Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Isa Indra Permana: Fokus Pada Ilustrasi Musik dan Fashion

Isa Indra Permana: Fokus Pada Ilustrasi Musik dan Fashion
Karya personal Isa Indra Permana untuk mengapresiasi musisi favoritnya (Dok. Instagram @isaindrapermana)

Salah satu kesulitan dan tantangan nyata untuk para pelaku industri kreatif, terutama bicara tentang ilustrasi adalah untuk menentukan ketertarikan kita dan mengaitkannya pada pekerjaan dengan spesifik. Oke, jika kita tertarik untuk menjadi seorang ilustrator profesional. Namun, ilustrator yang fokus pada brief seperti apa? Project yang bagaimana?

Semua itu memang butuh waktu, juga proses. Untuk seorang Isa Indra Permana, butuh waktu selama bertahun-tahun. Isa Indra Permana (isapanicmonsta) adalah seorang ilustrator, desainer, dan seniman asal Yogyakarta yang memiliki ciri khas ilustrasi penuh warna dan karakter menonjol. Kita bisa melihat sembari mengagumi karya-karya Isa lewat akun Instagram-nya.

Saya pernah bertemu dan melihat langsung Isa membuat doodle di sebuah kertas kosong. Saat itu, ia sedang gemar menggunakan pulpen bertinta merah dan biru. Dengan mata saya sendiri, saya menyaksikan Isa menggambar dengan lancar, membuat satu objek ke objek lain dengan mulus seakan tanpa perlu berpikir. Tiap-tiap gambar dan perpaduannya bisa menjadi sesuatu yang amat proporsional–seperti ia sudah punya gambaran jelasnya di kepala sebelum menumpahkannya ke kertas. Dan yang paling memukau saya, ia tidak menggunakan sketsa untuk doodle-nya saat itu.

Baca Juga: Roby Dwi Antono: Mempertajam Karya Lewat Teknik Digital dan Manual

Saat itu juga saya bertanya beberapa hal soal caranya menggambar dan ia sama sekali tidak sungkan untuk menjelaskannya. Isa sendiri, sudah pernah menyelenggarakan pameran tunggal perdananya pada tahun 2012 berjudul “2nd World of Pandemonium” di Tirana Artspace, Yogyakarta. Sekarang, setelah bertahun-tahun menggali style dan mencari tahu apa ketertarikannya secara spesifik, ia telah menemukannya.

Baru kemudian setelah terkagum-kagum dengan caranya berkarya, saya memutuskan untuk membagi pelajaran dan kisah Isa sendiri lewat tulisan ini. Lewat karya-karyanya, kita bisa melihat banyak project Isa yang fokus pada tema musik dan fashion. Lebih lanjutnya, silakan langsung menyimak percakapan wawancara ini.

 

Isa Indra Permana: Fokus Pada Ilustrasi Musik dan Fashion
Doodle Isa menggunakan pulpen biru dan merah (Dok. Instagram @isaindrapermana)
Boleh ceritakan kali pertama kamu mengerjakan sebuah project sebagai ilustrator?

Pengalaman pertama kali mengerjakan beberapa ilustrasi untuk merchandise band bergenre ‘punk melodic‘ yang awalnya saya tidak begitu nyaman namun saya jadikan sebagai batu loncatan menuju project ilustrasi lainnya.

Saat ini, fokusmu di bidang ilustrasi apa dan brief seperti apa yang kamu terima?

Saya berfokus pada bidang ilustrasi untuk ranah musik dan fashion. Terkadang brief yang klien berikan masih berupa ‘keywords’ saja (jadi, harus aktif bertanya dan mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan klien) atau bisa berupa materi dengan konsep lengkap beserta referensinya, di mana dengan brief itu bisa menarik kesimpulan untuk selanjutnya dibuat dalam bentuk ‘moodboard & sketch‘.

Selama bekerja sebagai ilustrator, project apa yang paling menantang?

Menggarap project untuk album kedua Bottlesmoker, Parakosmos, yang menurut saya paling menantang. Karena pada pengerjaan album ini, mereka keliling Indonesia untuk merekam kesenian dan alat musik daerah melalui format audio dengan pendekatan etnografi. Nah, hal yang membuat saya sangat semangat mengulik adalah mencoba menangkap atmosfer yang disuguhkan dari ‘beat’ masing-masing lagunya. Mencoba menyuguhkan visual berupa landscape atau portrait wajah yang menggambarkan suasana lagu tersebut. Merancang beberapa simbol untuk mewakili ‘pesan’ yang terkandung di lagu. Selain itu, saya memasukan unsur kesenian adat jawa (Gunungan Wayang) dan belajar kembali menulis huruf Hanacaraka sebagai materi dalam sampul album mereka.

Dengan style-mu yang khas, secara pribadi berapa lama waktu yang kamu butuhkan dan seperti apa prosesnya?

Sekitar 8 tahun saya berproses mengembangkan style sekarang ini, dengan pola ‘amati, tiru, modifikasi’ dari ilustrator yang saya kagumi: James Jean. Mencoba berbagai macam medium seperti watercolor, tinta, dan cat akrilik. Kemudian mengeksplor beberapa banyak karakter imajinatif dari bentuk ‘hybrid’ antara makhluk mitologi dengan objek di sekitar yang menurut saya,’unik’ jika digabungkan (semua saya bukukan di sketchbook tiap tahunnya, hahaha). Tidak sampai di situ sih, saya juga mencoba membuatkan rumah untuk karakter-karakter fiktif ini sebuah ‘imaginarium’, di mana unsur realita dan fantasi berbentuk kolase-kolase yang tergabung jadi satu dengan palet warna yang kontras. Baru di akhir 2017, saya belajar hand lettering yang dikombinasikan dengan ilustrasi.

Kamu sendiri, saat ini, apa yang ingin kamu capai sebagai ilustrator, seniman dan desainer?

Sharing ilmu, proses, dan pengalaman yang pernah saya dapat dari perjalanan menjadi ilustrator karena banyak teman-teman yang ingin berprofesi sebagai ilustrator masih merasa awam tentang dunia ilustrasi. Terutama soal teknis yang mendasar seperti membuat invoice, menentukan timeline kerja, cara berkomunikasi dengan klien, hingga menentukan harga.

Berada dan berkarier di Yogyakarta, apa keuntungan dan kekurangannya untukmu sebagai ilustrator?

Keuntungannya, memiliki ritme kerja yang cenderung ‘selo’ namun disiplin. Dan posisinya Jogja sebagai kota wisata dan pelajar yang memiliki kesempatan bisa ketemu dengan teman-teman ilustrator dari ibu kota yang sering memilih berlibur ke sini (tidak susah membangun jejaring sosial). Kalau untuk kekurangannya ‘terkadang’ jika ada tawaran project dari ibu kota, pricing-nya lumayan menekan dan murah, itu aja sih.

 

Isa Indra Permana: Fokus Pada Ilustrasi Musik dan Fashion
Official merchandise untuk Bottlesmoker karya Isa (Dok. Instagram @isaindrapermana)
Isa Indra Permana: Fokus Pada Ilustrasi Musik dan Fashion
Ilustrasi fashion karya Isa (Dok. Behance Isapanicmonsta)
Sekitar 8 tahun saya berproses mengembangkan style sekarang ini, dengan pola 'amati, tiru, modifikasi' dari ilustrator yang saya kagumi: James Jean. Mencoba berbagai macam medium seperti watercolor, tinta, dan cat akrilik.
Media sosial berhasil menjembatani kita untuk berjejaring. Untukmu, seberapa penting distribusi karya lewat medsos? Dan apa saja yang kamu lakukan untuk terus mencari peluang lewat saluran tersebut?

Media sosial efeknya sangat signifikan untuk karya, karena gampang diakses kapan pun di mana pun. Selain itu, respon langsung terhadap karya serta memudahkan ilustrator untuk pengarsipan dengan fitur “hashtag“. Hal yang saya lakukan adalah dengan membuat personal project sifatnya tematik dan ringan selain sebagai penyaluran untuk karya idealis sekaligus sebagai pancingan untuk menarik calon klien.

Baca Juga: 5 Software untuk Para Ilustrator Pemula

Inspirasi terbesarmu dalam tiap-tiap perkembangan bentuk senimu sendiri siapa saja, dan apakah berpengaruh besar?

Seniman yang menjadi inspirasi saya adalah James Jean dan Yoshitomo Nara. Melihat dari segi keterampilan mengolah berbagai macam bentuk dan medium berkarya, James Jean saya jadikan acuan. Namun untuk gaya bercerita, Nara saya jadikan sebagai inspirasi. Menurut saya, cerita di balik tiap sosok di lukisannya memberi kesan sangat ‘deep’ dan jenaka. Saya mengagumi ‘spirit’-nya berkarya yang beracuan pada memori masa kecil dengan tema bahasan dunia orang dewasa sebagai manifestonya. Musik dan kisah mitologi juga merupakan bahan bakar untuk saya berkarya karena dari sanalah saya mendapatkan cara pandang baru tentang kehidupan, kasih, dan kematian.

Tantangan untuk industri ilustrasi/seni rupa yang kamu hadapi seperti apa selama ini?

Bisa konsisten dalam berkarya, cara berkomunikasi yang baik dan belajar membaca berbagai macam karakter klien, serta mengeksplor berbagai media karya manual merupakan tantangan hingga saat ini untuk saya.

Untukmu pribadi, apa yang kamu harapkan akan terjadi di Industri ilustrasi/seni rupa/desain dalam 5 tahun ke depan?

Harapan yang sederhana sih agar profesi Ilustrator/seniman/desainer sudah bukan lagi menjadi pekerjaan yang asing dan lebih diapresiasi serta tidak dipandang sebelah mata jika dibandingkan dengan profesi yang lainnya. Jadi, saya enggak perlu capek-capek untuk menjelaskan detail scoop pekerjaan seniman/ilustrator/desainer tiap kali kumpul dengan keluarga. Hahaha.

 

Isa Indra Permana: Fokus Pada Ilustrasi Musik dan Fashion
Salah satu karya eksperimen Isa saat ia mencari style pada karya ilustrasinya (Dok. Instagram @isaindrapermana)
January 8, 2019
NKCTHI: Project Personal Marchella FP yang Meledak di Kalangan Millennials
Setelah Generasi 90an, Marchella FP menggarap sebuah project personalnya yang terbit dalam bentuk buku...
January 14, 2019
Andrew Suryono: Fotografer National Geographic Pemenang Award
Andrew Suryono adalah seorang fotografer profesional dari National Geographic. Dalam wawancara, ia bercerita tentang...