Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

David Farrier, Dark Tourist: Tidak Sepadan untuk Sekarat Jika Bisa Menghindarinya!

“I am David Farrier and this trip gets weirder than I ever imagined.”

Pernah dengar kalimat ini terucap di sejumlah opening seri dokumenter Dark Tourist? Jujur, Dark Tourist adalah perkenalan pertama saya via layar ke David Farrier, jurnalis asal New Zealand ini. Pada laman Netflix yang saya telusuri hari Sabtu pagi itu, acara seri dokumenter Dark Tourist muncul di bagian ‘Popular’. Untuk seseorang yang memang bermimpi menjelajahi dunia dan tertarik dengan budaya yang belum pernah saya ketahui, bagaimana bisa saya tidak kepincut?

Budaya, adat dan ritual unik dari seluruh dunia dirangkum David dalam satu season (8 episode) seri Dark Tourist. Untuk seorang jurnalis yang kritis serta penuh pertanyaan dan aksi kejutan, menurut saya David berhasil melewati satu persatu tantangan yang ia hadapi di tiap negara tanpa terkesan acuh atau tidak sopan. Ini penting.

Sebut saja, mulai dari mengunjungi penjara Pablo Escobar (La Catedral) dan bertemu dengan salah satu mantan anak buahnya di Medellin, berkunjung ke hutan bunuh diri di Jepang, bertandang ke salah satu daerah yang menjadi percobaan senjata nuklir dengan radiasi yang sangat besar di Kazakhstan, mencoba ritual voodoo di Afrika hingga mengikuti ritual Ma’Nene di Toraja, Indonesia. David sebagai jurnalis yang dikenal akan investigasinya tentang fenomena-fenomena unik ini, turut menjelajahi, ikut serta dan mencoba sendiri ritual yang ada di tiap-tiap negara yang ia kunjungi.

Keindahan Indonesia memang sudah banyak terbukti memukau siapa saja yang pernah datang dan merasakannya, termasuk turis luar negeri. Hal yang dipelajari dari negara ini bisa dimulai dari beragamnya kultur, adat budaya, hingga hal-hal lain di luar perkiraan, seperti apa pun yang bersinggungan dengan segala yang berbau mistis. Orang-orang tertentu memang, nyatanya, ada yang tertarik dengan hal-hal yang banyak dianggap aneh, di luar nalar dan tabu itu. Tapi, semua kembali lagi ke sudut pandang orang yang melihatnya.

David Farrier, Dark Tourist: Tidak Sepadan untuk Sekarat Jika Bisa Menghindarinya!
David Farrier di Toraja, Indonesia (Dok. Instagram @davidfarrier)

Mengemas sebuah seri dokumenter tentang hal-hal itu tentunya membutuhkan kematangan konsep, pengetahuan yang banyak serta sikap yang baik–tentu saja. Karena, bukan hanya ingin menunjukkan sesuatu kepada siapa pun yang menonton, namun kamu jelas harus bisa menghargai kultur yang amat berbeda dengan apa yang biasa kamu lihat setiap harinya.

“Di Indonesia, aku belajar untuk tidak takut pada kematian,” tulis David Farrier dalam wawancaranya dengan saya. Ya, saya berhasil mewawancarai David!

Keisengan saya ternyata berbuah proses. Saya kebetulan sangat ingin tahu tentang proses David dalam membuat sesuatu. Sering tenggelam dan terpukau dengan tulisan-tulisannya juga, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba peruntungan. Siang itu, saya iseng mengirim direct message ke Instagram David untuk bertanya apakah ia berkenan untuk diwawancara lewat e-mail. Malamnya, di jalan pulang ke rumah naik ojek online, ia membalas bahwa ia bersedia dan saya boleh mengirimkan pertanyaan-pertanyaan saya padanya.

Dengan segala hormat, — maaf ya, Bapak Ojek yang sempat kaget. Mendapat balasan dari David bikin saya langsung ingin cepat sampai rumah dan semangat menonton ulang Dark Tourist untuk merangkai pertanyaan-pertanyaan saya secepat mungkin. Baru kemudian beberapa waktu lalu saya menerima e-mail balasan dari David. Dengan izin dan kepercayaannya, saya diperbolehkan untuk menulis ulang jawaban-jawabannya ke dalam bahasa Indonesia.

Baca Juga: Rahung Nasution: Berbagi Pengalaman Rasa Lewat Visual dan Tulisan

Dalam wawancara, David banyak bercerita tentang riset ketat yang ia lakukan sebelum proses syuting, juga Indonesia sebagai salah satu negara yang selalu ingin ia kunjungi kembali, hingga hal-hal konyol yang bisa saya bayangkan, keluar dari mulutnya.

Apa sih ide awal untuk Dark Tourist? Bagaimana awal mulanya kamu cukup berani untuk memulai seri dokumenter itu?

Aku membuat film dokumenter yang berjudul Tickled pada tahun 2016. Film dokumenter tersebut bercerita tentang conman yang menipu anak-anak muda di seluruh dunia secara online untuk melakukan hal-hal tertentu untuknya. Benar-benar sebuah perjalanan lebih dari dua tahun yang gila dan pada akhirnya aku bisa membawa film tersebut ke Sundance Film Festival, HBO dan kalau tidak salah, Netflix Indonesia–kalau aku tidak salah. Anyway, sebuah produser TV di New Zealand melihatnya dan ternyata menyukainya. Ia juga, 10 tahun lalu memiliki sebuah ide untuk membuat seri tentang dark tourism. Lalu, ia berpikir bahwa mungkin, aku adalah orang yang tepat untuk menggarap seri itu bersamanya.

Dark tourism adalah sebuah istilah untuk sebuah tur yang tidak normal atau bisa dinikmati orang-orang umum. Biasanya dalam tur itu, mereka ingin mencari lebih dalam tentang hal-hal yang menantang/aneh. Beberapa macam dari tempat ini memiliki sisi gelap dari kehidupan seperti kematian, dan lain-lain. Apa yang pada akhirnya kita temukan adalah tempat-tempat ini ternyata tidak sekadar bicara soal kematian, namun ternyata tentang bagaimana seharusnya kita merayakan hidup, seperti yang kami temukan di Indonesia tentunya.

David Farrier, Dark Tourist: Tidak Sepadan untuk Sekarat Jika Bisa Menghindarinya!
Ilustrasi David Farrier oleh Kemas Acil

Anyway, aku menyukai ide tersebut dan mengunjungi tempat-tempat yang beruntung bisa kukunjungi, tempat-tempat seperti Fukushima di Jepang, atau tempat paling terdampak bom nuklir di dunia, yaitu Kazakhstan. Aku merasa sangat beruntung dapat mengunjungi tempat-tempat tersebut sekaligus menginvestigasi dark tourism di dunia.

Mari bicarakan celana pendek warna pink bergambar nanas yang sering kamu gunakan di seri Dark Tourist. Aku benar-benar menyukainya. Ada cerita di baliknya? Apakah kamu punya stylist sendiri atau everyday is your own runway?

Ha, terima kasih! Aku menyukai celana pendek tersebut, seperti yang bisa kamu lihat, karena aku sering mengenakannya dalam Dark Tourist! Aku tidak punya stylist--aku tidak seterkenal itu!! Dan di dalam Dark Tourist aku hanya mengenakan pakaian yang memang biasanya aku kenakan sehari-hari. Orang yang kamu lihat di Dark Tourist itu adalah aku yang sebenarnya–aku memang sering mengenakan pakaian-pakaian dengan warna terang dan penuh warna–bahkan di tempat-tempat yang tidak sepenuhnya terlihat normal. Aku rasa sangat penting untuk selalu menjadi dirimu sendiri!

Dari semua pengalamanmu di Dark Tourist, jika kamu punya kesempatan untuk melakukannya lagi, episonde mana dan mengapa?

Aku benar-benar ingin mengunjungi kembali dua tempat: Jepang dan Indonesia. Aku tidak bicara begitu hanya karena kamu dari Indonesia! Tapi, sebenar-benarnya, aku merasa orang-orang di dua negara ini sangat baik dan memiliki antusiasme yang tinggi. Salah satu teman baikku, seorang seniman, Ayahnya tinggal di Bali, jadi aku ingin suatu saat dapat mengunjunginya. Dan juga, seorang teman musisiku bernama Amelia, orang Indonesia–nama ‘panggungnya’ adalah Fazerdaze. Ia telah mengunjungi Indonesia beberapa kali dan orang-orang Indonesia itu benar-benar menyukai musiknya. Aku juga ingin melihat Amelia bermusik untuk penonton dari daerah asalnya. It’s not very dark, tapi aku ingin melihatnya.

Kami ingin mendengar insights-mu soal membuat konsep yang baik dari Dark Tourist. Menurutmu, apa yang paling penting dilakukan sebelum menjadi berani menggarap sesuatu?

Melakukan riset yang banyak, mengetahui apa yang akan kamu lakukan sebanyak-banyaknya sebelum kamu hadir/datang di tempat tersebut. Hal ini juga termasuk mendapatkan orang-orang yang bisa membantumu–orang lokal yang mengerti apa yang sedang terjadi. Dengan begitu, kamu bisa menjadi lebih sensitif dengan pengetahuan dan adat lokal, karena hal terakhir yang ingin kamu lakukan adalah membuat kesalahan atau berlaku tidak sopan. Rasa hormat adalah kunci. Jadi, lakukan riset, cari teman yang tepat di tempat-tempat yang akan kamu kunjungi sebelum kamu datang ke sana. Jika bicara tentang acara seperti Dark Tourist, semuanya masalah teamwork. Salah satu bagiannya adalah untuk membuat tim kami di New Zealand bekerja sama dengan baik dengan tim di daerah-daerah lain yang akan kita kunjungi, seperti Toraja.

Kamu juga seorang jurnalis yang keren! Aku membaca banyak tulisan-tulisanmu lewat website. Dari artikel-artikel yang berani, dan kadang NSFW itu, apa hal yang saat ini telah kamu capai dan apa yang kamu butuhkan?

Terima kasih untuk pujiannya, hahaha! Aku rasa selama ini misi terbesarku adalah untuk investigasi Tickled, membuat film yang butuh bepergian (selain New Zealand) ke Los Angeles dan New York. Aku juga membutuhkan waktu yang cukup untuk menulis di davidfarrier.com, yaitu sebuah artikel investigasi tentang Artificial Intelligence palsu yang disebut “Zach”, yang digunakan oleh dokter-dokter di New Zealand. Tulisan ini membutuhkan banyak perizinan legal. Untuk menulis sebuah artikel, seri atau film, aku membutuhkan banyak waktu dan riset, tentunya!

Untuk mendekati narasumber yang cukup berbahaya dalam Dark Tourist, apa yang biasanya dilakukan oleh timmu? Apakah kamu punya bodyguard yang bertanggung jawab?

Ada beberapa hal yang bisa menjagamu. Pertama, cameraperson–orang yang menemanimu selama shooting pastinya akan membantu menjagamu. Juga, biasanya aku bersama seorang lokal yang membantuku dan bisa berkomunikasi dengan bahasa yang dibutuhkan. Kadang juga, kami membawa security–memang jarang, tapi jelas di beberapa tempat yang memang membutuhkan seorang penjaga. Tidak sepadan untuk sekarat jika kamu bisa menghindarinya!

Dari ketertarikanmu sendiri, kamu pasti sadar bahwa ada beberapa batasan-batasan yang ada di beberapa kultur atau ritual tertentu. Bagaimana kamu bisa tahu saatnya untuk berhenti, mengatakan tidak atau, at least, “run for your life”?

Jelas untuk mendengarkan baik-baik orang lokal yang bekerja bersamamu. Mereka lebih tahu tentang hal itu, maka kamu cenderung akan mendengarkannya. Untuk kasus seperti Popeye, anak buah Pablo Escobar, kamu harus dapat membaca situasi dan terus aware dengan apa yang ia lakukan. Aku yakin, begitu juga sebaliknya. Selama shooting, kami terus melihat satu sama lain dan berusaha membaca situasi yang kita hadapi saat itu. Tapi, bagaimanapun juga, melakukan hal seperti berenang di danau yang terkontaminasi nuklir dan menyantap seekor ikan dari danau itu…adalah hal yang konyol. Seharusnya aku tidak melakukan hal itu. Sometimes though, you just have to go for a swim on a hot day!

Baca Juga: Gunawan Maryanto: Sastra, Menulis dan Libatan Khasanah Budaya Jawa dalam Karya

 

David Farrier, Dark Tourist: Tidak Sepadan untuk Sekarat Jika Bisa Menghindarinya!
David Farrier dan Popeye, mantan anak buah Pablo Escobar di Medellin (Dok. Instagram @davidfarrier)
Aku belajar bahwa bahkan di tengah-tengah perjuangan dan masa sulit, manusia bisa menjadi sangat baik dan tegar. Memang, banyak hal buruk yang terjadi di luar sana--namun, kita perlu selalu ingat tentang keramahan dan keindahan manusia.
Mari bicarakan soal Indonesia. Di kunjunganmu ke Toraja, kamu menemukan salah satu kultur Indonesia yang unik (aku janji, kamu bisa menemukan banyak kultur menarik lainnya di daerah Indonesia yang lain). Apakah kamu menikmati kunjunganmu? Bagian mana yang enggak bisa kamu lupakan sampai sekarang?

Aku suka sekali kunjunganku ke Indonesia. Bagian yang aku suka adalah kenyataan bahwa kematian adalah hal yang sangat dihormati dan tidak ditutup-tutupi di sana. Anak-anak kecil dan orang dewasa menyadari betul arti kematian untuk mereka. Dan hal yang mereka lakukan untuk menghormati leluhur mereka sangatlah indah. Aku merasa sangat terhormat dan beruntung untuk menjadi salah satu bagian dari ritual mereka.

Di timur, kami cenderung mengubur dan melupakan kematian. Menurutku, bisa jadi hal ini sebenarnya tidak sehat. Dan di saat aku di Indonesia, aku merasa cukup kesulitan menyaksikan bagian saat mana hewan-hewan dikurbankan, namun aku sangat menghargai kenyataan bahwa tidak ada daging yang terbuang dan semua orang ikut serta dalam ritual tersebut. Aku merasa kita harus mengerti dan mengetahui dari mana makanan kita berasal… jangan hanya membeli burger bodoh dari McDonalds. Aku memiliki hormat yang sangat tinggi untuk orang-orang di sana, dan hormat yang mereka berikan kepada kami sangatlah berharga. Aku merasa sangat beruntung–juga sedikit mual karena medan jalanan yang berbatu!

 

David Farrier, Dark Tourist: Tidak Sepadan untuk Sekarat Jika Bisa Menghindarinya!
David Farrier mengikuti ritual Ma'Nene di Toraja, Indonesia dalam Dark Tourist (Dok. Instagram @davidfarrier)
Kalau kamu punya kesempatan (dan aku harap kamu mendapatkannya) untuk pergi ke daerah mana pun di Indonesia, kultur atau ritual apa yang menarik perhatianmu?

Aku tertarik dengan keunikan Pasola di Sumba, sebuah pertandingan yang terus berlangsung. Aku hanya pernah mendengar ini di suatu tempat, jadi, aku ingin melakukan riset dulu. Namun jujur, aku ingin pergi dan menyaksikannya sendirian, untuk menikmati musik lokal dan bertemu dengan orang-orang di sana yang mungkin sudah pernah menonton Dark Tourist dan menanyakan rekomendasi mereka tentang tempat-tempat rekomendasi mereka. There are so many hidden gems there.

Pertanyaan terakhir, dari seluruh episode Dark Tourist, film Tickled dan tulisan-tulisanmu, apa yang bisa kamu pelajari?

Aku belajar bahwa bahkan di tengah-tengah perjuangan dan masa sulit, manusia bisa menjadi sangat baik dan tegar. Memang, banyak hal buruk yang terjadi di luar sana–namun, kita perlu selalu ingat tentang keramahan dan keindahan manusia. Aku sangat beruntung untuk mendapatkan kesempatan bepergian dan bertemu banyak orang. Aku menyukai kenyataan bahwa kita semua menjalani kehidupan yang begitu berbeda dan hal-hal berbeda yang bisa saling kita pelajari. Seperti di Indonesia, aku belajar untuk tidak takut pada kematian.

 

David Farrier, Dark Tourist: Tidak Sepadan untuk Sekarat Jika Bisa Menghindarinya!
David Farrier mengikuti ritual voodoo di Afrika (Dok. Instagram @davidfarrier)

Ilustrasi foto feature oleh @kemasacil

November 2, 2018
5 Akun Instagram Seru untuk Bacaan Akhir Pekan
Bingung memutuskan kegiatan akhir pekan? Mungkin 5 akun Instagram ini bisa menjadi bacaan menyenangkan...
November 8, 2018
Rain Chudori: Terjun Langsung Mengembangkan Industri Sastra
Rain Chudori, penulis muda yang akhirnya memutuskan untuk membuat penerbitan di bawah KPG, The...