Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Kamengski: Akulturasi Budaya, Perkembangan Desain, dan Pengamatan Budaya Populer

Berkarya dalam bentuk apapun sering menjadi jalan keluar para pekerja kreatif dari kepenatan rutinitas. Dari semua pelakunya, ada saja yang berhasil membawa karyanya menjadi sebuah fenomena besar yang bisa dinikmati banyak orang. Menjadi desainer profesional adalah satu hal, namun, menjadi desainer yang bisa menjual produknya sembari bersenang-senang? Siapa yang tidak mau?

Hal ini terjadi tanpa dipikirkan oleh Sulaiman Said alias Kamengski. Dalam wawancaranya dengan Crafters, ia terus meyakinkan bahwa yang penting untuknya adalah untuk “bersenang-senang”. Enjoy aja.

Jelas, memang karena karya Said, panggilan akrabnya, sudah dikenal masyarakat luas. Saya sendiri sadar betul dengan ketenaran produk-produk pakai dari desain yang dirancang oleh tim Kamengski dan Said sendiri. Bahkan, saya menyampaikan pada Said bahwa saya sering melihat orang di kendaraan umum sedang menggunakan salah satu produk buatannya. Mulai dari topi, kaus, jaket hingga kaus kaki.

Desain yang digarap Said memang unik, dan tentu menjadi salah satu pionir dengan desain ‘plesetan’ di Indonesia. Bagaimana tidak? Kita pasti pernah setidaknya satu kali bertemu dengan orang lain atau teman yang mengenakan bucket hat dengan desain mangkuk mie ayam yang terkenal itu, atau mengenakan jaket sukajan dengan bordiran ilustrasi pecel lele yang biasa kita lihat di pinggir jalan, atau bahkan melihat salah satu petinggi IndoFood mengenakan baju “Supermie”–dan bukan “Supreme” yang semuanya didesain oleh Kamengski.

Apa sih karya “bercandaan” pertama Kamengski yang didesain oleh Said? “Karya pertama yang bercandaan itu adalah Basquiat Abdullah (2010). Jadi, mukanya Basuki Abdullah (pelukis Indonesia), rambutnya gue ganti Basquiat (seorang seniman dan icon pop dari Amerika),” jelas Said. Tapi, sebagai pekerja kreatif yang menamakan proses desainnya sebagai akulturasi budaya, Said tidak langsung mendapatkan formula itu.

Baca Juga: Thalasya Pov: Dari Digital untuk Digital, Fiksi atau Asli?

 

Kamengski: Akulturasi Budaya, Perkembangan Desain, dan Pengamatan Budaya Populer
Desain "Basquiat Abdullah" oleh Kamengski (Dok. Google)
Kamengski: Akulturasi Budaya, Perkembangan Desain, dan Pengamatan Budaya Populer
Beragamnya desain parodi dari Sulaiman Said/Kamengski (Dok. Instagram @kamengski)
Perkembangan desain Kamengski

Seperti pengkarya pada umumnya, Said memerlukan proses sekitar dua tahun untuk menemukan kombinasi untuk membuat produk “bercanda” nya itu terkenal. Awalnya, ia hanya gemar membuat ilustrasi. Jelas, karena ia dulunya mengambil studi jurusan Ilustrasi di IKJ. Ia dan teman-temannya sepakat ingin menjual kaus dengan desain kolaborasi mereka dengan nama Kamengski. Nama yang diambil dari kenalan mereka yang tidak sengaja lewat.

Pada tahun 2008, Said rajin memasarkan desainnya dan menjual langsung ke kampus-kampus. “Bayangin aja, dulu gue ke Binus, bawa-bawa fotokopian dari 6 desain kaos gue dan gue tempel di seluruh kampus. Laku? Enggak. Tapi, gue seneng aja,” katanya sambil tertawa. Ia sendiri sebenarnya telah menikmati proses membuat ilustrasi. Namun ternyata, ada hal yang amat mengganjal seiring ia menjual produk-produk dengan gambar ilustrasinya.

“Sebenarnya, karya gue yang lama itu bukan parodi, ya. Memang gue suka bikin yang bercanda. Tapi enggak melulu parodi. Cuma, memang kalo karyanya menyenangkan, gue suka bikinnya. Gue kalau bikin karya dari dulu memang jarang yang serius karena gue dulu pernah nyoba bikin karya “serius” dan gue anggap keren secara visual gitu,” cerita Said ke saya.

Kamengski: Akulturasi Budaya, Perkembangan Desain, dan Pengamatan Budaya Populer
Sulaiman Said alias kepala di balik Kamengski (Dok. Sulaiman Said)

“Tapi gue anggap gagal. Kenapa? Karena gue bergerak sama dengan yang lain. Oke, anggaplah ada beberapa orang yang ngampus dengan jurusan sama. Semua diajarin untuk bikin yang bagus, satu jalur. Dan gue ketinggalan karena gue kurang bagus. Dari situ, yaudah gue belokin aja. Kalau lo semua bikin yang bagus, gue bikin yang jelek. Gue jadi punya jalur sendiri, dong?” tambahnya.

Kesadaran Said akan kebutuhan desain alternatif bagi penikmat karya senilah yang ternyata membuat ia menonjol, hingga saat ini. Ia melanjutkan, “Nah, audiens juga gitu. Bosen nih sama yang bagus, dan gue menyediakan alternatif. Orang beramai-ramai bikin visual yang detail dan susah, si Said enggak. Si Said simpel, tapi pesannya dapet. Ternyata ini lebih menyenangkan, buat audiens dan gue. Jadi gue enggak perlu berkarya dengan ribet dan mendetail seperti yang lain. Itu bukan gue–itu biar mereka aja. Dan yang kayak gitu udah banyak. Jadi gue ambil jalur lain untuk jadi alternatif mereka. Tapi kita enggak bertabrakan kan, kita bisa berjalan dan berkembang di zona masing-masing.”

Baca Juga: Juxtaposisi, Narasi dan Realita versi Agan Harahap

Akulturasi budaya ala Kamengski

Dari penjelasan Said sebelumnya tentang perkembangan desain serta pemikiran-pemikirannya akan industri, kita cukup bisa belajar soal kesempatan yang tidak ia ambil dengan ragu-ragu. Namun, tidak dipungkiri, karya parodi, kolase (penggabungan gambar satu ke gambar lain) atau yang disebut Said dengan akulturasi budaya itu membutuhkan kepekaan dari pelakunya.

“Jadi, rumusnya budaya populer yang ada di luar, seperti misalnya Nike, Supreme, Basquiat atau apa pun itu ada di sekeliling dan keseharian kita. Itu semua, gue gabungin dengan budaya populer yang ada di Indonesia. Ya dengan alasan, gue enggak mau menerima mentah-mentah budaya yang dari luar. Gue harus bawa budaya lokal ke dalamnya. Kalau ngomongin ini sebagai karya nasionalis, ya benar juga. Dari situ akulturasi budayanya. Budaya pop luar dan budaya pop lokal gue gabungkan. Jadi sesuatu yang baru. Tapi, gue anggap ini jadi sebuah tribute bagi orang/figur/produk yang kemudian gue respon dalam karya gue. Bukan kritik, ya.” jelas Said panjang lebar.

Sekarang ini, walaupun Kamengski sudah memiliki tim yang berisi 7 orang, ia tetap terus mengasah kepekaannya terhadap lingkungan sekitar, untuk menciptakan karya-karya yang fresh dan bisa dinikmati pelanggan setianya. “Pastinya untuk terus berkarya, gue mengandalkan pengamatan. Misalnya, kita mengamati suatu hal, sadar enggak sadar itu udah menjadi sebuah data untuk kita. Misalnya, jaket pecel lele produk Kamengski. Itu kan gue ngeliat di pinggir jalan. Apakah itu tren? Kan enggak. Jadi enggak melulu yang lagi tren yang gue angkat jadi desain,” kata Said menjawab.

 

Kamengski: Akulturasi Budaya, Perkembangan Desain, dan Pengamatan Budaya Populer
Jaket pecel lele Lamongan sukajan karya Kamengski (Dok. kamengski)
Kamengski: Akulturasi Budaya, Perkembangan Desain, dan Pengamatan Budaya Populer
Topi mangkuk mie ayam oleh Kamengski (Dok. @kamengski_stuff)

Ia juga menegaskan bahwa pengamatan itu tidak hanya dengan melihat sekitar, namun lebih fleksibel dari itu. Said menjelaskan, bahwa ide juga tidak kalah sering ia dapat dari obrolan dengan teman, perbincangan dengan seniman lain, dan lain-lain.

Tapi, bagaimana jika bicara tentang skill? Pasti banyak dari kita yang bertanya-tanya tentang teknik dari yang digunakan oleh Said dan tim Kamengski. Untuk ini, Said menjelaskan dengan tegas. “Ya standar, mau gambar manual, Photoshop dan Ilustrator terserah. Yang penting pengamatannya bagus. Dia harus jeli dan peka. Kuncinya itu kalau metode berkaryanya kayak gue. Jadi yang diandalin yang pertama, pengamatan lo dulu. Baru selanjutnya teknik,” ungkapnya.

“Kalau bicara skill teknik, nantinya pelakunya akan belajar sendiri seiring dia berkarya. Semakin sering dilakuin, semakin sadar dia dengan teknik. Kalau gue bikin karya, gue mau semudah mungkin orang mengerti dengan apa yang mau gue sampein. Bukan ngerti soal teknis rumitnya. Gue mau pesannya gampang diterima. Jadi, kalau ngomongin teknis, gue gak ambil pusing untuk berlama-lama di situ. Malah mendingan gue pikirin banyak ke gagasan atau idenya.” tutup Said sembari menyeruput Jus Stroberi pesanannya.

 

Bagaimana? Sudah siap bersenang-senang sambil membuat bisnis dari apa yang kamu suka?

January 14, 2019
Andrew Suryono: Fotografer National Geographic Pemenang Award
Andrew Suryono adalah seorang fotografer profesional dari National Geographic. Dalam wawancara, ia bercerita tentang...
January 18, 2019
Sabda Armandio: Pentingnya Cara Penyampaian dalam Karya
Sabda Armandio adalah seorang penulis muda yang telah menerbitkan dua karya novelnya dan sedang...