Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Juxtaposisi, Narasi dan Realita versi Agan Harahap

Juxtaposisi, Narasi dan Realita versi Agan Harahap
Kanye West dengan teknik digital imaging Agan Harahap (Dok. Instagram @aganharahap)

Mungkin setidaknya, satu kali saja dari beribu kali kita berselancar di media sosial, kita pernah berpapasan dengan satu karya manipulasi foto–tentu, tanpa sadar bahwa itu adalah sebuah karya digital imaging.

Mungkin foto Leonardo DiCaprio sedang duduk mengenakan baju batik menunggu acara yang terlihat seperti pengajian atau Rihanna sedang ditangkap polisi Indonesia di sebuah sudut klub di tengah ibu kota.

Sampai berkali-kali kita berusaha melebarkan layar gadget untuk melihat apakah ini nyata atau rekaan. Klimaksnya justru di saat kita menyadari bahwa ini adalah sebuah karya manipulasi fotografi yang akhirnya membuat kita sontak sebal sekaligus kagum dengan kreator di baliknya.

Agan Harahap adalah seniman besar yang membuat karya-karya tersebut. Tidak pernah bertujuan untuk menyebar hoax, justru tujuan dari karyanya jauh dari hal negatif itu. “Turut mencerdaskan bangsa,” begitu tulis Agan dalam bio akun Instagram-nya. Agan bukan hanya seniman iseng yang mencari sensasi. Karya-karyanya justru bicara lebih jauh tentang perdamaian, perbedaan dan aspek sosial lainnya. Apalagi jika melihat karya-karyanya yang menyentil keras dunia politik Indonesia.

Jika menilik detail akun media sosial Agan, kita murni terhibur dengan teknik manipulasi foto Agan yang amat halus hingga sulit percaya bahwa karya-karyanya adalah rekaan belaka. Lewat karya Agan, kita belajar untuk lebih jeli dan tajam dalam menyebarkan berita palsu. Lewat karya-karya Agan dalam merespon fenomena sosial, kita diajarkan untuk lebih membuka pikiran dan membayangkan perdamaian yang seharusnya nyata.

Kali ini, kami berkesempatan mewawancarai Agan Harahap. Bermukim di Yogyakarta, Agan hingga sekarang terlihat masih sibuk membuat karya-karya baru dan menggarap pameran. Salah satu karya terbarunya, yaitu I Was A Punk Before You sudah berhasil terpajang dari Bali hingga Berlin. Lewat kesempatan wawancara ini, kami banyak bertanya lebih dalam soal respon-respon penikmat karyanya, konsep, hingga tujuan besar dari seniman digital imaging ini.

Baca Juga: Pio Kharisma: Melawan Rasa Cepat Puas

 

Juxtaposisi, Narasi dan Realita versi Agan Harahap
"I Was A Punk Before You" oleh Agan Harahap
Karya digital imaging membawamu menjadi seorang seniman yang dikenal. Apa yang kamu ingat dari karya pertama yang menjadi viral?

Karya pertama yang viral itu serial Superhero (tahun 2009-2010). Saya memasukkan tokoh-tokoh superhero dalam foto-foto Perang Dunia ke-2. Serial itu lumayan viral di berbagai media digital/ cetak luar negeri yang berujung pada berbagai undangan pameran baik di dalam maupun luar negeri.

Untuk membuat sebuah karya digital imaging, Anda pastinya melewati proses yang tidak bisa langsung berhasil. Adakah hambatan waktu itu?

Hambatan yang terutama adalah karena keterbatasan alat. Sebetulnya saya dulu enggak kepingin bisa digital imaging, maunya jadi fotografer aja biar bisa lekas kaya raya. Tapi karena keterbatasan alat, terpaksa saya menekuni dunia olah digital ini.

Kami yang awam, awalnya tidak familiar dengan karya manipulasi foto. Boleh diceritakan enggak kamu sendiri memulai bentuk karya seperti ini terinspirasi dari mana?

Inspirasi bisa datang dari mana aja. Tergantung wangsit yang menghampiri, hehehe. Inspirasi saya pada awalnya justru datang dari berbagai foto-foto dokumenter dan foto-foto jurnalistik yang jelas lebih mengetengahkan isi ketimbang keindahan.

Saya baca wawancaramu dalam sebuah artikel. Di wawancara itu, Agan mengatakan bahwa selama satu tahun bekerja, kamu banyak memanipulasi karya fotografi. Berarti, kita bicara bahwa digital imaging saat ini sudah hampir bisa mengambil alih fakta. Apakah sebagai seniman, ke depannya kamu akan terus mengembangkan ciri khas ini?

Sampai kapan pun digital imaging tidak akan mungkin bisa mengambil alih fakta. Bagaimana mungkin sebuah bentuk rekayasa bisa-bisanya dijadikan fakta?

Tapi, kalau kita bicara soal kemajuan teknologi digital yang terus berkembang dengan pesat dan semakin maraknya kegiatan manipulasi-manipulasi fotografi secara digital, saya yakin cepat atau lambat, publik akan semakin meragukan akurasi dari realita yang dipresentasikan oleh fotografi.

Bagi karya saya pribadi, narasi itu jadi penting untuk memperkuat image, sekaligus menjadi ‘tameng’ saya ketika berhadapan dengan pihak-pihak yang marah karena terlanjur percaya dengan karya-karya saya.
Juxtaposisi, Narasi dan Realita versi Agan Harahap
Angelina Jolie versi Agan Harahap (Dok. Instagram @aganharahap)

Apakah ke depannya saya akan tetap meneruskan metode ini dalam kegiatan berkesenian saya? Bisa ya, bisa tidak. Karena sejujurnya saya sedang bosan dengan metode ini. Saya lagi dalam tahap ‘mencari wangsit’ untuk membuat karya lain.

Media sosial punya peran penting untukmu karena kontroversi dan tendensinya untuk menjadi viral. Seperti karya terbarumu, yaitu Jokowi dengan model rambut dan dandanan Punk. Apa sebenarnya tujuan Agan sebagai seniman dalam membuat karya seperti itu?

Bagi saya, viral itu adalah konsekuensi. Dan karya-karya saya sebetulnya jauh dari kata kontroversi. Karya “I Was A Punk Before You” itu hanyalah respon saya terhadap fenomena sosial yang terjadi hari ini. Saya merespon perilaku netizen yang selalu ingin menjadi yang terdepan dan tercepat dalam menyebarkan sebuah berita di lingkar sosialnya, tanpa mengerti kebenaran dan dampak dari apa yang disebarkannya. Intinya, tujuan saya ya mencerdaskan bangsa.. hahaha.

Kita dipaksa jeli tiap kali melihat sebuah foto saat ini. Apalagi setelah karyamu tersebar luas. Agan sendiri selalu menambahkan narasi menarik dalam karya (seperti yang dipamerkan dalam ArtJog 2018 lalu). Apakah narasi foto penting untuk seniman digital imaging?

Saya rasa, dari dulu pun kita sudah seharusnya jeli dalam melihat sebuah foto. Karena tiap detail yang ada dalam sebuah foto merupakan satu kesatuan yang menentukan ‘kekayaan’ sebuah karya foto. Penting tidaknya sebuah narasi dalam karya digital imaging itu tergantung keperluannya. Bagi karya saya pribadi, narasi itu jadi penting untuk memperkuat image, sekaligus menjadi ‘tameng’ saya ketika berhadapan dengan pihak-pihak yang marah karena terlanjur percaya dengan karya-karya saya.

Dalam karyamu, ada elemen parodi, sosial dan pop kultur yang menonjol hingga orang yang melihat sering terkagum-kagum. Dalam konsep penggarapannya sendiri, bagaimana biasanya kamu berproses untuk sebuah karya?

Prosesnya sederhana saja. Biasanya sih saya memulainya dengan membuka berbagai akun. Mulai dari akun-akun politik sampai akun Lambe Turah, dkk untuk mengais-ngais inspirasi. Setelah saya mendapatkan secercah wangsit, biasanya langsung saya ‘benturkan’ dengan sesuatu yang kontras yang jauh dari kenyataan. Buat saya, juxtaposisi merupakan resep sederhana yang ampuh dalam berkarya.

Pada akhirnya, semua karya pasti sedikit banyak punya tujuan untuk menghibur siapapun yang melihatnya. Untuk Agan sendiri, apa sih tujuan personal dalam berkarya selain untuk menghibur?

Tidak ada. Buat saya semua itu hanya hiburan. Hiburan bagi orang lain dan yang terutama hiburan bagi diri saya sendiri. Dan saya harapkan karya-karya saya bisa menjadi sebuah medium yang menghibur yang (syukur-syukur) bisa bermanfaat bagi nusa bangsa dan agama. Amen.

Baca Juga: Millen Cyrus: Menyebarkan Hal Positif dengan Menjadi Diri Sendiri

 

Juxtaposisi, Narasi dan Realita versi Agan Harahap
Karya digital imaging Agan Harahap bersama Celine Dion (Dok. Instagram @aganharahap)
December 12, 2018
Comma Books: Harapan Membawa Literatur ke Pelosok Indonesia
Intip obrolan Crafters bersama Comma Books yang membahas pentingnya peran penerbit dalam mengembangkan literatur...
December 14, 2018
Tips Membangun Personal Branding Sebagai Fotografer
Indonesia Creative Meetup kali ini membahas tentang membangun personal branding sebagai fotografer. Nicky Gunawan,...