungkin orang-orang yang baru motret mikirnya “kalau gue full fotografer, berapa uang sebulan yang bisa gue dapat, bisa enggak untuk menghidupi keluarga, buat makan sehari-hari.” Itulah yang pasti dipikirin sama orang-orang. Karena faktor-faktor tadi, gue mau moto aja susah di sini.

Menurut Mas Thio, seperti apa masa depan industri fotografi di Indonesia?

Fotografi sampai kapan pun akan tetap hidup. Cuma saya lihat sudah ada tren baru yakni video. Karena sebuah foto adalah sesuatu yang bisa kita lihat, kita nikmati. Tapi video itu sebenarnya bisa lebih banyak bercerita. Jadi fotografi sampai kapan juga akan ada, enggak bakalan hilang, tapi tren baru yakni video sudah mulai naik.

Seperti apa tren fotografi di tahun 2019 ini?

Enggak begitu banyak berubah sih. Paling, di dua tahun terakhir tren warnanya vibrant gitu, mungkin tahun ini mulai banyak yang ke pastel. Tapi kalau secara tren tetap sih yang paling banyak, peminatnya pasti landscape sama portrait.

Kenapa foto landscape dan portrait punya peluang paling banyak peminatnya di 2019?

Karena enak dilihat. Sesuatu yang indah dilihat itu, menarik orang, dan membuat orang betah. Kalau misalkan orang melihat foto landscape kayak adem ngelihatnya.

Pesan atau nasihat bagi orang yang ingin berprofesi sebagai fotografer?

Mulai dengan hal kecil dulu. Lihat referensi dari orang-orang, foto yang kita suka itu seperti apa. Foto landscape, model, atau produk, cari yang kita suka tuh seperti apa. Dari situ kita bisa menilai passion-nya ke arah mana. Terus referensi dari foto-foto jangan di-copy, hanya jadi referensi. “Oh yang bagus kayak gini.” Sambil motret, kita akan menemukan style sendiri. Dan kita mulai dari situ dulu.

Setelah itu, konsisten, supaya bisa lebih dikenal di genre itu. Saya mengibaratkannya kayak pohon, misalnya pohon kita tanam di satu pot, dia lama-lama akan makin besar. Kalau kita tanam pohon sebentar, terus pindahin ke pot lain, jadinya tetap begitu. Kalau pindahin lagi ke pot lain, lama-lama mati malah, dia enggak akan berkembang. Jadi fotografer begitu sih, kalau kita mau menekuni satu bidang, tetap di satu bidang itu, jadi konsisten.

Baca Juga: Tips Membangun Personal Branding Sebagai Fotografer

 

Apakah kamu seorang fotografer profesional?

January 29, 2019
Membuat Thread di Twitter yang Menarik Banyak Audiens
Dengan sebuah fitur thread yang diluncurkan oleh Twitter pada tahun 2017, banyak pengguna yang...
February 6, 2019
15 Ide Video YouTube yang Harus Kamu Coba!
Memulai karier di platform media sosial YouTube pasti menyenangkan, apalagi jika videomu ditonton banyak...