Crafters

Portal konten yang fokus mengangkat beragam hal seputar industri kreatif. Mulai dari wawancara, laporan khusus, sampai tips dari para kreator yang berkarya di bidang seni, kebudayaan, bisnis kreatif, dan teknologi.

Melalui Crafters, kami ingin memberikan kontribusi untuk perkembangan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dikelola oleh

Sign up to receive bi-weekly creative inspiration, delivered directly to your inbox!

Andrew Suryono: Fotografer National Geographic Pemenang Award

Sering terlintas, soal pertanyaan seperti apakah proses kreatif yang dilalui seorang fotografer alam/nature/landscape. Anehnya, tiap kali melihat hasil fotografi dari ranah tersebut, kita bisa merasakan elemen personal yang kuat namun selalu bisa dinikmati tanpa usaha banyak.

Membayangkan proses mengabadikan gambarnya saja bisa membuat kita berandai-andai untuk travelling ke tempat-tempat menarik di tiap irisan dunia. Daripada terus bertanya-tanya sendiri, Crafters kali ini mendapatkan kesempatan untuk ngobrol dengan Andrew Suryono, seorang fotografer National Geographic yang telah bekerja di sana sejak tahun 2016 dan telah mendapatkan berbagai pengalaman serta penghargaan di luar negeri.

Andrew sendiri hingga saat ini masih terus belajar, mengembangkan teknik-teknik fotografinya. Ia juga telah menulis sebuah buku yang berjudul Traffic Light Photography System yang ditujukan untuk para fotografer berkembang yang ingin mengerti proses-proses fotografi andalan seorang Andrew Suryono.

Dalam wawancara, kami juga bicara tentang perjalanan, prestasi, kritik dan impian Andrew untuk memotret beberapa keindahan alam di dunia. Ia juga, memberi tips dan saran untuk para fotografer yang siap terjun ke industri fotografi lewat beberapa cara dari pandangannya.

Andrew Suryono: Fotografer National Geographic Pemenang Award
(Dok. Andrew Suryono)
Bagaimana cerita awal tertarik dengan fotografi?

Sebenarnya saya belajar fotografi secara tidak sengaja. Saya ceritakan dari awal.

Saya kuliah jurusan teknik industri di Amerika dan lulus dari salah satu Universitas terbaik di sana. Setelah lulus, saya mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan besar di Amerika. Life was all set, saya pikir. Saya pikir hidup saya bakal seperti ini sampai saya tua nanti. Ternyata, setelah bekerja di dunia korporasi selama hanya 6 bulan, saya merasa bekerja di dunia korporasi bukan jalan hidup yang ingin saya tempuh. Saya merasa konyol kalau harus menghabiskan waktu hidup saya bekerja di dalam kantor, di depan komputer, setiap hari mulai dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Rutinitas ini seperti penjara bagi saya dan lama kelamaan ini sangat membosankan!

Karena bosan, saya mulai belajar tentang e-Commerce di waktu luang karena saya ingin bekerja secara mandiri nantinya. Di pelajaran e-Commerce itu disebut bahwa foto adalah elemen yang paling penting yang bisa membantu penjualan barang.

Mulailah saya belajar tentang fotografi secara sederhana; beli tripodlightbox dan pocket camera. Saya belajar tentang pencahayaan, white balanceexposure dan komposisi untuk membuat produk yang saya jual lebih menarik. Bagi saya hal-hal teknis di fotografi cukup mudah dimengerti karena saya memiliki background teknik. Selama proses pembelajaran fotografi ini, saya sangat senang dan merasa punya passion yang kuat di sini.

Baca Juga: Andy Fanfani: Ekspresikan Emosi Lewat Foto Hitam Putih

Mulailah saya tertarik untuk mengaplikasikan skill baru saya di luar product photography. Saya memakai ilmu baru saya untuk memfoto keluarga, landscapeeventtravel dan apa pun yang bisa saya temukan! Di sini saya benar-benar keasyikan. Belajar fotografi bukan suatu beban bagi saya melainkan hobby yang membuat saya rileks dan senang setelah bekerja. Kebanyakan saya belajar secara autodidak, tapi saya pernah sekali ambil kelas fotografi di Amerika karena saya ingin mendalami digital editing.

Lama kelamaan skill fotografi saya terus meningkat secara tidak saya sadari karena saya selalu happy belajar, punya passion yang kuat dan rajin praktek. Setelah menguji skill saya di fotografi dengan memenangkan banyak penghargaan internasional, saya putuskan untuk menjadikan fotografi full-time career saya. Sekarang saya terus melakukan publikasi internasional dan mengajar fotografi. Saya memiliki murid dari berbagai negara mulai dari Indonesia, Belanda, Australia, dan Amerika.

 

Andrew Suryono: Fotografer National Geographic Pemenang Award
Buku dari pameran foto Andrew Suryono di Amerika (Dok. Andrew Suryono)
Alat terpenting adalah visi saya. Jika tidak ada visi ini, punya kamera paling mahal pun tidak akan bisa menghasilkan karya yang indah.
Bagaimana cerita awal saat menjadi fotografer di National Geographic?

Awalnya saya suka membaca buku dan majalah National Geographic sebagai sumber inspirasi saya. Selain foto-foto yang luar biasa, saya suka mission statement mereka: “We believe in the power of science, exploration and photography to change the world.” Sambil terus belajar dan berlatih fotografi, mimpi saya adalah suatu hari foto saya bisa dipublikasikan oleh National Geographic bersama dengan fotografer-fotografer ternama lainnya.

Mimpi ini menjadi kenyataan di tahun 2016. Di tahun ini, saya menerima penghargaan “Honorable Mention” di kompetisi internasional National Geographic dengan foto saya “Orangutan in The Rain.” Berita ini sempat membuat dunia internet di Indonesia heboh. Metro TV sempat mewawancarai saya, live on TV, tentang kemenangan saya di kompetisi National Geographic ini.

Di akhir tahun 2018 mimpi indah itu menjadi semakin luar biasa. Setelah mendapat banyak respons positif dari pelanggan, National Geographic mengontak saya lagi. Kali ini mereka memutuskan untuk mengajak saya kerja sama untuk menjual foto saya di seluruh galeri foto mereka di Amerika. Mereka mempunyai 9 galeri foto di sana dan semuanya terletak di kota-kota besar seperti New York, Las Vegas, Florida dan Hawaii.

Akhir November 2018, National Geographic mengundang saya untuk mengadakan acara Meet and Greet (jumpa fans) di 3 galeri mereka di Amerika di Las Vegas, Laguna Beach dan La Jolla. Di acara tersebut saya diminta untuk bercerita tentang foto saya, perjalanan fotografi, memberikan tanda tangan untuk fans dan menulis dedikasi kepada pelanggan yang membeli foto saya. Foto saya dijual cukup mahal dengan harga mulai dari USD 5.000. Pada event tersebut, saya merasa seperti selebriti di sana.

Saya bangga sekali setelah mengetahui 3 hal ini setelah acara tersebut:

  • Saya adalah orang Indonesia pertama yang fotonya berhasil masuk di galeri National Geographic Amerika
  • Foto “Orangutan in The Rain” saya adalah satu-satunya foto dari Indonesia di sana dan memecahkan rekor penjualan foto tercepat
  • Saya orang Indonesia pertama yang diundang untuk mengadakan meet and greet oleh National Geographic

Foto-foto event bisa dilihat di website saya di http://www.andrewsuryono.com/News. Sepertinya dengan event tersebut, National Geographic sudah membuat saya lebih terkenal di Amerika daripada di Indonesia.

Ke depannya saya akan melanjutkan kerja sama dengan National Geographic dalam bidang edukasi fotografi dan eksplorasi banyak destinasi di Indonesia.

Bagaimana proses kreatif sebagai fotografer di Nat Geo?

Saya sering sekali mendapatkan pertanyaan ini. Mungkin orang-orang di sini sering berpikir ada “channel” khusus untuk bisa masuk ke National Geographic. Sayangnya, jawabannya adalah tidak ada.

National Geographic punya cara yang unik sekali untuk menemukan fotografer. Mereka sendiri yang akan mengontak fotografernya kalau mereka menilai karyanya cukup baik untuk dipublikasikan dan fotografernya cukup solid secara keseluruhan. Kalau ingin menampilkan karyanya, fotografer bisa meng-upload foto mereka ke bagian Your Shot di website National Geographic.

Tetapi National Geographic bukan hanya melihat dari situ saja. Mereka juga melihat website portfolio sang fotografer (website resmi, bukan akun sosial media), kemampuan presentasi sang fotografer dan seberapa dalam pengetahuan sang fotografer tentang subjek yang di foto. Banyak fotografer National Geographic memulai karier dari bidang yang tidak ada hubungannya dengan fotografi dan banyak sekali yang memiliki gelar sarjana bahkan sampai S3.

Ini menunjukkan bahwa kemampuan lain seperti presentasi dan pengetahuan yang mendalam tentang subjek yang difoto adalah elemen yang sangat penting jika ingin bekerja sama dengan National Geographic.

 

Andrew Suryono: Fotografer National Geographic Pemenang Award
Raingkaian acara pameran foto Andrew (Dok. Andrew Suryono)
Sebagai fotografer senior di tanah air dan mendapat berbagai penghargaan, menurutmu, apa saja peluang di industri fotografi zaman sekarang ini?

Ke depannya, akan semakin banyak pasar-pasar niche market yang akan membutuhkan jasa fotografi. Jika kita perhatikan, di era digital ini orang mulai dari lahir sampai meninggal perlu fotografi. Ada newborn photographer yang mengambil momen saat bayi baru lahir dan ada event photographer yang mengambil momen perpisahan dengan keluarga saat ada yang meninggal.

Melihat hal itu, saya rasa banyak sekali peluang yang ada di dunia fotografi di era digital ini. Yang terpenting untuk sukses di masa depan adalah memilih pasar niche market dan menonjolkan style atau keunikan kita sebagai fotografer di sana.

Contohnya, di pasar wedding photography ada pasar yang lebih kecil lagi seperti destination wedding photography (fotografi khusus untuk pasangan yang weddingnya di luar negeri). Destination wedding photography ini adalah pasar niche market.

Setelah memilih pasar niche market yang kita sukai, kita harus membuat style yang unik untuk pasar tersebut. Jangan lompat dari satu pasar ke pasar yang lain. Cari satu pasar niche market dan jadilah yang nomor satu di sana.

Kritik untuk industri fotografi di Indonesia saat ini? Terutama fotografi landscape?

Petama, find the story behind the picture. Kebanyakan orang foto hal yang mereka merasa unik / indah tetapi jika ditanya apa cerita di balik foto itu akhirnya diam tanpa kata-kata. Cerita di balik foto itu seringkali lebih penting daripada foto itu sendiri. Foto adalah pemancing yang baik untuk membuat orang tertarik dengan cerita kita.

Yang kedua, jangan terlalu terpaku sama merek kamera dan membeli peralatan fotografi untuk gengsi. Banyak orang membeli peralatan foto yang mahal untuk dipamer2kan. Sebenarnya itu konyol dan tidak ada gunanya karena pada akhirnya yang dilihat adalah hasil akhir fotonya, bukan alatnya.

Apakah peralatan fotografi yang harus dimiliki sebagai fotografer landscape profesional?

Alat terpenting adalah visi saya. Jika tidak ada visi ini, punya kamera paling mahal pun tidak akan bisa menghasilkan karya yang indah. Kamera brand yang saya gunakan cukup bermacam-macam. Saya menggunakan Sony, Olympus, dan Leica. Kapan saya gunakan kamera tersebut tergantung dari situasi dan kondisi.

Kalau ingin memilih kamera, pilihlah yang sesuai dengan visi kamu. Tidak ada kamera atau merek yang sempurna. Sebuah kamera mungkin cocok untuk fotografi street/journalism tetapi belum tentu cocok untuk foto landscape. Luangkan waktu untuk mengetahui lebih banyak tentang kamera dan teknologi yang ada.

Ketertarikan dalam memotret alam dengan segala keindahan dan momennya selalu tersampaikan lewat hasil fotomu. Apakah sebelum memotret, ada proses personal yang selalu dilakukan?

Ada dan proses ini saya tulis di buku saya “Traffic Light Photography System” secara detail. Saya beri ringkasannya di sini.

Pertama adalah pembentukan visi. Kita harus mempunyai visi sebelum kita memencet tombol di kamera. Kita harus tahu apa yang ingin kita sampaikan dengan foto kita. Setelah itu, kita gunakan elemen-elemen visi seperti komposisi dan pencahayaan untuk menyampaikan pesan kita dalam sebuah foto.

Kedua adalah menyalurkan visi ke alat fotografi. Setelah kita tahu visi kita, kita harus bisa menggunakan alat untuk menyalurkan visi kita ke dalam sebuah foto. Untuk bisa menyalurkan visi, kita harus paham tentang teknik dan pengoperasian kamera. Kita harus bisa menentukan variabel-variabel seperti apertureshutter speed, iso dan metering saat pengambilan foto.

Yang ketiga adalah mengkomunikasikan hasil karya kita dengan baik dan tepat. Setelah foto kita buat, kita harus bisa bercerita mengenai foto ini. Apa yang membuat foto ini perlu diperhatikan? Apa cerita di baliknya? Kebanyakan orang memfoto hal yang mereka merasa unik/indah tetapi jika ditanya apa cerita di balik foto itu akhirnya diam tanpa kata-kata. Cerita di balik foto itu seringkali lebih penting daripada foto itu sendiri. Foto adalah pemancing yang baik untuk membuat orang tertarik dengan cerita kita.

Baca Juga: Raja Siregar: Pentingnya Membangun Cerita di Balik Foto Fashion

 

Andrew Suryono: Fotografer National Geographic Pemenang Award
Acara Meet and Greet Andrew Suryono untuk mengapresiasi karya fotografinya (Dok. Andrew Suryono)
Sebagai fotografer yang banyak menginspirasi orang, adakah tips untuk para fotografer pemula yang sedang merintis karier?

Yang pertama adalah temukan visi kamu yang unik. Hal ini tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Untuk menemukan visi ini, kamu harus belajar dari banyak fotografer dan menganalisa mereka. Selain itu harus banyak latihan dan praktik. Dua hal inilah yang bisa membantu menemukan visimu.

Kedua, kuasai teknik fotografi dengan benar. Pastikan kamu tahu secara detail setting-setting apa saja yang harus diperhatikan dan kapan harus memakainya.

Ketiga, belajarlah untuk menemukan cerita di balik sebuah foto. Ini yang akan membuat fotomu bernilai.

Adakah keindahan alam di Indonesia serta dunia yang ingin sekali difoto?

Banyak sekali di Indonesia dan di dunia. Kalau di Indonesia, saya ingin pergi ke Tana Toraja, Tanjung Puting dan Wae Rebo. Sudah dalam list saya, hanya tinggal tunggu waktu saja.

Kalau di dunia, saya ingin ke Antartika dan Afrika Selatan. Ke Antartika harus menunggu pengumpulan modal karena biaya cukup besar. Ke Afrika Selatan menunggu saya tidak ada jadwal travel ke mana-mana selama 6 bulan (karena kalau setelah travel ke sana akan cukup sulit untuk traveling ke negara lain selama 6 bulan ke depan).

 

Andrew Suryono: Fotografer National Geographic Pemenang Award
Dok. Andrew Suryono
January 8, 2019
Isa Indra Permana: Fokus Pada Ilustrasi Musik dan Fashion
Wawancara dengan Isa Indra Permana (Isapanicmonsta) soal perkembangan karyanya, industri yang ingin dituju, dan...
January 15, 2019
Kamengski: Akulturasi Budaya, Perkembangan Desain, dan Pengamatan Budaya Populer
Konseptor di balik Kamengski, Sulaiman Said bicara dengan Crafters soal akulturasi budaya, perkembangan desain...