Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Masdimboy: Untuk Berkarya Harus Buka Kuping, Mata, dan Mulut

Awalnya di media cetak, kini makin berkembang di media sosial. Komik strip, yang dulu kita apresiasi pada halaman koran yang terbit tiap hari, atau seminggu sekali bersama teka-teki silang (TTS), kini pun kita nikmati via Instagram. Tinggal follow komikusnya, dan menunggu update konten terbaru mereka.

Memang, rasanya di era ini kita tidak bisa jauh dari gadget dan segala platform di dalamnya. Menurut riset, kita bisa menghabiskan hampir seperempat hari di depan layar gadget. Hal itu mungkin jadi salah satu sebab makin banyak seniman pembuat komik memanfaatkan berbagai channel di internet, khususnya media sosial; seperti Instagram, Facebook, atau Twitter.

Seperti komikus dengan persona bernama Masdimboy yang mengaku bahwa memang saat ini komikus memiliki fleksibilitas ekstra untuk memasarkan karyanya, dan bahkan menjangkau lebih banyak audiens dibandingkan dulu. Adimas Bayu, sosok kreator dibalik persona itu, bercerita pada Crafters tentang perjalanannya, sikap dan pandangannya soal dunia komik dan ilustrasi.

Hal di antaranya, jenis komik strip menurut Masdimboy jadi solusi yang relevan saat ini karena sifat instan-nya. “Maksudnya, memang generasi sekarang itu instan banget. Enggak berarti buruk kok. Ibaratnya, makin ke sini, handphone juga enggak ada tombolnya dan terlihat lebih simpel. Di balik itu, teknologinya luar biasa, lebih canggih. Makin simpel suatu produk, biasanya makin banyak juga kegunaannya,” tuturnya membuka perbincangan.

Baca Juga: Kemas Acil: Membuka Mata Soal Seni Ilustrasi

Masdimboy: Untuk Berkarya Harus Buka Kuping, Mata, dan Mulut
Adimas Bayu menggambar karakter Masdimboy (Dok. Instagram @adimas_bayu)
Dulu, sekarang, dan masa depan

Masdimboy dari dulu sudah hobi menggambar. Ia mengaku bahwa dulu, saat masih mahasiswa, semua hal ia lakukan berlandaskan kegemarannya dalam menggambar. Memang, saat itu ia merasa belum memiliki audiens, maka kebebasan berkarya lebih dapat ia rasakan sebagai seorang komikus.

Seiring waktu, kini ia merasa tidak bisa sebebas dulu. Tapi, ia sendiri mengaku tidak keberatan dengan “beban” yang kini ditanggungnya. Masdimboy pun merasa bahwa perkembangan saat ini membuat komik strip tidak menghadapi perjuangan seberat dulu. Pada 2004, ia pernah merilis kumpulan komik stripnya dalam bentuk buku, secara independen.

Di era itu, sebelum internet mencuat jadi medium pilihan banyak orang, buku komik fisik adalah pencapaian tersendiri buat para komikus. Terutama karena kebebasan konten di dalamnya terasa sebanding dengan kepuasan si komikus menerbitkannya.

Lalu, followers akun media sosialnya pun mulai bertumbuh sampai lebih dari 80.000; hal yang membuatnya makin perlu merasa berhati-hati saat memproduksi karya komik.

“Sekarang jadi lebih mikir, kontennya mesti gimana. Ada norma, ada tanggung jawab sosial dalam berkarya. Kalau kata pamannya Spider-man, ‘Di balik kekuatan besar, terdapat tanggung jawab yang besar’. Itu pula yang harusnya banyak orang influencer pikirkan. Followers kalian banyak, tanggung jawab sosial kalian pun banyak. Yang ngikutin mungkin ada anak kecil,” katanya

Belajar dari pengalamannya berkarya selama bertahun-tahun. Masdimboy saat ini perlahan-lahan mengambil pelajaran lampau dan menerapkannya dengan gaya karyanya saat ini. “Pengennya sih, dari semua yang sudah dilewati, aku bisa merasakan kepuasan berkarya yang sama dengan dulu; sambil tetap menjaga konten dan identitas Masdimboy. Bebas, tapi bertanggung jawab,” imbuhnya.

Untuk proses pengkaryaan sendiri, Masdimboy merasa tidak mendapati perbedaan signifikan. Hal yang jadi salah satu perhatiannya saat berkarya adalah isu dan konteks yang ia angkat dari kehidupan sehari-hari. Menjadi lebih responsif dengan keadaan adalah hal yang ingin ia capai.

Ia mengaku, dulu ia memiliki idealisme untuk tidak mengikuti tren; artinya ia hanya ingin membuat karya secara bebas dan timeless (bisa dinikmati kapan saja). Seiring waktu dan perkembangan media sosial, sebagai komikus, ia merasa, saat ini membuat konten dengan isu-isu terbaru memberikan dampak positif yang nyata pada akunnya.

 

 

Masdimboy: Untuk Berkarya Harus Buka Kuping, Mata, dan Mulut
Komik strip karya Adimas Bayu (Dok. Instagram @masdimboy)
Identitas dan sikap

Banyak komikus yang kini berkarya di media sosial, seperti Instagram. Dan karena natur platform-nya visual, tiap-tiap di antara mereka terdorong untuk memperkuat identitas lewat visualisasi karya. Masdimboy sendiri punya karakter atau persona yang sekali pandang, langsung mudah kita kenali (siapa kreator di baliknya).

“Aku konsisten di hitam putih saja. Dan pengen berusaha lebih ke teknis penggunaan bold lines. Pengen sesimpel mungkin dengan garis. Dulu, karyaku lebih banyak arsiran dan detail, tapi sekarang maunya lebih detal, sekaligus cukup simpel. Karena ini kan bukan gaya pin-up, yang bisa dilihat dan dinikmati dengan waktu lama. Sementara untuk komik strip aku mau yang se-simple mungkin, tapi impact-nya besar,” ujar Masdimboy panjang lebar.

Melalui komik, ia menggambarkan dirinya sehari-hari dengan kacamata dan topi khas Masdimboy. Ia sendiri mengaku, mendapatkan inspirasi dari seniman Jean Jullien. Tidak heran, Jullien termasuk dalam sedikit dari banyak seniman yang “laris”, juga konsisten melalui gaya visualnya yang juga simpel.

Di area industri. Seiring perkembangan teknologi, tidak dipungkiri beberapa hal juga masih jadi persoalan yang dihindari atau memuat isu negatif. Sebut saja misalnya, plagiarisme. Referensi konten itu berbeda dengan menjiplak. Urusan ini penting dipahami para kreator, terutama yang profesional. Menurut Masdimboy, tidak ada yang salah dari menggunakan karya yang dibuat seniman lain sebagai inspirasi, tapi…

“Buatku, buat teman-teman yang baru mau mulai; enggak masalah untuk mengikuti gaya-gaya yang kamu anggap menginspirasi kamu. Dari situ nanti baru bisa kelihatan perkembangannya. Dulu, aku juga mengikuti cara gambar orang-orang yang menginspirasi aku. Kalau enggak gitu, aku enggak akan ngerasain gimana proses narik garisnya. Gimana akhirnya aku bisa nyaman, dengan gambar yang seperti apa. Ini pun setelah jalan lebih dari 15 tahun berkarya, aku terus merasa tidak puas,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan satu syarat untuk para kreator yang sedang berkembang: Jaga karya “tiruan” mereka agar tidak tersebar luas dan menyakiti pihak lain, atau bahkan menggunakannya, lalu mengaku-ngaku itu karya sendiri. Jadikan karya orang lain sebagai inspirasi dan referensi. Menurutnya, belajar dan meniru itu proses belajar yang penting.

Baru, setelah itu, yang ia anggap tidak kalah penting untuk para kreator di era media sosial ini adalah berjejaring dengan sesama kreator. Masdimboy sendiri beranggapan kalau kesamaan ide yang beredar di antara para komikus makin tak bisa dicegah.

“Zaman sekarang gini kayak udah enggak ada yang orisinal. Contoh kasus paling dekat, belum lama ini, salah satu komikus ada yang bikin komik mirip dengan yang pernah aku bikin; tapi tanpa sengaja. Dan karena kedaulatan tertinggi saat ini ada di tangan netizen, mereka pun nge-judge bahwa teman aku itu melakukan plagiarisme. Salah satu solusi saat terjebak isu seperti ini adalah jejaring tadi. Sehingga kita bisa saling ngobrol di antara sesama seniman, walaupun enggak pernah tatap muka. Seperti dalam kasus tadi, kita bisa tinggal berkomunikasi saja, sesama seniman,” ujarnya menjelaskan.

Selain berjejaring, menurutnya, apresiasi pada audiens juga harus selalu dijunjung. Terkait hal ini, hasilnya akan terlihat jelas di kedua belah pihak. Apalagi jika bicara soal sponsored content dalam bentuk komik yang kini marak dilakukan brand, dan berkolaborasi dengan kreator konten di media sosial. Tak jarang, konten ini mendapatkan kritik dari followers yang menganggap mereka melakukannya hanya demi meraup keuntungan.

“Padahal, harusnya audiens bisa memberikan apresiasi. ‘Kenapa nih si seniman yang kita follow karyanya dimasukin brand? Oh iya ya, kalo dia enggak makan, enggak minum, enggak bayar kontrakan, gimana dia mau berkarya? Ya udah deh, kita support aja’,” katanya disusul tawa.

Untuk itu, bangunlah interaksi baik dengan audiens. Hargai komentar yang mereka berikan, juga kritik dan berbagai tanggapan mereka di akun kita. “Karena orang suka lupa. Namanya media sosial, kan? Orang kadang ingetnya cuma bagian ‘media’-nya saja. Padahal, sosial di sini artinya interaksi dua arah. Jangan kayak diktator. Bikin komik terus-terusan yang kontroversial, lalu ngilang. Ya enggak gitu caranya. Bikin statement, ya tanggung jawab sama statement-nya. Bikin karya, ya tanggung jawab sama karya lo,” tegasnya.

Baca Juga: Bisnis Komik di Indonesia, Masih Bertahankah?

 

Masdimboy: Untuk Berkarya Harus Buka Kuping, Mata, dan Mulut
Konten Masdimboy untuk sponsored content Cocowork (Dok. Instagram @masdimboy)
Berani action, ngasih liat karya, berani bertanya, bersosialisasi, di media sosial juga di kehidupan nyata. Buka kuping, mata, dan mulut
Pesan dari Masdimboy

Pada akhirnya, wawancara ini mengarah pada pertanyaan tentang kiat-kiat dari Masdimboy ke komikus yang ingin memulai kariernya.

“Yang basic banget, ya action dulu aja! Ibarat tips untuk hidup, ya udah lo napas aja dulu. Selain itu, yang enggak kalah penting adalah berani. Berani action, ngasih liat karya, berani bertanya, bersosialisasi, di media sosial juga di kehidupan nyata. Buka kuping, mata, dan mulut,” tandasnya.

“Aku enggak jarang menemukan orang-orang yang hanya berkarya, tapi enggak pernah ngobrol, enggak dengerin orang, bahkan takut dengan referensi. Balikin aja, lo mau berkarya untuk siapa? Lo pengen diapresiasi sama siapa? Dan ya lo harus kenal. Seperti desainer aja, lo pengen bikin solusi untuk masalah apa? Kan harus tahu masalahnya, pahami, dan tanya-tanya biar bisa menemukan jawabannya. Jadi sekali lagi, buka mata, kuping, dan mulut. Berani ngomong!” ujar Masdimboy menutup obrolan.

October 4, 2018
Bernard Batubara: Industri Buku, Media Sosial dan Konsistensi
Bernard Batubara, penulis muda yang telah menerbitkan lebih dari 10 buku fisik, bicara tentang...
October 11, 2018
Begadang Bukan Solusi Freelancer untuk Tuntaskan Project!
Freelancer sering dipandang dekat dengan kebiasaan begadang. Namun, jangan korbankan kesehatan. Tunjukkan bahwa kamu...