Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Rain Chudori: Terjun Langsung Mengembangkan Industri Sastra

Kritis akan industri, produktif dan terjun langsung ke dalamnya. Sebagai anak muda, untuk terinspirasi melakukannya sekaligus merupakan sebuah tantangan besar. Ini yang dilakukan Rain Chudori. Seorang penulis muda yang telah menerbitkan tulisan-tulisannya sendiri, kebanyakan dalam bahasa Inggris dalam bentuk kumpulan cerpen dan novel.

Lewat “Monsoon Tiger and Other Stories” dan “Imaginary City”, ia berhasil mengajak anak muda Indonesia untuk turut larut dalam buku-bukunya. Di Ubud Writers & Readers Fest 2018 lalu, ia juga meluncurkan buku berbahasa Indonesia pertamanya, sebuah terjemahan cerpen dari “Monsoon Tiger and Other Stories” yang diterjemahkan oleh sang Ibu, Leila S. Chudori dan partner-nya.

Rain Chudori: Terjun Langsung dan Mengembangkan Industri Sastra
(Dok. Instagram @rainchudori)

Dalam wawancaranya dengan Crafters, Rain banyak bercerita tentang project-project besarnya, seperti The Comma Books, novel grafis garapannya, serta opininya soal industri sastra yang saat ini sudah diselaminya selama bertahun-tahun. Walaupun masih muda, Rain terhitung sudah terjun ke dalam industri sastra selama kurang lebih 10 tahun. Karya pertamanya, “Biru”, terbit di sebuah media besar tanpa awalnya tahu siapa yang menulisnya. Ternyata, di baliknya ada sesosok anak perempuan berumur 14 tahun yang dibesarkan oleh sastra dan industri kreatif lainnya dari kanak-kanak.

Baca Juga: Bernard Batubara: Industri Buku, Media Sosial dan Konsistensi

Kamu memulainya di umur sangat muda waktu itu. Apa yang membuat kamu menulis pertama kali?

Jadi, ibuku adalah seorang penulis juga, Kakekku jurnalis, Ayahku kurator dan fotografer. Aku itu selalu ada di lingkungan bidang kreatif. Waktu aku kecil juga, pilihanku ingin selalu menjadi penulis dan kurator saat besar, menjadi seperti ibu dan ayahku. Waktu umur 14 tahun, tulisan cerpenku dikirim ke Jakarta Post. Bukan dengan nama asliku, karena kita ingin lihat saja apakah bisa diterbitkan.

Lalu, akhirnya diterbitkan dan aku menulis untuk Jakarta Post dan beberapa media lain. KPG akhirnya menawarkan untuk membuat buku dari collection of short stories. Terus, dibuatlah, dan sampai sekarang aku menulis buku. Hingga sekarang, aku juga sudah punya The Comma Books, sebuah penerbitan buku yang fokus dengan talenta penulis baru di bawah KPG.

Apa yang kamu ingat dari pertama kalinya kamu menulis?

Umm, dari kecil aku dulu pendiam dan berbeda dengan sekarang. Mungkin karena dulu aku sangat sering membaca, dan aku dulu kurang mengerti cara berkomunikasi dengan orang serta bagaimana cara merealisasikan ide-ideku, imajinasiku, pertanyaan-pertanyaan yang waktu kecil sering aku tanyakan. Jadi, aku mulai menulis dan keluargaku selalu encourage anak-anak di keluarga kami untuk menjadi kreatif. Aku merasa akhirnya aku menemukan sebuah medium untuk berpikir, bermeditasi, untuk berkomunikasi dengan dunia, yaitu lewat menulis.

Kamu pernah berakting dalam film hingga mendapat penghargaan, kamu juga seorang penulis muda yang sangat produktif, kamu terjun ke dunia kurasi serta penerbitan, bahkan creative consultant. Apa fokusmu sekarang?

Semuanya. Aku memang tipe orang yang enggak bisa diam. Maksudnya, aku harus selalu bergerak mengembangkan ide, selalu harus ngutak-ngatik dan berimajinasi. Tapi menurutku yang lebih penting dari imajinasi adalah membuat sesuatu. Kalaupun tidak untuk dunia, paling tidak untuk dirimu sendiri. Jadi kalaupun misalnya tulisanku belum diterbitkan, pastinya aku akan terus menulis untuk diriku sendiri.

Untuk akting, sebetulnya aku dulu iseng-iseng karena ditawarin beberapa kali sama teman-teman dari industri film. Jadi, itu enggak pernah merencanakan atau bermimpi untuk menjadi seorang aktris. Itu semua lebih kayak bercandaan aku dan teman-teman sih hahaha. Ya, kalau ditawarkan aku iya-iya aja.

Kamu masih muda dan sangat produktif. Dari semua yang pernah kamu capai dan lakukan, apa yang hingga sekarang belum tercapai?

Banyak. Mungkin karena aku orang yang sangat fokus dan ambisius–aku sangat berterima kasih dengan semua yang sudah aku lakukan, but I always want to do moreI always want to do more for people who don’t have the privilege that I haveI always want to do more for people who take action, but don’t know how, makanya aku bikin The Comma Books. Sebenarnya aku dulu enggak tertarik bisnis, ya. Karena menurutku itu sesuatu yang memerlukan bukan hanya kreativitas, tapi juga logika yang sangat kuat. Dan problem solving talent yang juga kuat. Dari dulu I make my own work of art, tapi itu kan selalu di waktuku sendiri. Dan ketika aku masuk advertising, di situ aku harus mengkomunikasikan ide-ide klien, dan aku harus bisa bernegosiasi yang membutuhkan pace yang cepat banget. Di situ, aku belajar untuk bisnis. Dari situ aku melihat kalau industri utamaku, yaitu sastra, itu tidak se-developed industri desain, film atau pun musik. Funding-nya sedikit, support dari negara–especially dulu itu tidak banyak.

 

Rain Chudori: Terjun Langsung dan Mengembangkan Industri Sastra
Buku kumpulan cerpen Rain Chudori (Dok. Instagram @rainchudori)

Bisnis development-nya tidak ada sustainability, penulisnya juga enggak dibayar dengan cukup. Tapi juga, behaviour orang-orang yang ada di industri itu kebanyakan toxic, kompetitif yang tidak sehat, lalu orang-orang yang muncul itu-itu aja. Aku jadi bertanya, bagaimana talenta yang baru? Lewat latar belakang itu, aku mau coba bikin The Comma Books, aku coba bikin dengan formula yang aku buat dengan buku-bukuku. Tiap kali aku mau menerbitkan buku kan aku pasti akan bertanya apakah aku bisa memilih desainnya sendiri, atau ilustrator sendiri. Aku bikin creative concept sendiri. Karena aku juga punya background di film dan di branding, dan di kesenian. Jadi aku menggunakan knowledge itu untuk membuat lebih jauh. So, okay, I have my manuscript, but what happen after that? Itu suatu mentalitas yang saat ini sudah mulai modern. Tapi waktu aku memulai dulu itu, hal tersebut belum terlalu berkembang.

Three important things you need for writing?

Menurutku, technical stuffs bisa jadi penting. Tapi, untukku yang paling penting adalah bagaimana kami sebagai penulis membawa dan akhirnya melahirkan tulisan itu. Yang paling penting menurutku adalah emosi, kejujuran, dan kompromi. Di industri lain yang sudah lebih berkembang, aku sadar pelakunya sudah banyak yang siap untuk berkompromi. Kita ini bekerja dengan orang lain dan enggak bisa ngelakuinnya sendiri. Ini jadinya, kita bicara tentang masalah industri. Saat ini, banyak banget orang yang tidak bisa berkompromi dan mereka tidak mau mengerti bahwa sebenarnya kompromi adalah hal yang bagus untuk diri mereka. Kompromi itu bukannya mengambil kebebasan, tapi mengajarkan kita untuk lebih bisa beradaptasi serta memberikan kita ide kita soal dunia. Jelas, karena kita bukan orang yang maha tahu.

Baca Juga: 10 Buku Wajib Baca versi Adimas Immanuel

Pernah terpikir menulis bentuk buku lain selain novel atau cerpen?

Sebenarnya Imaginary City saat ini lagi dalam proses untuk dijadikan novel grafis. Kalau bicara soal bentuk lain, aku dulu belajar film pas kuliah dan aku beberapa kali menulis naskah film pendek. Aku sebenarnya ingin banget menulis lagi. Dan aku masih rookie, ya untuk department ini. Because film is a whole different animo. Karena film sangat banyak kolaborasi. Aku menulis beberapa script untuk iklan atau brand. Tapi aku ingin sekali menulis naskah film fiksi.

Seberapa excited-nya kamu dengan “Biru”? Walaupun ini bentuk terjemahan dari “Monsoon Tiger and other stories”, tapi akhirnya kamu mengeluarkan satu buku berbahasa Indonesia.

Biru ini translated version dari Moonson Tiger yang diterjemahkan oleh ibu dan pacarku. Aku sangat excited. Masalahnya untukku selama ini bukan menerbitkan buku dalam bahasa Indonesia. Masalahku adalah menulis dalam bahasa Indonesia. Karena kalau ngomong, aku lancar. Hanya saja, menulis ‘kan sama dengan harus lancar berbahasa Indonesia di kepala untuk kemudian menulisnya. Aku kan sekarang masih sering menambahkan bahasa Inggris dan beberapa kata aku sering lupa. Ya, aku bisa berbicara tapi aku belum bisa selancar itu menulis. Dan aku enggak ingin mengeluarkan sesuatu yang setengah-setengah. I want to truly honor the language.

 

Rain Chudori: Terjun Langsung dan Mengembangkan Industri Sastra
"Biru", buku ketiga Rain Chudori (Dok. Instagram @rainchudori)
Kita adalah anak-anak dari generasi milenial yang disebut-sebut sebagai generasi yang saat ini punya andil sangat besar dalam masyarakat. Apa sih yang kurang dari industri sastra dan apa concern terbesarnya menurutmu?

Wah, kayaknya aku perlu satu jam untuk ngomongin ini, hahaha. Sebetulnya, aku dan ibuku baru ngomongin soal ini di salah satu panel kami di UWRF 2018. We need more respect, patience and kindness.

Kalau bicara soal industri sastra sendiri, aku enggak bisa bilang industri sastra itu sulit, misalnya. Karena semua industri itu sulit dan kesulitannya berbeda-beda. Tapi secara general, aku bisa bicara bahwa masalahnya adalah uang dan networking-nya enggak segampang industri lain. Tapi kalau bicara orang-orang yang terjun di dalamnya, ada beberapa behaviour yang ada di zaman sekarang–mungkin karena kita hidup di zaman modern di mana internet itu cepat dan semuanya buru-buru, membuat banyak orang termasuk seniman itu enggak sabaran. Selain itu, karena mudahnya mengakses dan melakukan semua lewat teknologi, orang merasa semuanya harus gampang. Padahal, nyatanya enggak. Kerja keras di manapun itu perlu. Aku sudah beberapa tahun di industri ini aku sekarang udah enggak percaya bakat. Bakat itu ada, tapi kalau kamu enggak kerja keras, baik dan sabar, untukku, itu behaviour yang unacceptable.

 

Rain Chudori: Terjun Langsung dan Mengembangkan Industri Sastra
Potongan "Smoking with God", karya Rain Chudori (Dok. Instagram @rainchudori)
November 6, 2018
David Farrier, Dark Tourist: Tidak Sepadan untuk Sekarat Jika Bisa Menghindarinya!
Crafters berhasil ngobrol lewat email dengan David Farrier, jurnalis asal New Zealand tentang Dark...
November 12, 2018
5 Kebiasaan yang Bisa Menjadikanmu Content Creator Sukses!
Kebiasaan-kebiasaan apa saja yang bisa membuatmu menjadi seorang content creator yang sukses? Baca di...